Riset Membuktikan - Kesepian Setara Merokok 15 Batang Sehari

Surgeon General AS menyebut kesepian kronis berisiko sama besarnya dengan merokok. Tapi Al-Ghazali sudah mengingatkan ini 900 tahun lalu.

#uzlah #kebersamaan #ngajifilsafat #alghazali #kesehatanmental

Kreator Moco
7 menit baca
Memuat gambar...
Riset Membuktikan - Kesepian Setara Merokok 15 Batang Sehari

Menurut laporan U.S. Surgeon General Amerika Serikat tahun 2023, kesepian kronis meningkatkan risiko kematian dini hingga 29 persen — kira-kira setara dengan dampak merokok 15 batang rokok setiap hari. Bukan perbandingan yang dilebih-lebihkan. Riset yang sama mencatat hampir separuh orang dewasa di sana mengalami rasa sepi dalam beberapa tahun terakhir, bahkan sebelum pandemi mengubah cara kita berinteraksi.

Seminggu sebelumnya, di forum Ngaji Filsafat Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta, Dr. Fahruddin Faiz justru mengangkat tema yang berlawanan: kesendirian, atau uzlah. Banyak jamaah pulang dengan kesan bahwa menyendiri itu mulia, bahkan nikmat tersendiri. Tapi pada edisi ke-390 bertajuk "Kebersamaan", Pak Faiz mengajak jamaah menimbang ulang. Manusia, katanya, terlalu kompleks untuk dilabeli kaku sebagai "tipe penyendiri" atau "tipe sosial" saja — dan keduanya, uzlah maupun kebersamaan, sebenarnya cuma alat.

Ulama Berbeda Pendapat, tapi Ada Jalan Tengah

Dalam paparannya, Pak Faiz mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang menunjukkan bahwa ulama klasik tidak satu suara soal mana yang lebih utama antara menyendiri dan berbaur. Sebagian ulama menilai uzlah lebih aman karena menjauhkan diri dari godaan dan konflik sosial. Sementara itu yang lain menilai berbaur lebih utama, karena di situlah ibadah sosial — menolong, mengajar, menjaga silaturahmi — baru benar-benar bisa dijalankan.

Al-Ghazali sendiri mengambil jalan tengah. Sebelum memutuskan menyendiri atau membaur, ia menyarankan dua pertimbangan dasar. Pertama, kondisi lingkungan: apakah secara umum tempat itu sehat dan mendukung pertumbuhan diri. Kedua, karakter orang-orang di dalamnya: apakah mereka pantas dijadikan teman dekat atau justru berisiko menyeret pada keburukan.

Jika lingkungan positif dan orang-orangnya berkualitas, berbaur dianjurkan — karena kebaikan, seperti penyaki, juga menular. Sebaliknya, kalau lingkungan dipenuhi orang yang berpotensi merusak nilai dan akhlak kita, menarik diri untuk sementara adalah pilihan yang lebih bijak.

PDF page 1

Prinsipnya sederhana: uzlah bukan tujuan akhir, dan berbaur juga bukan kewajiban tanpa syarat. Keduanya alat. Yang menentukan alat mana yang dipakai adalah kondisi di lapangan, bukan dogma soal mana yang "lebih spiritual". Sebelum menilai sebuah lingkungan pertemanan, dua pertanyaan praktis ini bisa membantu: apakah berada di situ membuat saya makin baik atau makin redup, dan apakah saya masih punya pengaruh untuk membawa kebaikan, atau justru saya yang lebih sering trbawa arus.

Kenapa Manusia Tak Pernah Benar-Benar Bisa Berdiri Sendiri

Fitrah sosial bukan sekadar jargon ceramah. Pak Faiz menjelaskan empat alasan mendasar kenapa kebersamaan jadi keniscayaan, bukan pilihan.

Pertama, kita adalah makhluk yang sangat terbatas. Tidak ada satu orang pun yang bisa menguasai seluruh keahlian yang dibutuhkan untuk hidup — mulai dari bertani, membangun rumah, mengobati sakit, sampai mendidik anak. Kedua, manusia penuh kelemahan. Kita lapar, lelah, sakit, dan di banyak titik kehidupan butuh bantuan yang tidak bisa diselesaikan sendirian. Ketiga, setiap individu itu langka. Keunikan masing-masing orang justru jadi alasan kita saling membutuhkan, karena yang tidak kita punya, kemungkinan besar dipunyai orang lain.

Alasan keempat adalah interkoneksi — keberadaan kita sebagian ditentukan oleh keberadaan orang lain. Filosofi Ubuntu dari Afrika Selatan, yang dipopulerkan Uskup Desmond Tutu dan menjadi rujukan dalam Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi pasca-apartheid, meringkas gagasan ini lewat frasa "aku ada karena kita ada". Bagi Tutu, manusia hanya benar-benar menjadi manusia lewat keterhubungannya dengan manusia lain, bukan lewat kesendirian yang terisolasi.

Gagasan ini ternyata sejalan dengan temuan riset ilmiah modern. Robert Waldinger, psikiater yang memimpin Harvard Study of Adult Development — riset soal kebahagiaan manusia yang berjalan sejak 1938 dan masih berlanjut sampai sekarang — menemukan bahwa hal yang paling konsisten membuat orang bahagia sekaligus sehat secara fisik justru kualitas hubungan mereka dengan orang lain, bukan kekayaan atau pencapaian karier. Laporan Surgeon General yang sama juga mencatat bahwa kurangnya keterhubungan sosial menaikkan risiko penyakit jantung sebesar 29 persen dan risiko stroke sebesar 32 persen.

PDF page 2

Filsafat klasik Islam, Ubuntu dari Afrika, dan riset psikologi kontemporer ternyata bertemu di satu titik yang sama: manusia tidak dirancang untuk berdiri sendiri selamanya.

Empat Tangga Menuju Kebersamaan yang Matang

Untuk membangun relasi yang kokoh, Pak Faiz menguraikan rute berjenjang berikut:

  1. Ta'aruf — fase saling kenal, didasari kelembutan hati (ulfah) dan keinginan untuk dekat (suhbah). Ini tahap paling dasar: sekadar tahu nama dan wajah saja belum cukup, perlu ada kehangatan di baliknya.
  2. Tafahum — saling memahami. Mengerti kebiasaan, memaklumi kondisi, dan tidak buru-buru menilai orang lain dari satu sisi saja.
  3. Tasamuh — saling bertoleransi. Menghargai keberadaan orang lain dan menerima mereka apa adanya, termasuk bagian yang tidak sama dengan kita.
  4. Ta'awun — puncaknya, kerja sama yang produktif untuk tujuan baik bersama.

Banyak hubungan berhenti di tahap pertama atau kedua, lalu dipaksa lompat ke ta'awun tanpa fondasi yang cukup. Rekan kerja yang baru dikenal tiga hari, misalnya, langsung diajak proyek besar tanpa proses tafahum dan tasamuh yang memadai. Hasilnya biasanya friksi, bukan sinergi.

Cara praktis menguji di tahap mana sebuah hubungan berada cukup sederhana: coba ingat, kapan terakhir kali Anda dan orang itu menyelesaikan masalah bersama tanpa drama berlebihan? Kalau jawabannya belum pernah, kemungkinan relasi itu masih di tahap ta'aruf atau tafahum — dan itu normal, asal jangan dipaksakan jadi lebih dari yang sebenarnya.

Mengukur Suhu Hubungan, dari Vitalize sampai Devitalize

PDF page 3

Selain rute pembentukannya, kedekatan juga punya gradasi kualitas yang bisa dipakai untuk mengevaluasi relasi yang sedang dijalani sekarang:

Tingkatan Karakteristik
Vitalize Banyak kesamaan, komunikasi lancar, masalah cepat terselesaikan.
Harmonious Banyak kesamaan dan komunikasi baik, tapi masih ada perbedaan yang belum disepakati.
Conventional Komunikasi sulit, banyak perbedaan, tapi tetap bertahan karena ada kepentingan yang mengikat.
Conflicted Terus berjuang mempertahankan hubungan di tengah perselisihan yang berulang.
Devitalize Sudah lelah berjuang, tidak nyaman, mulai muncul opsi untuk berpisah.

Coba petakan tiga hubungan terdekat Anda saat ini — bisa pasangan, sahabat, atau rekan kerja — ke salah satu dari lima tingkatan di atas. Kalau hasilnya banyak yang jatuh di conventional ke bawah, itu sinyal untuk segera diajak bicara terbuka, bukan dibiarkan mengendap. Relasi yang stuck di conventional bertahun-tahun biasanya bukan karena kuat, tapi karena belum ada yang berani memulai percakapan jujur soal apa yang sebenarnya dirasakan.

Kapan Sirkel Justru Harus Ditinggalkan

Meski kebersamaan adalah fitrah, bukan berarti semua bentuk kebersamaan baik untuk dijalani. Pak Faiz mengingatkan, di sinilah uzlah — bahkan jika hanya sementara — jadi pilihan yang sehat. Tanda-tanda sirkel yang sebaiknya mulai dijauhi:

  • Hanya jadi jembatan kepentingan pribadi, alias relasinya egois satu arah.
  • Diwarnai persaingan tidak sehat (rivalry) yang membuat hidup terasa terus-menerus dikejar.
  • Penuh hinaan, makian, atau saling menyalahkan (blaming) tanpa solusi.
  • Ada manipulasi (gaslighting) dan kecemburuan yang tidak sehat.

Langkah praktisnya tidak harus drastis. Mulai dari mengurangi frekuensi interaksi, menetapkan batas topik yang tidak bisa dibahas lagi, atau sekadar memberi jarak waktu tanpa harus mengumumkan "pemutusan hubungan" secara formal. Uzlah dalam konteks ini bukan menghindar selamanya, tapi memberi ruang untuk menilai ulang — apakah relasi itu masih layak diperjuangkan, atau memang sudah waktunya dilepas.

Satu hal yang perlu diingat: keputusan untuk uzlah dari sebuah sirkel bukan tanda kegagalan sosial. Justru sebaliknya, itu tanda bahwa seseorang cukup sadar diri untuk tahu kapan harus mundur demi kesehatan mentalnya sendiri.

PDF page 4

Bukan Soal Mana yang Lebih Mulia

Kembali ke angka 29 persen risiko kematian dini akibat kesepian kronis di awal artikel ini — angka itu bukan untuk menakut-nakuti, tapi pengingat bahwa kebersamaan memang punya bobot nyata bagi kesehatan, bukan sekadar pelengkap hidup. Tapi Al-Ghazali, lewat jalan tengahnya, juga mengingatkan: kebersamaan yang dipaksakan di lingkungan yang salah bisa lebih merusak daripada kesendirian yang dipilih dengan sadar.

Kebersamaan sejati mensyaratkan tiga hal: menghargai persamaan, menghormati perbedaan, dan kesediaan untuk saling memaafkan saat salah satu pihak khilaf. Tanpa tiga hal itu, yang tersisa cuma kerumunan, bukan kebersamaan.

Key takeaway: Uzlah dan kebersamaan bukan dua kutub yang harus dipilih salah satu selamanya — keduanya alat yang dipakai bergantian, sesuai kondisi lingkungan dan kapasitas diri saat itu.

Dari semua tingkatan dan tanda yang dibahas di atas, coba jujur pada diri sendiri: apakah Anda sedang di momen yang menuntut untuk mempererat jembatan relasi yang ada, atau justru sedang butuh sedikit ruang untuk menyendiri dulu?


Referensi & Resources:

PDF page 5
  • Office of the Surgeon General, U.S. Department of Health and Human Services — Our Epidemic of Loneliness and Isolation (2023): hhs.gov
  • Robert Waldinger — Harvard Study of Adult Development: robertwaldinger.com
  • Harvard Gazette — "Work out daily? OK, but how socially fit are you?" (2023): news.harvard.edu
  • Ubuntu Philosophy, Wikipedia: en.wikipedia.org
  • Ngaji Filsafat 390: Kebersamaan, Dr. Fahruddin Faiz, MJS Channel: youtube.com

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: