Thomas Aquinas - Mengapa Kaya dan Berkuasa Tak Cukup untuk Bahagia

Menurut Thomas Aquinas, kekayaan, jabatan, dan kesenangan hanya kebahagiaan palsu — puncaknya cuma satu, dan tidak sepenuhnya berada di dunia ini.

#filsafat #thomasaquinas #kebahagiaan #teologi #tasawuf

Kreator Moco
7 menit baca
Memuat gambar...
Thomas Aquinas - Mengapa Kaya dan Berkuasa Tak Cukup untuk Bahagia

Seorang biarawan abad ke-13 pernah menulis ribuan halaman untuk menjawab satu pertanyaan yang sebenarnya sudah ditanyakan setiap orang sejak kecil: apa yang benar-benar membuat manusia bahagia? Jawabannya, menurutnya, bukan uang, bukan jabatan, dan bukan juga kesenangan tubuh — meski ketiganya adalah hal yang paling sering kita kejar seumur hidup.

Nama biarawan itu Thomas Aquinas. Ia hidup pada abad ke-13, seorang filsuf sekaligus teolog Katolik dari ordo Dominikan yang karyanya, Summa Theologiae, masih dipelajari di fakultas filsafat dan teologi hingga sekarang. Dalam kitab itu, ada satu bagian besar yang secara khusus membahas soal kebahagiaan — dan bagian ini yang jadi bahasan Ngaji Filsafat episode 407, yang jadi rujukan tulisan ini.

Kebahagiaan Sebagai Titik Akhir, Bukan Sekadar Perasaan

Aquinas memulai dari sebuah asumsi dasar: setiap tindakan manusia selalu punya tujuan. Kita bangun pagi untuk kerja, kerja untuk dapat uang, uang untuk hidup nyaman, hidup nyaman untuk... apa? Menurut Aquinas, rantai "untuk apa" ini pada akhirnya berhenti di satu titik: kebahagiaan. Setelah seseorang benar-benar bahagia, dia tidak lagi mencari alasan lain. Kebahagiaan adalah finis ultimus — tujuan akhir yang tidak butuh tujuan lanjutan.

Menurut entri Stanford Encyclopedia of Philosophy soal pemikiran moral dan politik Aquinas yang ditulis John Finnis, seluruh filsafat praktisnya diarahkan pada satu gagasan sentral: manusia bergerak menuju beatitudo atau felisitas, sebuah keadaan pemenuhan diri yang sekaligus jadi prinsip dasar yang mengarahkan hukum moral — sebab hukum, termasuk hukum moral alamiah, pada dasarnya diarahkan untuk menuntun manusia menuju beatitudo itu sendiri.

PDF page 1

Yang menarik, Aquinas juga menaruh penekanan besar pada akal budi atau intelek, bukan cuma kehendak. Manusia dibekali dua kemampuan: kehendak untuk mengejar kebaikan, dan akal budi untuk menangkap kebenaran. Dalam pandangannya, untuk sampai pada kebahagiaan tertinggi — yang menurutnya berakar pada Allah — akal budi lah yang berperan lebih besar, sebab kebahagiaan sejati itu soal "melihat" dan memahami, bukan sekadar merasakan.

Insight praktisnya: kalau kita terus mengejar sesuatu tapi selalu merasa "belum cukup", boleh jadi yang kita kejar memang bukan tujuan akhir — melainkan alat menuju tujuan yang lebih besar yang belum kita sadari.

Empat Syarat Sebelum Bisa Benar-Benar Bahagia

Aquinas tidak berhenti di teori abstrak. Ia juga menjabarkan syarat psikologis dan fisik yang harus dipenuhi seseorang supaya bisa menerima kebahagiaan:

  1. Gembira (sukacita) — bagi Aquinas, sukacita adalah wadah sekaligus parameter kebahagiaan. Tanpa gembira, klaim "saya bahagia" jadi kosong.
  2. Tulus dan jujur — karena kebahagiaan didasarkan pada kebenaran, hanya hati yang jernih dan jujur yang bisa menangkapnya. Orang yang hidup dalam penyangkalan atau kepura-puraan akan sulit merasakannya.
  3. Kesiapan jiwa — pola pikir harus dalam kondisi terbuka dan positif. Jiwa yang penuh kepahitan atau kecemasan kronis akan menolak anugerah kebahagiaan meski itu ada di depan mata.
  4. Sehat secara fisik — Aquinas realistis di sini. Sakit fisik menghambat kemampuan seseorang menikmati kebahagiaan secara nyata, sebab jiwa dan tubuh bagi Aquinas tidak bisa dipisah begitu saja.

Empat syarat ini terdengar sederhana, tapi kalau dicek satu per satu, cukup banyak dari kita yang sebenarnya sedang menahan diri sendiri dari bahagia — entah karena terus menekan rasa gembira demi terlihat "produktif", atau karena tidak jujur soal apa yang sebenarnya diinginkan.

PDF page 2

Kebahagiaan Semu: Enam Hal yang Sering Disalahartikan sebagai Tujuan Akhir

Bagian paling relevan dari pemikiran Aquinas untuk kehidupan modern justru ada di sini: ia secara spesifik membedah hal-hal yang sering kita anggap sebagai puncak kebahagiaan, padahal menurutnya hanya felisitas — kebahagiaan tidak sempurna, sekadar alat atau efek samping.

