Koridor Sunyi di Luar Arena - Takdir, Ketidakberdayaan, dan Mereka yang Tidak Pernah Ikut Berlomba

Vonis kanker mengajarkan satu hal yang tidak bisa dipelajari dari dalam arena perlombaan — bahwa kendali itu hanyalah ilusi yang dipinjamkan.

#sufisme #cerpen #takdir #spiritualitas #filsafat

Admin Moco
9 menit baca
Memuat gambar...
Koridor Sunyi di Luar Arena - Takdir, Ketidakberdayaan, dan Mereka yang Tidak Pernah Ikut Berlomba

Sebenarnya kami sudah menduga. Sudah ada tanda-tanda yang tidak bisa terus-terusan diabaikan — rasa sakit yang datang dan pergi, hasil lab yang "perlu ditindaklanjuti", wajah dokter yang terlalu hati-hati memilih kata. Otak kita pintar sekali dalam urusan denial. Ia bisa mengubah kecurigaan menjadi ketenangan palsu, mengemas ketakutan sebagai optimisme, meyakinkan kita bahwa kemungkinan besar ini bukan apa-apa.

Tapi ternyata ada jarak yang sangat jauh antara menduga dan mendengar.

Hari itu, kata kanker usus besar keluar dari mulut dokter, dan sesuatu di dalam dada saya runtuh seketika — meskipun kata itu bukan kejutan. Padahal kalimatnya pendek. Suaranya datar, profesional. Tapi ada perbedaan yang brutal antara ketakutan yang masih bisa kita simpan sebagai kemungkinan, dengan kenyataan yang diucapkan dengan resmi, dicatat di berkas medis, dan tidak bisa lagi kita negosiasikan. Dugaan bisa kita sembunyikan dalam laci. Vonis tidak.

Ingatan itu masih jelas: duduk di kursi itu, tangan istri di genggaman, ingin terlihat kuat, ingin menjadi tiang yang tidak goyah. Tapi di dalam, ada sesuatu yang runtuh dengan sangat pelan dan sangat sunyi. Bukan karena kami tidak siap. Tapi karena ternyata tidak ada yang namanya cukup siap untuk momen seperti ini. Kita bisa menduga seribu kali — dan tetap hancur saat kata itu benar-benar diucapkan. Seperti tahu bahwa badai akan datang, tapi tetap basah kuyup ketika hujannya turun.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui." — QS. Al-Baqarah: 216

Malam itu tidak bisa tidur. Bukan karena menangis — meski air mata itu datang juga pada waktunya. Tapi karena tiba-tiba tersadar bahwa seluruh bangunan rencana yang telah disusun bertahun-tahun — karier, tabungan, perjalanan yang ingin kami lakukan bersama — semuanya berdiri di atas fondasi yang ternyata bukan milik kita sepenuhnya.

Kita baru benar-benar memahami makna la haula wa la quwwata illa billah bukan saat mengucapkannya dengan lisan. Tapi saat merasakannya dengan seluruh tubuh — bahwa kita ini kecil. Bahwa kendali yang kita kira ada di tangan kita, sesungguhnya hanyalah ilusi yang dipinjamkan.

Administrasi sebagai Meditasi Paksa

Duka yang belum selesai harus segera bergulat dengan kenyataan. Sebab takdir tidak memberi jeda untuk meratap terlalu lama. Ia sudah menyiapkan babak berikutnya: prosedur administrasi.

PDF page 1

Dalam tradisi sufi, ada konsep mujāhadah — perjuangan batin melawan ego dan kelemahan diri. Saya tidak pernah menyangka bahwa mujāhadah saya hari-hari itu berbentuk antrean panjang, formulir berlapis, fotokopi dokumen yang harus diulang karena satu syarat terlewat, dan loket yang tutup sepuluh menit sebelum kami tiba.

Pengobatan kanker itu tidak murah. Dan negara, dengan segala keterbatasannya, menyediakan jalur — BPJS, rujukan berjenjang, verifikasi berkas, surat pengantar dari faskes pertama, lalu kedua, lalu rumah sakit rujukan. Sebuah labirin yang dibangun bukan untuk menyiksa, tapi terasa menyiksa ketika kita sedang tidak dalam kondisi untuk bersabar.

Saya ingat satu pagi, setelah antrean panjang, petugas loket berkata bahwa satu dokumen saya kurang — dokumen yang seharusnya ada, tapi tidak ada dalam daftar yang diberikan sebelumnya. Saya merasakan sesuatu naik ke dada. Frustrasi. Kelelahan. Sedikit amarah yang saya coba tahan dengan napas panjang.

Lalu saya duduk di bangku panjang di koridor itu. Dan di situlah sesuatu mulai berubah.

Koridor yang Mengajarkan Lebih dari Seminar Manapun

Koridor rumah sakit onkologi itu panjang. Kursi-kursinya selalu penuh. Dan diam-diam, tanpa sengaja, saya mulai membaca wajah-wajah di sekitar saya.

Ada seorang ibu tua dari luar kota — kelihatan dari tasnya yang lusuh dan sandal jepitnya. Ia datang sendirian, membawa map plastik berisi berkas yang sudah ditekuk berkali-kali. Ia bertanya kepada petugas dengan bahasa yang campur aduk, setengah Indonesia setengah dialek daerahnya. Wajahnya tidak panik. Tidak putus asa. Hanya lelah, dengan ketenangan yang aneh — ketenangan orang yang sudah melewati terlalu banyak hal untuk masih bisa kaget.

Ada seorang bapak muda — mungkin seusia saya — yang mendorong kursi roda istrinya. Istrinya mengenakan kerudung yang menutupi kepala yang sudah tidak berambut. Mereka bercanda pelan. Bapak itu tertawa kecil. Ada sesuatu di sana — sebuah intimasi yang lahir hanya dari penderitaan yang dibagi bersama.

PDF page 2

Saya duduk di antara mereka. Dan saya menyadari: kami semua sedang mengerjakan hal yang sama. Menavigasi labirin administratif yang sama. Menanggung ketidakpastian yang sama. Menunggu dalam antrean yang sama.

Perbedaannya? Sebagian dari mereka datang dari kondisi yang jauh lebih berat. Tidak punya kendaraan pribadi. Tidak fasih berbicara dengan petugas. Tidak punya seseorang yang bisa ditelpon untuk menanyakan prosedur. Tidak punya laptop untuk mengecek persyaratan di malam sebelumnya.

Tapi mereka ada. Mereka hadir. Mereka berjuang. Dan tidak satu pun dari mereka yang tampak memikirkan kuartal keuangan, target karier, atau berapa banyak followers mereka di media sosial.

Arena yang Tidak Semua Orang Masuki

Kita hidup dalam budaya yang terobsesi dengan perlombaan. Perlombaan karier, perlombaan kesuksesan, perlombaan status. Kita bertanya kepada anak muda: "Sudah kerja di mana?" Kita bertanya kepada yang lebih tua: "Sudah punya apa?" Kita mengukur nilai seseorang dari seberapa jauh ia berlari dalam arena yang kita sepakati bersama sebagai satu-satunya arena yang penting.

Tapi di koridor itu, saya melihat kenyataan lain.

Ada manusia-manusia yang tidak pernah masuk ke dalam arena itu. Bukan karena mereka gagal masuk. Bukan karena mereka tidak mampu. Tapi karena sejak awal, arena mereka adalah arena yang berbeda — arena bertahan, arena merawat, arena menjaga kewarasan di tengah badai yang tidak mereka pilih.

Seorang ibu tua dari desa yang menempuh perjalanan empat jam untuk sebuah sesi kemoterapi tidak memikirkan promosi jabatan. Ia memikirkan apakah bekal nasinya cukup untuk hari ini. Apakah ia akan sempat pulang sebelum gelap. Apakah tubuhnya masih kuat untuk kembali minggu depan.

PDF page 3

Ibn 'Athaillah al-Sakandari dalam Al-Hikam menulis:

"Keinginanmu untuk melepaskan diri dari sesuatu padahal Allah masih menempatkanmu di sana adalah tanda kesesatan nalar yang tersembunyi."

Masing-masing jiwa sedang berada tepat di tempat yang Allah kehendaki. Dan tempat itu tidak selalu terlihat dari dalam arena perlombaan. Ada kedalaman spiritual yang tumbuh di luar sorot lampu arena — di koridor-koridor sunyi itu, di ruang tunggu yang berbau obat, di keheningan malam ketika seseorang menemani pasangannya yang kesakitan.

Mereka tidak ikut berlomba. Tapi mereka sedang menjalani sesuatu yang jauh lebih berat dari perlombaan apapun, dengan ketabahan yang tidak sempat dipamerkan kepada siapapun.

Takdir sebagai Guru yang Tidak Pernah Salah Pilih Murid

Dalam pemikiran sufistik, qadar — takdir Allah — bukan sekadar kejadian yang menimpa. Ia adalah tarbiyah, pendidikan. Jalāl al-Dīn Rumi dalam Masnavi-nya berulang kali menggambarkan penderitaan bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai proses pemurnian — seperti api yang membakar bukan untuk menghancurkan, tapi untuk memisahkan emas dari kotoran yang menempel.

Vonis kanker itu bukan akhir dari cerita kami. Ia adalah awal dari bab yang berbeda — bab yang tidak kami tulis, tapi yang Allah pilihkan untuk kami. Dan dalam bab ini, saya belajar hal-hal yang tidak mungkin saya pelajari dari dalam arena perlombaan:

Bahwa ketidakberdayaan adalah pintu, bukan tembok. Ketika semua daya kita habis — daya perencanaan, daya kontrol, daya ego — di situlah ruang untuk sesuatu yang lebih besar menjadi terbuka. Para sufi menyebut kondisi ini faqr — kemiskinan diri di hadapan Allah. Bukan hina, melainkan jujur. Pengakuan bahwa kita bukan pemilik dari apapun yang selama ini kita genggam.

Bahwa kesabaran bukan pasif. Di koridor itu, saya melihat kesabaran dalam bentuk yang sangat aktif — ibu-ibu yang kembali ke loket untuk ketiga kalinya dengan wajah yang tetap tenang, bapak-bapak yang menjelaskan kondisi istrinya kepada dokter dengan suara yang dijaga agar tidak patah. Itu bukan pasrah yang menyerah. Itu adalah ketabahan yang bergerak.

PDF page 4

Bahwa solidaritas hadir di tempat-tempat yang tidak diduga. Sebuah anggukan dari sesama yang menunggu. Sebuah senyum kecil dari ibu yang tahu persis betapa melelahkannya hari ini. Sebuah informasi soal prosedur yang dibisikkan oleh orang asing yang ternyata sudah tiga bulan menjalani rute yang sama. Tidak ada nama, tidak ada nomor telepon yang ditukar. Tapi ada sesuatu yang mengalir di antara kami — semacam persaudaraan yang lahir dari luka yang serupa.

Catatan dari Luar Arena

Al-Ghazali dalam Ihya 'Ulumuddin menulis tentang tawakkal — penyerahan diri kepada Allah — bukan sebagai kekosongan usaha, melainkan sebagai kepenuhan kepercayaan. Kita melakukan apa yang bisa dilakukan. Kita mengurus berkas. Kita mengantre. Kita bertanya. Kita kembali keesokan harinya. Dan setelah semua itu, kita menyerahkan hasilnya kepada yang memiliki segalanya.

Tawakkal yang sejati bukan berarti tidak takut. Ia berarti takut, tapi tetap melangkah.

Saya menulis ini bukan dari posisi seseorang yang sudah sampai di seberang. Kami masih dalam perjalanan. Kemoterapi masih berlangsung. Berkas masih harus diurus. Ketidakpastian masih menghuni setiap sudut hari kami.

Tapi ada sesuatu yang ingin saya catat sebelum dilupakan oleh kesibukan dan rutinitas: bahwa di luar arena perlombaan yang selama ini kita anggap sebagai satu-satunya arena yang bermakna, ada kehidupan lain yang sedang berlangsung dengan sangat sungguh-sungguh. Kehidupan yang tidak dipotret, tidak dirayakan, tidak masuk dalam daftar pencapaian siapapun. Tapi kehidupan yang — jika kita jujur — jauh lebih penuh dengan kemanusiaan sejati.

Bahwa ketidakberdayaan, jika diterima dengna jujur, bukan melemahkan. Ia membebaskan. Membebaskan kita dari beban ilusi kendali yang selama ini kita pikul tanpa sadar. Dan dalam kebebasan itu, ada sesuatu yang terasa seperti rumah.

Ingat: Takdir tidak pernah salah memilih muridnya. Ia hanya tidak selalu memilih waktu dan cara yang kita inginkan.

PDF page 5

Untuk istriku — yang menghadapi semua ini dengan ketenangan yang membuatku malu sekaligus kagum. Untuk semua yang sedang menunggu di koridor-koridor sunyi itu — kalian tidak sendirian. Dan perjuangan kalian, yang tidak terlihat dari dalam arena manapun, adalah salah satu hal paling nyata yang pernah saya saksikan.

Ditulis di ruang tunggu onkologi, di sela-sela antrean yang panjang dan doa-doa yang tidak pernah berhenti.


Referensi & Resources:

Admin Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: