Di sebuah negeri dongeng bernama Negeri Pusparaga, masyarakatnya sedang ramai membicarakan sebuah pertunjukan cerita tunggal berjudul Mens Rea. Pertunjukan ini dibawakan oleh seorang pendongeng istana yang terkenal cerdas, lucu, dan berani mengkritik berbagai kebiasaan kerajaan dengan cara satir.
Dalam setiap ceritanya, sang pendongeng selalu membuka kalimat-kalimat tajamnya dengan satu frasa khas:
"Menurut keyakinan saya…"
Kalimat ini kemudian diikuti kritik pedas tentang perilaku bangsawan, pejabat kerajaan, dan kebiasaan warga Pusparaga. Banyak yang tertawa, banyak yang mengangguk setuju, namun tidak sedikit pula yang merasa tersinggung dan terlukai.
Suatu malam, sang pendongeng berkata:
“Menurut keyakinan saya, ada golongan tertentu di negeri ini yang terlalu dimanjakan, sementara rakyat kecil harus menahan lapar.”
Di malam lain ia berkata:
“Menurut keyakinan saya, ada tradisi yang sudah tidak layak lagi kita pertahankan, karena lebih banyak melukai daripada melindungi.”
Pertunjukan itu viral di seluruh negeri. Namun tak lama kemudian, beberapa warga Pusparaga melaporkan pertunjukan tersebut kepada Dewan Penjaga Ketertiban Negeri. Bukan karena ceritanya lucu, tetapi karena sebagian isinya dianggap melukai martabat, menyinggung kelompok tertentu, dan memicu kemarahan publik.
Sejak saat itu, satu pertanyaan besar mengemuka:
Apakah kalimat “menurut keyakinan saya” cukup untuk membebaskan seseorang dari tanggung jawab atas kata-katanya?
---
Keyakinan Tidak Pernah Dihukum, Tetapi Perbuatan Bisa
Hukum di Negeri Pusparaga, seperti di banyak negeri lain, memegang satu prinsip sederhana:
Yang bisa dihukum bukan isi hati, tetapi perbuatan.
Apa pun yang diyakini seseorang dalam pikirannya adalah wilayah paling pribadi. Negeri tidak masuk ke sana. Namun begitu keyakinan itu keluar menjadi ucapan, tulisan, atau tindakan di ruang publik, ia berubah menjadi perbuatan sosial yang dapat membawa dampak.
Dan hukum bekerja bukan pada “apa yang diyakini”, melainkan pada apa yang ditimbulkan.
---
Hak Berkeyakinan Tidak Sama dengan Hak Melukai
Penduduk Pusparaga bebas memercayai apa pun. Mereka boleh menganggap suatu tradisi buruk, suatu kebijakan keliru, atau suatu kebiasaan perlu diubah. Itu adalah hak batiniah.
Tetapi negeri tidak pernah memberi hak untuk merendahkan martabat orang lain, menstigma kelompok tertentu, menabur permusuhan, atau menimbulkan luka sosial, hanya karena semua itu “berdasarkan keyakinan pribadi”.
Kebebasan berpikir adalah hak mutlak.
Kebebasan berbicara dan bertindak adalah hak yang selalu berdampingan dengan tanggung jawab.
---
“Menurut Keyakinan Saya” Bukan Perisai Ajaib
Di Pusparaga, banyak warga mulai meniru gaya sang pendongeng. Di pasar, di balai desa, di ruang maya kerajaan, orang-orang mulai berkata:
“Menurut keyakinan saya, kelompok itu memang pantas diperlakukan seperti itu.”
Atau:
“Menurut keyakinan saya, mereka memang lebih rendah dari kita.”
Sebagian terkejut ketika Dewan Penjaga Ketertiban memanggil mereka untuk dimintai keterangan.
Mereka protes:
“Tapi itu kan hanya keyakinan saya.”
Namun hukum menjawab dengan tenang:
Yang diperiksa bukan keyakinannya, tetapi dampak ucapannya.
Apakah ia merendahkan martabat manusia?
Apakah ia memicu permusuhan?
Apakah ia merusak ketertiban sosial?
Jika iya, maka ia bukan lagi sekadar pendapat — ia adalah perbuatan.
---
Mengapa Ini Perlu Dipahami?
Tanpa batas ini, Negeri Pusparaga akan menjadi negeri kata-kata tajam tanpa tanggung jawab. Siapa pun bisa melukai siapa pun, cukup dengan menambahkan satu kalimat sakti: “menurut keyakinan saya”.
Dan ketika itu terjadi, hukum kehilangan maknanya, sementara luka sosial tumbuh tanpa kendali.
---
Pelajaran dari Negeri Dongeng
Dongeng Pusparaga tidak sedang menilai siapa yang benar atau salah dalam sebuah pertunjukan. Dongeng ini hanya mengingatkan kita pada satu hal:
Keyakinan adalah wilayah hati.
Ucapan adalah wilayah tanggung jawab.
Tidak ada kalimat ajaib yang bisa menghapus akibat dari kata-kata kita.
Tidak ada “keyakinan” yang memberi izin untuk merendahkan martabat manusia lain.
Karena di negeri yang beradab — nyata maupun dongeng — kebebasan selalu berjalan berdampingan dengan tanggung jawab.