  • Kondisi jiwa semata — perasaan tenang atau puas tidak bisa berdiri sendiri kalau tidak ditautkan pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
  • Kekayaan — sifatnya material dan sementara. Harta pada dasarnya cuma alat tukar, bukan tujuan; ia tidak pernah memberi rasa puas yang final, selalu ada "satu tingkat lagi" yang terasa kurang.
  • Kehormatan dan kemasyhuran — sangat bergantung pada penilaian orang lain, sehingga rapuh dan gampang menipu. Reputasi bisa runtuh dalam semalam oleh hal yang sama sekali di luar kendali kita.
  • Kekuasaan — bersifat netral dan situasional. Kekuasaan bisa dipakai untuk kebaikan atau sebaliknya, jadi ia tidak pernah menjamin kebaikan yang murni.
  • Kenikmatan panca indra — sifatnya temporer, umurnya pendek. Kalau dikejar berlebihan, justru mendatangkan kehampaan, bukan kepuasan.
  • Kebajikan moral dan kreativitas — ini bagian yang paling sering disalahpahami. Aquinas tidak bilang moralitas itu tidak penting; ia bilang tindakan baik dan berkarya masih berada di level perantara, jalan menuju kedamaian, belum jadi tujuan akhir itu sendiri.

Josef Pieper, filsuf Katolik abad ke-20 yang banyak menulis ulang pemikiran Aquinas untuk pembaca modern dalam bukunya Happiness and Contemplation, menegaskan pola pikir yang sama: kebahagiaan sejati tidak bisa direduksi jadi aktivitas atau pencapaian, sebab keduanya masih berada dalam kategori "melakukan", sementara kebahagiaan puncak ada di level "menjadi" dan "melihat".

Ini bukan berarti kekayaan, karir, atau kesenangan itu buruk. Aquinas justru cukup pragmatis — semua itu boleh dan perlu dikejar sebagai bagian hidup yang wajar. Masalahnya muncul ketika salah satu dari enam hal itu diperlakukan sebagai tujuan final, sebagai jawaban terakhir dari semua pertanyaan "untuk apa aku hidup".

Puncak Kebahagiaan: Beatitudo dan Fisio Beatifika

PDF page 3

Lalu apa sebenarnya kebahagiaan sempurna menurut Aquinas? Ia menyebutnya beatitudo, dan bentuk tertingginya disebut visio beatifica atau fisio beatifika — secara harfiah berarti "penglihatan yang membahagiakan". Ini adalah kondisi ketika intelek manusia secara langsung tercerahkan oleh esensi Allah sendiri, bukan lewat perantara ciptaan atau konsep, melainkan pemahaman langsung.

Penting digarisbawahi: ini bukan "melihat" dengan mata fisik. Ini soal akal budi manusia yang biasanya terbatas, tiba-tiba mendapat limpahan cahaya pencerahan atau iluminasi dari Allah, sehingga mampu menangkap kebenaran tertinggi yang sebelumnya mustahil dijangkau kemampuan alamiahnya sendiri. Ketika kondisi ini tercapai, menurut Aquinas, segala beban duniawi jadi tidak berarti lagi, dan jiwa merasakan kedamaian serta kepuasan yang mutlak.

Menariknya, konsep semacam ini bukan monopoli satu tradisi. Dalam tradisi tasawuf Islam, ada istilah makrifat dan mukasyafah — pengetahuan langsung tentang Allah yang didapat lewat penyingkapan hati, bukan sekadar logika. Kemiripan struktur pemikiran ini menunjukkan sesuatu yang cukup universal: berbagai tradisi keagamaan dan spiritual, meski berbeda kerangka teologis dan berbeda konsep ketuhanannya secara mendasar, sama-sama sampai pada intuisi bahwa kebahagiaan puncak manusia ada pada momen keterhubungan langsung dengan yang Ilahi — bukan pada akumulasi hal-hal duniawi.

Key takeaway: kalau selama ini kita mengukur "sudah berhasil belum hidupku" dari saldo rekening atau jabatan di kartu nama, Aquinas mengajak kita menggeser ukurannya — bukan berhenti bekerja atau mengejar kesejahteraan material, tapi berhenti menaruh harapan final di sana.

Menempatkan Kembali Prioritas Hidup

PDF page 4

Ajaran Aquinas soal beatitudo bukan ajakan untuk lari dari dunia. Ia sendiri seorang akademisi produktif yang menulis puluhan ribu halaman, mengajar, dan terlibat aktif dalam debat filsafat serta teologi zamannya. Poinnya bukan menolak dunia, tapi menaruh dunia pada tempat yang tepat — sebagai jalan, bukan tujuan akhir.

Tiga langkah kecil yang bisa dicoba minggu ini, terinspirasi dari kerangka berpikirnya:

  1. Cek ulang satu tujuan besar yang sedang dikejar — tanyakan jujur, apakah ini benar-benar tujuan akhir, atau sebenarnya cuma alat menuju sesuatu yang lebih dalam yang belum diberi nama.
  2. Sisihkan waktu hening tanpa target — 10-15 menit tanpa gawai, bukan untuk produktif, tapi untuk melatih kemampuan "melihat" yang menurut Aquinas jadi inti dari kebahagiaan tertinggi.
  3. Uji empat syarat bahagia dari Aquinas — sukacita, kejujuran, kesiapan jiwa, dan kesehatan fisik. Kalau salah satu bolong, wajar kalau pencapaian sebesar apa pun terasa hambar.

Delapan abad setelah ditulis, gagasan Aquinas soal kebahagiaan masih relevan justru karena ia menolak jalan pintas. Ia tidak bilang uang itu jahat atau ambisi itu dosa. Ia cuma mengingatkan: kalau kita menaruh tujuan akhir hidup pada sesuatu yang sifatnya sementara, kekecewaan itu bukan kegagalan pribadi — itu memang sudah bawaan dari salah menempatkan harapan sejak awal.

Ingat: kebahagiaan yang benar-benar mengenyangkan bukan yang paling besar secara jumlah, tapi yang paling dalam secara makna.


Referensi & Resources:

PDF page 5

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: