Angka itu muncul lagi. Rp17.500 per dolar AS — level yang terakhir kali kita lihat bukan di grafik Bloomberg, melainkan di halaman depan koran-koran yang terbit saat Jakarta masih diselimuti asap kerusuhan Mei 1998.
Bedanya waktu itu ada Habibie. Seorang insinyur aeronautika yang tidak pernah belajar ilmu ekonomi secara formal, tapi entah bagaimana berhasil menyelamatkan rupiah dari jurang yang sama. Dan dalam 17 bulan masa pemerintahannya yang singkat — sering dianggap remeh oleh sejarahwan politik — ia membuktikan bahwa kepanikan ekonomi bisa dikelola, asalkan ada kepercayaan.
Pertanyaannya sekarang: pelajaran apa yang bisa kita tarik dari 1998, dan seberapa relevan resep Habibie untuk krisis nilai tukar yang sedang kita hadapi di 2026?
Dua Angka yang Sama, Dua Krisis yang Berbeda
Untuk memahami kenapa perbandingan ini penting, kita perlu jujur dulu soal perbedaannya.
Pada tahun 1998, Indonesia mengalami krisis moneter yang parah, dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang anjlok hingga mencapai Rp16.800 per dolar AS pada bulan Mei 1998. Tapi ini bukan sekadar angka kurs. Di baliknya ada sistem perbankan yang hampir runtuh total, inflasi yang melampaui 70 persen, pertumbuhan ekonomi minus 13,13 persen, dan ribuan orang turun ke jalan menuntut Soeharto mundur. Rupiah bukan hanya melemah — rupiah kehilangan alasan untuk dipercaya.
Kondisi 2026 secara struktural jauh berbeda. Menurut Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia, Banjaran Surya Indrastomo, pelemahan rupiah kali ini tidak mencerminkan kelemahan fundamental ekonomi domestik. Penyebab utamanya adalah tekanan eksternal yang kuat — tingginya suku bunga di AS menjadi faktor pendorong utama terjadinya arus modal keluar dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61% secara year on year, dan Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD 3,32 miliar pada Maret 2026. Angka-angka ini bukan ciri sebuah ekonomi yang kolaps. Tapi pasar tidak selalu peduli pada data fundamental — ia juga bereaksi terhadap persepsi, sinyal kebijakan, dan kepercayaan.
Inilah justru titik temu yang paling relevan antara 1998 dan 2026: kepercayaan.
Tiga Resep Habibie yang Sering Dilupakan
Habibie bukan ahli ekonomi. Ia terkenal karena pesawat N250, bukan karena teori moneter. Tapi mungkin justru karena itu, pendekatannya terhadap krisis ekonomi bersifat engineering — cari titik kritis, stabilkan, lalu bangun kembali kepercayaan.
Pertama: memotong bunga melalui SBI. Habibie menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan menawarkan bunga tinggi untuk menarik kembali kepercayaan masyarakat terhadap bank. Tujuannya sederhana: mengurangi peredaran uang di masyarakat dan mendorong masyarakat untuk menabung. Kebijakan ini membuahkan hasil — suku bunga yang semula mencapai 60 persen perlahan turun menjadi belasan persen.
Kedua: restrukturisasi perbankan. Lewat kebijakan ini, beberapa bank di-merger untuk menjadi bank baru yang kuat dari sisi pendanaan — salah satu hasilnya adalah Bank Mandiri. Ini bukan kebijakan populer. Menutup dan menggabungkan bank berarti ada pihak yang kehilangan aset dan kendali. Tapi Habibie menjalankannya.
Ketiga — dan ini yang sering diabaikan — ia menjaga harga barang pokok. Habibie menahan kenaikan harga listrik dan BBM bersubsidi agar harga bahan pokok tetap terjangkau. Kebijakan ini dianggap sebagai langkah krusial untuk menjaga kestabilan sosial. Di tengah krisis, masyarakat tidak hanya butuh angka kurs yang membaik — mereka butuh bisa makan hari ini.
Dan yang paling struktural: di bawah kepemimpinan B.J. Habibie, UU No. 23 Tahun 1999 yang memberikan independensi kepada Bank Indonesia disahkan, sehingga memungkinkan lembaga tersebut untuk fokus menjaga stabilitas moneter secara independen. Undang-undang inilah yang membuat Bank Indonesia yang kita kenal sekarang — institusi yang bisa menaikkan atau mempertahankan suku bunga tanpa tekanan langsung dari presiden.
Rupiah sempat menyentuh level Rp16.800/USD, tetapi kepercayaan publik yang tumbuh mampu menguatkan nilai tukar rupiah ke level Rp6.500/USD. Kondisi pertumbuhan ekonomi membaik menjadi 0,79 persen pada 1999, naik dari 1998 yang sempat minus 13,13 persen.
Dari jurang ke pemulihan, dalam kurang dari setahun. Oleh seseorang yang bukan ekonom.
Apa yang Sedang Terjadi di 2026
Rupiah menembus Rp17.500 per dolar pada 12 Mei 2026. Pelemahan rupiah diperparah dengan rilisnya hasil rebalancing indeks dari Morgan Stanley Capital International (MSCI), di mana sebanyak 6 saham Indonesia terdepak dari Global Standard Index, dan sebanyak 13 saham terdepak dari Global Small Cap Index.
Menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Pendiri/Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), per April hingga Mei 2026, cadangan devisa terus mengalami tren penurunan, menyentuh angka terendah sejak pertengahan 2024. Penurunan cadangan devisa itu membatasi ruang gerak Bank Indonesia untuk melakukan intervensi pasar secara agresif guna menstabilkan rupiah.
Cadangan devisa Bank Indonesia di empat bulan pertama 2026 sudah dikuras sebanyak USD 10,27 miliar. Bloomberg mengingatkan bahwa tergerusnya cadangan devisa bisa meningkatkan risiko penurunan rating kredit Indonesia oleh institusi dunia seperti Fitch dan Moody's.
Pemerintah sudah bergerak. Pemerintah mewajibkan eksportir SDA menempatkan devisa hasil ekspor (DHE) di perbankan dalam negeri, khususnya bank-bank yang tergabung dalam Himbara, dan sebagian dana harus dikonversi ke rupiah dengan batas maksimal 50%. Langkah ini punya logika yang sama dengan resep Habibie: tambah pasokan dolar di dalam negeri, kurangi tekanan pada rupiah.
Tapi ada masalah yang tidak ada obat regulasinya: kepercayaan investor yang mulai tergerus. Ketidakpercayaan terhadap kebijakan fiskal akhirnya memicu capital outflow atau larinya modal asing keluar dari Indonesia, yang secara otomatis memberikan tekanan ganda bagi pergerakan nilai tukar rupiah. Dana asing yang menguap dari pasar modal mencapai lebih dari Rp40 triliun dari Januari hingga Mei 2026.
Pelajaran yang Bisa Kita Pinjam — dan Yang Tidak Bisa
Ada yang bisa kita pinjam dari buku pedoman Habibie. Dan ada yang tidak relevan lagi karena konteksnya berbeda.
Yang masih relevan:
Sinyal kebijakan yang konsisten. Habibie berhasil memulihkan kepercayaan bukan hanya lewat kebijakan teknisnya, tapi karena pesan yang ia sampaikan kepada pasar terasa meyakinkan. Peneliti INDEF menegaskan bahwa BI, Kemenkeu, dan KSSK perlu memberikan sinyal yang positif — bukan yang hanya narasi. Sinyal dan narasi memang berbeda. Sinyal punya konsekuensi; narasi bisa diragukan.
Stabilitas harga untuk masyarakat bawah. Rupiah di Rp17.500 berarti harga barang impor naik, bahan baku industri mahal, dan daya beli masyarakat tergerus. Menjaga inflasi tetap terkendali bukan pilihan teknis — ini adalah kewajiban sosial.
Kemandirian Bank Indonesia. Ini warisan terbesar Habibie. Tapi ironisnya, Presiden Prabowo baru-baru ini mengkritik Gubernur Perry Warjiyo atas kelemahan rupiah sambil mendukung tujuh langkah baru, termasuk aturan valas yang lebih ketat dan penyesuaian likuiditas. Kritik terbuka dari kepala negara kepada gubernur bank sentral — sesuatu yang Habibie justru hilangkan dengan memberi BI independensinya — adalah sinyal yang bisa dibaca pasar sebagai ketidakstabilan.
Yang tidak bisa dicopas dari 1998:
Krisis 1998 memungkinkan kebijakan drastis karena Indonesia sedang di titik nol — tidak ada yang bisa hilang lagi. Di 2026, Indonesia punya ekonomi yang masih tumbuh 5,61%, punya cadangan devisa USD 146,2 miliar (lebih dari cukup secara standar internasional), dan punya sistem keuangan yang jauh lebih matang. Ruang untuk kebijakan "guncangan besar" jauh lebih sempit, dan dampak kesalahannya jauh lebih kompleks.
Kepercayaan Adalah Mata Uang yang Sesungguhnya
Habibie pernah berkata bahwa ekonomi seperti pesawat jet — kalau konstruksinya hancur, semuanya crash. Ia melihat tugasnya bukan sebagai ekonom yang mengatur angka, tapi sebagai insinyur yang menjaga agar sistemnya tidak jatuh.
Yang membuat rupiah pulih dari Rp16.800 ke Rp6.500 bukan hanya kebijakan SBI atau restrukturisasi bank. Yang memulihkan rupiah adalah sesuatu yang lebih tidak kasat mata: pasar mulai percaya bahwa Indonesia punya pemerintah yang tahu apa yang sedang dilakukannya.
Kepercayaan itu yang sekarang harus dibangun kembali. Bukan dengan nostalgi terhadap 1998, bukan dengan membandingkan siapa presidennnya lebih baik. Tapi dengan kenyataan bahwa setiap kebijakan yang diambil hari ini — dari aturan DHE, keputusan suku bunga BI, hingga disiplin fiskal APBN — akan dibaca oleh jutaan pelaku pasar sebagai sinyal: apakah Indonesia masih layak dipercaya?
Jawabannya ada di tangan kebijakan, bukan di kenangan tentang seorang insinyur yang pernah menyelamatkan rupiah dengan cara yang tidak ada di buku teks mana pun.
Ingat: Habibie tidak punya buku pedoman. Yang ia punya adalah keberanian untuk mengambil keputusan, dan cukup kejujuran untuk mengakui bahwa kepercayaan adalah sumber daya yang lebih langka dari dolar itu sendiri.
Referensi & Resources:
- Afiyah, R. (2021). Reformasi Ekonomi Habibie 1998–1999: Sebuah Kebijakan Atasi Krisis Ekonomi Orde Baru. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya. https://journal2.um.ac.id/index.php/sejarah-dan-budaya/article/view/26170
- Kompas.com. BJ Habibie, Pendekatan "Ajaib", dan Krisis Ekonomi 1998. https://money.kompas.com/read/2019/09/11/203100126/bj-habibie-pendekatan-ajaib-dan-krisis-ekonomi-1998
- Dialeksis.com. Habibie dan Resepnya Menyelamatkan Rupiah dari Krisis 1998. https://dialeksis.com/soki/habibie-dan-resepnya-menyelamatkan-rupiah-dari-krisis-1998/
- IDN Times. Rontoknya Rupiah dan Tekanan APBN, Sinyal Bahaya bagi Ekonomi RI? https://www.idntimes.com/business/economy/rontoknya-rupiah-dan-tekanan-apbn-sinyal-bahaya-bagi-ekonomi-ri-00-3m8tp-h2g1t4
- Suara.com. Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024. https://www.suara.com/bisnis/2026/05/09/162447/dikuras-untuk-bayar-utang-dan-jaga-rupiah-cadangan-devisa-indonesia-capai-titik-terendah-sejak-2024
- Unesa FEB. Kilas Balik: Strategi B.J. Habibie Membawa Rupiah dari Rp16.000 ke Kestabilan di Rp6.550. https://pe.feb.unesa.ac.id/post/kilas-balik-strategi-bj-habibie-membawa-rupiah-dari-rp16000-ke-kestabilan-di-rp6550
