Maret 2024, sebuah presentasi di konferensi bergengsi American Heart Association (AHA) menjadi berita viral di seluruh dunia. Judulnya terasa seperti bom: "8-hour time-restricted eating linked to a 91% higher risk of cardiovascular death." Dalam hitungan jam, kolom komentar media sosial penuh dengan orang-orang yang menyatakan diri kapok ber-intermittent fasting. Puluhan konten kreator kesehatan ikut-ikutan memvonis: IF sudah mati.
Tapi tunggu dulu.
Sebelum kamu membuang jadwal puasa 16:8 yang sudah kamu bangun selama setahun, ada baiknya kita baca fine print-nya dengan teliti. Karena di balik angka 91% yang menakutkan itu, ada konteks ilmiah yang sangat penting—dan ironisnya, data-data terbaru justru memperkuat posisi IF sebagai strategi diet yang valid di 2026.
Studi 91% Itu: Apa yang Sebenarnya Terjadi
Studi yang dibawakan Zhong et al. di AHA 2024 menggunakan data dari NHANES (National Health and Nutrition Examination Survey), sebuah survei kesehatan besar Amerika. Dari lebih dari 20.000 partisipan, mereka menemukan bahwa orang yang makan dalam jendela 8 jam punya risiko kematian akibat penyakit jantung 91% lebih tinggi.
Angka ini terdengar dahsyat. Tapi perlu kita pahami beberapa hal kritis:
- Ini studi observasional, bukan eksperimen. Artinya, studi ini hanya mencatat apa yang terjadi, tidak membuktikan bahwa IF yang menyebabkan risiko tersebut. Korelasi bukan kausalitas.
- Data pola makan hanya dikumpulkan dua hari. Dua hari pencatatan makanan digunakan untuk menyimpulkan kebiasaan makan selama bertahun-tahun. Ini metodologi yang sangat lemah—orang yang hanya makan sedikit di dua hari itu bisa jadi sedang sakit, bukan sedang IF.
- Faktor pembaur (confounders) tidak dikontrol sepenuhnya. Orang yang makan dalam jendela sempit bisa jadi melakukannya karena mereka memang sudah sakit, bukan karena memilih IF sebagai gaya hidup sehat.
Para peneliti dari Frontiers in Nutrition (2025) mencatat bahwa studi Zhong et al. ini baru merupakan analisis preliminer yang dipresentasikan di konferensi—belum melalui peer review penuh—dan menggunakan data recall dua hari yang memiliki keterbatasan signifikan untuk menyimpulkan kebiasaan makan jangka panjang.
Singkat kata: studi ini bukan bukti bahwa IF berbahaya. Ini sinyal awal yang butuh penelitian lebih dalam.
Apa yang Studi Berkualitas Tinggi Benar-benar Bilang
Sementara studi Zhong et al. masih diperdebatkan, komunitas ilmiah tidak berdiam diri. Beberapa meta-analisis besar berbasis randomized controlled trials (RCT)—standar emas penelitian medis—dirilis sepanjang 2025, dan hasilnya cukup jelas.
Meta-analisis terbaru yang diterbitkan di The BMJ pada Juni 2025 menganalisis 99 RCT yang melibatkan 6.582 partisipan dewasa, dan menemukan bahwa diet intermittent fasting memberikan manfaat yang sebanding dengan diet pembatasan kalori konvensional untuk penurunan berat badan.
Dengan kata lain: IF bekerja, tapi bukan karena "sihir biopuasa"—melainkan karena pada dasarnya IF membuat orang makan lebih sedikit kalori total. Mekanismenya berbeda, hasilnya setara.
Sementara itu, meta-analisis jaringan yang dipublikasikan di Current Nutrition Reports (2025) yang menganalisis 56 studi menemukan bahwa modified alternate-day fasting adalah metode paling efektif untuk mengurangi berat badan (rata-rata -5,18 kg), sedangkan time-restricted eating (TRE) paling efektif menurunkan kadar glukosa plasma puasa.
Dan ada satu lagi. Meta-analisis berbasis PRISMA yang diterbitkan di PMC (2025) mencakup 15 RCT dengan 758 partisipan dan menemukan bahwa IF secara signifikan mengurangi berat badan (-3,73 kg) dan BMI (-1,04 kg/m²) pada orang dewasa dengan kelebihan berat badan, sekaligus memperbaiki profil lipid termasuk kolesterol total dan LDL.
IF Bukan Satu Metode — Ini yang Sering Disalahpahami
Salah satu kebingungan terbesar dalam diskusi IF adalah menyamaratakan semua metode seolah sama. Padahal, "intermittent fasting" adalah payung besar yang menaungi beberapa protokol berbeda:
- 16:8 (Time-Restricted Eating / TRE): Makan dalam jendela 8 jam, puasa 16 jam. Paling populer, paling mudah dijalani.
- 5:2: Makan normal 5 hari, pembatasan kalori ketat (500–600 kkal) di 2 hari non-berturutan.
- Alternate Day Fasting (ADF) / Modified ADF: Berganti hari antara makan normal dan makan terbatas. Paling efektif berdasarkan data, tapi juga paling menantang.
- OMAD (One Meal A Day): Hanya satu kali makan per hari. Ekstrem, dan tidak cocok untuk semua orang.
Setiap metode punya profil manfaat dan risiko yang berbeda. Menghukum IF secara keseluruhan karena satu studi tentang jendela makan 8 jam seperti menghukum "olahraga" hanya karena ada yang cedera lari maraton.
Di sinilah juga konteks Islam yang menarik: puasa Ramadan adalah salah satu "natural experiment" intermittent fasting terbesar di dunia. Ratusan juta muslim menjalankan puasa penuh sekitar 13–17 jam per hari selama sebulan penuh. Berbagai penelitian menunjukkan manfaat puasa Ramadan pada sensitivitas insulin, profil lipid, dan tekanan darah—yang konsisten dengan temuan IF secara umum.

Siapa yang Cocok, Siapa yang Harus Hati-hati
IF bukan untuk semua orang, dan ini poin yang sering diabaikan para promotor IF di media sosial.
Yang bisa mendapatkan manfaat nyata dari IF:
- Orang dewasa dengan kelebihan berat badan atau obesitas yang ingin penurunan berat badan bertahap
- Individu dengan kadar gula darah tinggi (pre-diabetes) yang ingin memperbaiki sensitivitas insulin
- Orang yang secara psikologis lebih mudah skip sarapan daripada menghitung kalori setiap waktu makan
- Orang dengan pola makan yang selama ini tidak terstruktur dan sering ngemil malam hari
Yang harus konsultasi dokter dulu—atau menghindari IF:
- Ibu hamil dan menyusui
- Orang dengan riwayat gangguan makan (eating disorder)
- Penderita diabetes tipe 1 yang menggunakan insulin
- Orang dengan penyakit kronis tertentu, termasuk penyakit jantung yang sudah terdiagnosis
- Anak-anak dan remaja dalam masa pertumbuhan
Prof. Luigi Fontana, Direktur Ilmiah Charles Perkins Centre Royal Prince Alfred Clinic Sydney, menegaskan bahwa manfaat berkelanjutan dari pola makan sehat datang dari konsistensi dan kualitas makanan—berbasis pangan minim proses dan padat nutrisi—terlepas dari apakah melibatkan puasa atau tidak. Ia menekankan bahwa strategi yang benar-benar efektif mencegah penyakit kronis adalah pendekatan holistik berbasis gaya hidup: nutrisi, aktivitas fisik, tidur, manajemen stres, dan koneksi sosial.
Ini poin penting: IF adalah alat, bukan tujuan. Alat yang salah di tangan yang salah tetap berbahaya.

IF di 2026: Pakai atau Tinggalkan?
Setelah semua data kita baca, jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak".
IF masih efektif di 2026—tapi dengan nuansa. Bukan karena ada mekanisme ajaib "metabolic switching" yang dulu-dulu sering digembar-gemborkan di media sosial, melainkan karena IF, bagi sebagian orang, adalah cara yang lebih mudah dan lebih konsisten untuk mengurangi total asupan kalori harian.
Efektivitasnya setara dengan diet pembatasan kalori konvensional—ini kesimpulan terkuat dari meta-analisis besar di 2025. Yang berarti: kalau kamu sudah berhasil dengan IF dan tidak ada kondisi medis yang jadi hambatan, tidak ada alasan ilmiah yang kuat untuk berhenti. Kalau kamu lebih mudah menghitung kalori tanpa puasa, itu juga pilihan yang sama validnya.
Yang perlu ditinggalkan bukan IF-nya—melainkan versi oversimplified IF yang dijual sebagai solusi ajaib tanpa konteks medis apapun.
Tiga hal yang bisa kamu lakukan mulai minggu ini:
- Tentukan dulu tujuanmu. Penurunan berat badan, kontrol gula darah, atau sekadar struktur makan? Tujuan menentukan protokol yang tepat.
- Pilih jendela makan yang realistis dan sustainable. Jendela 10–12 jam sering lebih manageable dan tetap memberikan manfaat—tidak harus 8 jam atau OMAD.
- Perhatikan kualitas makanan dalam jendela makan. IF yang diisi junk food tetap akan memberikan hasilnya yang buruk—ini yang sering luput dari diskusi.
Ingat: Tidak ada diet terbaik yang universal—ada diet terbaik untuk kamu, berdasarkan kondisi, preferensi, dan konsistensi yang bisa kamu jaga.
Referensi & Resources:
- Kibret, K.T. et al. (2025). "Intermittent Fasting for the Prevention of Cardiovascular Disease Risks: Systematic Review and Network Meta-Analysis." Current Nutrition Reports. https://link.springer.com/article/10.1007/s13668-025-00684-7
- Semnani-Azad, Z. et al. (2025). "Intermittent fasting strategies and their effects on body weight and other cardiometabolic risk factors: systematic review and network meta-analysis of randomised clinical trials." The BMJ. https://doi.org/10.1136/bmj-2024-082007
- Eliopoulos, A.G. et al. (2025). "A perspective on intermittent fasting and cardiovascular risk in the era of obesity pharmacotherapy." Frontiers in Nutrition. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11782017/
- American Heart Association (2024). "8-hour time-restricted eating linked to a 91% higher risk of cardiovascular death." https://newsroom.heart.org/news/8-hour-time-restricted-eating-linked-to-a-91-higher-risk-of-cardiovascular-death
- PMC (2025). "The impact of intermittent fasting on body composition and cardiometabolic outcomes in overweight and obese adults." https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12309044/
