Ibnu Arabi - Sang Syekh Akbar yang Mengubah Cara Kita Memahami Tuhan

Kitab-kitabnya pernah dirampas dan dibakar — lalu menjadi fondasi tasawuf dari Andalus hingga Nusantara selama 8 abad.

#filsafat #tasawuf #sufisme #ibnuarabi #sejarahislam

Kreator Moco
9 menit baca
Memuat gambar...
Ibnu Arabi - Sang Syekh Akbar yang Mengubah Cara Kita Memahami Tuhan

Pada usia 8 tahun, seorang bocah di kota Mursia, Andalusia, mulai menghafal Al-Qur'an. Tiga puluh tahun kemudian, bocah itu tumbuh menjadi pemikir yang membuat para ulama besar terdiam — ada yang kagum, ada yang murka. Kitab-kitabnya disita dan dibakar di beberapa kota. Namun justru teks yang sama itu kemudian diajarkan diam-diam, disalin berulang, dan akhirnya menyebar melampaui batas benua.

Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad al-Hatimi al-Thai — yang kita kenal sebagai Ibnu Arabi — lahir pada 27 Juli 1165 M di Mursia, Andalusia (Spanyol Islam), dan wafat pada 1240 M di Damaskus. Delapan abad berlalu, tapi pemikirannya masih diperdebatkan, dikaji, dan dihayati hingga hari ini, termasuk di pesantren-pesantren Nusantara yang mungkin tanpa disadari mewarisi jejaknya.

Ia bukan sekadar sufi. Ibnu Arabi adalah tokoh sufi dan filsafat agama yang produktif, berhasil merekonstruksikan pendekatan tasawuf dengan filsafat dalam mengkaji masalah "wujud", yang kemudian dipadukan menjadi satu kesatuan utuh dalam ajaran wahdatul wujud — sebuah ajaran yang cukup menggemparkan dunia tasawuf hingga ia mendapat gelar Syekh al-Akbar. Gelar tertinggi yang bisa diterima seorang guru sufi.

Anak Andalusia yang Mengalahkan Ibnu Rusyd

Ada satu kisah yang jarang diceritakan tapi terasa seperti cermin sejarah: Ibnu Arabi muda pernah berdebat langsung dengan Ibnu Rusyd — filsuf terbesar dunia Islam abad itu, yang tulisannya kelak menjadi kurikulum wajib universitas-universitas Eropa. Dan dalam perdebatan itu, menurut sejumlah sumber, Ibnu Arabi yang muda itu tidak kalah.

Salah satu kunjungan yang paling mengesankan dalam perjalanan intelektual Ibnu Arabi adalah ketika ia bertemu Ibnu Rusyd (1126–1198 M), dimana saat itu Ibnu Arabi mengalahkan tokoh filsuf peripatetik ini dalam perdebatan dan tukar pikiran — sesuatu yang menunjukkan kecerdasan luar biasa dan luasnya wawasan spiritual sufi muda ini. Ini sekaligus menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara mistisisme dan filsafat dalam kesadaran metafisis Ibnu Arabi.

Pertemuan itu bukan kebetulan. Ibnu Arabi sejak muda memang dikenal sebagai sosok yang menggabungkan dua jalur yang biasanya dipisahkan: jalur akal (falsafah) dan jalur hati (tasawuf). Henry Corbin, sarjana filsafat Islam terkemuka, mengatakan bahwa filsafat dan pengalaman mistik sufi tidak bisa diceraikan; filsafat yang tidak berpuncak pada metafisika ekstase adalah spekulasi yang sia-sia, sementara irfan sufi yang tidak dilandasi pengkajian filsafat yang logis akan menghadapi bahaya ketersesatan. Ibnu Arabi adalah bukti hidup dari sintesis itu.

Perjalanannya juga tidak berhenti di Andalusia. Ketika usianya ke-30 tahun, ia mengunjungi beberapa kota di Andalusia dan Maroko, belajar tasawuf dari tokoh-tokoh sufi setempat seperti Abu Madyan al-Ghouts al-Talmassani. Ia kemudian berkunjung ke Tunis, Hijaz, Yaman, Syam, Iraq, dan Mesir. Setiap kota meninggalkan jejaknya dalam tulisan; setiap pertemuan menambah lapisan pada pemikirannya.

PDF page 1

Wahdatul Wujud: Bukan Panteisme, Tapi Sering Disalahmengerti

Ini bagian yang paling sensitif sekaligus paling menarik.

Konsep paling terkenal Ibnu Arabi — dan paling sering disalahpahami — adalah wahdatul wujud, secara harfiah berarti "kesatuan eksistensi". Ajaran ini menyebutkan bahwa Tuhan adalah Dzat Yang Maha Esa, sedangkan makhluk adalah bagian dari Dzat tersebut, dan Tuhan memperlihatkan Diri pada apa saja yang ada di alam semesta ini, karena tak ada satupun di alam semesta ini kecuali wujud Tuhan. Dengan kata lain, eksistensi alam semesta merupakan manifestasi dari keberadaan Tuhan.

Terdengar seperti panteisme? Banyak yang langsung melompat ke kesimpulan itu. Tapi para sarjana yang lebih cermat menolak penyederhanaan tersebut.

Mehdi Ha'iri Yazdi menjelaskan bahwa doktrin Ibnu Arabi mengenai Wahdatul Wujud tidak panteistik maupun monoteistik seperti yang hampir ditafsirkan oleh hampir semua sarjana. Selain Allah hanyalah nama yang merupakan manifestasi-Nya, bukan berada di sampingnya. Perbedaannya halus tapi fundamental: alam bukan Tuhan, tapi alam tidak bisa ada tanpa wujud Tuhan yang menopangnya.

Ibnu Arabi sendiri tidak pernah menggunakan istilah "wahdatul wujud" secara eksplisit dalam tulisannya. Meskipun Ibnu Arabi tidak secara langsung menggunakan istilah "Wahdatul Wujud" dalam karya-karyanya, konsep ini sangat terkait dengan pemikirannya. Ironisnya, istilah itu justru dipopulerkan oleh Ibnu Taimiyah — seorang kritikus keras Ibnu Arabi — sebagai label untuk menyerang ajarannya.

Sebagian sufi melihat wahdatul wujud sebagai kemusyrikan karena mengimplikasikan bahwa segala sesuatu adalah Tuhan — sebuah penyamaan antara Tuhan dan makhluk yang dinilai menodai konsep tauhid. Para filsuf juga ada yang menolak konsep ini karena menilai pernyataan-pernyataan yang mendasarinya tidak cukup kuat untuk membuktikan kebenarannya.

Kontroversi ini bukan hal baru, dan tidak akan selesai dalam satu artikel. Yang jelas: selama delapan abad, debat itu tetap berlangsung — dan itu sendiri sudah menunjukkan betapa dalamnya pemikiran yang sedang diperdebatkan.

PDF page 2

Dua Kitab yang Mengguncang Sejarah

Dari ratusan karya yang dikaitkan kepadanya, dua kitab Ibnu Arabi yang paling berpengaruh adalah Al-Futuhat al-Makkiyah dan Fusus al-Hikam.

Al-Futuhat al-Makkiyah ("Pembebasan Mekah") adalah karya monumental yang terdiri dari 37 volume, ditulis dalam bentuk prosa yang padat dan mendalam. Karya ini merupakan hasil pemikiran Ibnu Arabi selama beberapa dekade, yang mencakup berbagai aspek tentang realitas, eksistensi, dan hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Sementara Fusus al-Hikam ("Permata Hikmah") jauh lebih pendek, tapi justru lebih kontroversial. Fusus al-Hikam merupakan kitab yang datang semata-mata dari ilham ruhani Ibnu Arabi yang secara spontanitas datang darinya — sebagaimana ungkapan Ibnu Arabi sendiri dalam muqaddimah kitab tersebut.

Kedua kitab itu sempat menjadi benda terlarang. Fusus al-Hikam disamping Futuhat al-Makkiyah selalu terkucilkan dan dihindari, disembunyikan dan dirahasiakan. Sejarah mencatat, kapan pun dijumpai kitab Ibnu Arabi pada seseorang, ia akan dirampas, dibakar, dan yang memilikinya akan didera hukuman.

Namun ada fakta menarik yang mengubah cara kita melihat nasib kitab-kitab itu: sepanjang sejarah, tradisi pengkafiran atas Ibnu Arabi sesungguhnya tidak pernah menjadi pandangan dominan ulama Islam. Dari 125 judul karya tentang Fusus al-Hikam, 114 karya berada di barisan yang mendukung Ibnu Arabi — 81 karya sebagai syarah (penjelasan) dan selebihnya untuk membela atau menuliskan manaqib-nya.

Penolakan keras itu ada, tapi tidak menang. Yang menang adalah rasa ingin tahu intelektual — dan keyakinan bahwa di balik bahasa yang sulit itu tersimpan sesuatu yang bernilai.

Dari Andalusia ke Nusantara: Jejak yang Kita Tidak Sadari

PDF page 3

Inilah bagian yang paling dekat dengan kita sebagai orang Indonesia.

Menurut Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, pengaruh tasawuf Ibnu Arabi di Nusantara sangat besar — hampir semua para ulama sufi di Nusantara mulai dari abad ke-17 sampai abad ke-18 dipengaruhi oleh Ibnu Arabi, misalnya Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Yusuf al-Makassari, Abdus Samad al-Palembangi, Nafis al-Banjari, dan Daud Fatani — mereka semua adalah ulama-ulama sufi yang menganut paham Wahdatul Wujud meskipun dengan formulasi yang lebih moderat.

Hamzah Fansuri adalah sufi pertama yang mengajarkan tasawuf berpaham wujudiyah di Nusantara. Tasawuf paham wujudiyah ini diperolehnya dari Ibnu Arabi, Abu Yazid al-Bisthami, al-Hallaj, al-Rumi, al-Attar, al-Jami, dan lain-lain.

Dan pengaruh itu tidak berhenti di Sumatera. Di Jawa, konsep wujudiyah Fansuri beririsan dengan ajaran Syekh Siti Jenar yang terkenal dengan istilah Manunggaling Kawula Gusti — bersatunya hamba dengan Tuhan. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan antara pemikiran sufistik Aceh dan Jawa.

Dengan kata lain: ketika kita berbicara tentang khazanah spiritual Islam di Indonesia, kita sedang berbicara tentang warisan yang — setidaknya sebagian — bersumber dari seorang filsuf kelahiran Spanyol abad ke-12 yang dulu kitab-kitabnya pernah dibakar.

Apa yang Bisa Kita Ambil dari Ibnu Arabi Hari Ini?

Membaca Ibnu Arabi bukan proyek satu minggu. Bahkan para sarjana yang mendedikasikan hidup mereka untuk teks-teksnya masih berselisih paham tentang makna kalimat-kalimatnya. Tapi ada beberapa pintu masuk yang bisa menjadi titik awal:

Pertama, belajar membedakan antara "sulit dipahami" dan "sesat". Ibnu Arabi sulit dipahami — itu fakta. Tapi kesulitan itu bukan bukti kesesatan; itu undangan untuk berfikir lebih dalam. Ibnu Arabi adalah salah satu guru spiritual terhebat di dunia — mistik, filsuf, penyair, orang bijak sekaligus dalam satu pribadi. Menilainya hanya dari fragmen yang dikutip lepas konteks adalah cara tercepat untuk salah paham.

PDF page 4

Kedua, pahami bahwa kontroversi adalah tanda vitalitas sebuah ide. Pemikiran yang tidak pernah diperdebatkan biasanya karena terlalu dangkal untuk layak diperdebatkan. Ibnu Arabi diperdebatkan selama 800 tahun — itu bukan kelemahan, itu tanda bahwa idenya menyentuh sesuatu yang benar-benar penting.

Ketiga, gunakan Ibnu Arabi sebagai jembatan untuk memahami keislaman lokal kita. Sebelum kita bisa mendiskusikan Manunggaling Kawula Gusti, Syekh Siti Jenar, atau tradisi sufi pesantren dengan jernih — kita perlu memahami akar tempat semua itu tumbuh. Ibnu Arabi adalah akar itu.

Untuk pemula, dua buku pengantar yang bisa dijadikan titik masuk adalah The Sufi Path of Knowledge karya William C. Chittick (tersedia terjemahan bahasa Indonesia terbitan Qalam) dan Imajinasi Kreatif Sufisme Ibnu Arabi karya Henry Corbin (terbitan LKiS, Yogyakarta).

Warisan yang Masih Hidup

Ibnu Arabi meninggal di Damaskus pada 1240 M, pada usia 75 tahun. Makamnya masih bisa dikunjungi hingga hari ini di bukit Qasyun, Damaskus — dan masih banyak yang berziarah ke sana.

Tapi warisannya yang paling hidup bukan di makam itu. Ia hidup di setiap pesantren yang mengajarkan tasawuf, di setiap diskusi tentang hubungan antara Tuhan dan ciptaan, di setiap syair sufistik yang mencoba menggambarkan pengalaman yang tak bisa sepenuhnya dikonsepkan.

Selama beberapa abad sampai sekarang, ajaran Ibnu Arabi menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang sangat merasakan dimensi misterius kehadiran Tuhan dalam pengalaman spiritual umat manusia.

Pertanyaan yang ia tinggalkan masih relevan: Apa artinya "ada"? Apa hubungan antara yang Mutlak dan yang terbatas? Bagaimana pengalaman batin bisa menjadi sumber pengetahuan yang sahih?

PDF page 5

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan milik abad ke-12. Mereka adalah pertanyaan yang selalu baru — dan Ibnu Arabi, dengan segala kontroversinya, adalah salah satu yang paling serius pernah mencoba menjawabnya.

Ingat: Yang paling berbahaya bukan ide yang sulit, tapi kemalasan untuk memahaminya sebelum menghakiminya.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: