Mulla Sadra - Filsuf yang Diusir, Lalu Mengubah Cara Islam Berpikir

Diusir dari Shiraz karena dianggap sesat, Mulla Sadra menulis karya yang kini jadi fondasi filsafat Islam terbesar abad ke-17.

#filsafat #islam #filsafatislam #pemikirankritis

Kreator Moco
7 menit baca
Memuat gambar...
Mulla Sadra - Filsuf yang Diusir, Lalu Mengubah Cara Islam Berpikir

Ia harus meninggalkan Shiraz — kota tempat ia lahir dan besar — karena ulama-ulama senior menganggap pemikirannya terlalu berbahaya. Bukan karena ia murtad. Bukan karena ia meninggalkan Islam. Justru sebaliknya: ia membawa Islam ke kedalaman yang belum pernah dijangkau filsafat manapun sebelumnya.

Mulla Sadra, nama lengkapnya Sadr al-Din Muhammad ibn Ibrahim al-Shirazi, menghabiskan tahun-tahun pengasingannya di sebuah desa kecil bernama Kahak, dekat Qom, Iran. Di sana, tanpa perpustakaan besar, tanpa murid, tanpa pengakuan — ia menulis karya yang oleh Seyyed Hossein Nasr, salah satu filsuf Islam paling disegani abad ke-20, disebut sebagai "puncak sintesis tradisi intelektual Islam."

Lima ratus tahun setelah kematiannya pada 1640, pemikirannya masih diperdebatkan di universitas-universitas Tehran, Qom, dan bahkan di jurusan filsafat Oxford dan Harvard. Pertanyaannya: apa yang ia temukan, sampai ia harus diusir dulu sebelum dianggap jenius?

Dari Shiraz ke Pengasingan: Sebuah Tradisi yang Berulang

Lahir sekitar tahun 1571 di Shiraz, kota yang juga melahirkan Hafiz dan Sa'di, Mulla Sadra tumbuh di keluarga bangsawan Persia yang terpelajar. Ia belajar di Isfahan — pusat intelektual Dinasti Safawiyah — di bawah dua guru besar: Mir Damad dan Baha al-Din al-Amili.

Keduanya adalah figur puncak di zamannya. Tapi Mulla Sadra melampaui keduanya, dan justru di situlah masalah mulai muncul.

Pemikiran Mulla Sadra menggabungkan tiga arus besar yang selama ini dianggap tidak bisa berjalan berdampingan: filsafat rasional warisan Ibnu Sina (Avicenna), tradisi iluminasi (isyraqiyyah) Suhrawardi, dan mistisisme spekulatif Ibnu Arabi. Di atas ketiganya, ia letakkan fondasi teologi Islam Syiah yang kuat.

PDF page 1

Bagi banyak ulama fikih di Shiraz, kombinasi ini terasa provokatif — bahkan mengancam. Menurut Oliver Leaman dalam Islamic Philosophy: An Introduction (2009), ketegangan antara filsafat dan orthodoksi keagamaan memang sudah menjadi pola berulang dalam sejarah intelektual Islam, dari al-Ghazali yang menyerang Ibnu Sina hingga reaksi terhadap Mulla Sadra di abad ke-17.

Ia pun diusir. Dan di desa Kahak itulah, dalam isolasi yang dipaksakan, ia menulis al-Asfar al-Arba'ah — "Empat Perjalanan."

Asalat al-Wujud: Eksistensi Lebih Nyata dari Esensi

Ini adalah gagasan yang, jika kamu pertama kali mendengarnya, mungkin terasa abstrak. Tapi coba ikuti logikanya, karena dampaknya besar.

Pertanyaan filsafat paling dasar: apa yang paling nyata di alam semesta ini?

Sebagian besar filsuf sebelum Mulla Sadra — termasuk, secara tidak langsung, Ibnu Sina — berpandangan bahwa yang paling nyata adalah esensi (mahiyyah): sifat-sifat tetap yang mendefinisikan sesuatu. Sebuah pohon memiliki esensi "kepohon-an" yang tidak berubah, dan eksistensinya hanyalah kondisi tambahan.

Mulla Sadra membalik segalanya.

PDF page 2

Dalam doktrinnya yang disebut asalat al-wujud (primasi eksistensi), ia berargumen bahwa eksistensi-lah yang paling nyata, bukan esensi. Esensi adalah konsep mental yang kita tempelkan pada sesuatu. Yang benar-benar ada, yang benar-benar hidup dan bergerak di alam semesta, adalah eksistensi itu sendiri — dan eksistensi ini bersifat gradual: ada tingkatan, intensitas, dan derajatnya.

Menurut Fazlur Rahman dalam The Philosophy of Mulla Sadra (1975), ini bukan sekadar perbedaan semantik. Implikasinya menyentuh kosmologi, teologi, bahkan psikologi: jika eksistensi bersifat gradual, maka manusia bisa meningkatkan kadar eksistensinya — melalui pengetahuan, cinta, dan kedekatan dengan Yang Mutlak. Tuhan, dalam kerangka ini, adalah Eksistensi Murni yang Tak Terbatas (wujud mahd) — dan segala sesuatu adalah pancaran eksistensi-Nya dengan tingkat yang berbeda.

Ini bukan panteisme. Dan Mulla Sadra sangat hati-hati membedakannya. Tetapi ia juga tidak mau terjebak dalm dikotomi lama antara Tuhan yang "di luar" dan dunia yang "di dalam."

Al-Harakat al-Jawhariyyah: Alam Semesta yang Terus Bergerak dari Dalam

Jika asalat al-wujud adalah revolusi ontologis Mulla Sadra, maka al-harakat al-jawhariyyah — gerak substansial — adalah revolusi kosmologisnya.

Sebelum Mulla Sadra, filsafat Aristotelian yang dominan berpandangan bahwa gerak hanya terjadi pada aksiden (sifat luar): sesuatu bisa berpindah tempat, berubah warna, atau berubah ukuran. Tapi substansi — inti dari sesuatu — dianggap tetap dan tidak berubah.

Mulla Sadra menolak ini. Ia berargumen bahwa substansi itu sendiri terus bergerak dan berubah. Dunia fisik bukan kumpulan benda-benda statis yang sesekali mengalami perubahan luar. Dunia adalah proses yang terus mengalir, transformasi yang tak pernah berhenti di level yang paling dalam.

PDF page 3

Yang mengejutkan: pandangan ini — yang dirumuskan pada awal abad ke-17 di desa kecil Iran — memiliki resonansi kuat dengan fisika modern. Dalam Mulla Sadra's Transcendent Philosophy (2003), Muhammad Kamal membandingkan konsep ini dengan interpretasi proses dalam fisika kuantum, di mana partikel subatomik tidak memiliki sifat tetap sampai diobservasi.

Tentu saja Mulla Sadra tidak mengenal fisika kuantum. Tapi struktur logisnya ternyata mengantisipasi pertanyaan yang sama: apakah realitas pada dasarnya adalah proses, bukan benda?

Empat Perjalanan: Peta Jiwa Menuju Tuhan

Al-Asfar al-Arba'ah — karya magnum opus Mulla Sadra setebal ribuan halaman — secara harfiah berarti "Empat Perjalanan." Ini bukan metafora geografis. Ini adalah peta perjalanan jiwa:

  1. Dari makhluk menuju Tuhan — perjalanan intelektual dan spiritual menuju pemahaman tentang Yang Mutlak
  2. Bersama Tuhan, di dalam Tuhan — tahap kontemplasi mendalam, di mana jiwa bergerak "di dalam" nama-nama dan sifat-sifat Ilahi
  3. Dari Tuhan, kembali ke makhluk — pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada adalah manifestasi eksistensi Tuhan
  4. Bersama Tuhan, di antara makhluk — kembali ke dunia dengan mata yang berbeda: melihat Yang Ilahi dalam yang paling sehari-hari

Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam Sadr al-Din Shirazi and His Transcendent Theosophy (1978), struktur ini bukan sekadar sistematika buku. Ini adalah kurikulum transformasi diri — roadmap yang menggabungkan rigor intelektual dengan kedalaman spiritual. Filsafat bukan hanya soal memahami dunia; ia adalah jalan untuk mengubah siapa kita.

Di sinilah Mulla Sadra berbeda dari tradisi filsafat Barat yang memisahkan epistemologi dari transformasi pribadi. Baginya, pengetahuan sejati tidak bisa dipisahkan dari perubahan jiwa yang mengetahui.

Kenapa Mulla Sadra Relevan Sekarang

PDF page 4

Mulla Sadra meninggal tahun 1640 di Basra, dalam perjalanan haji ketujuhnya. Ia tidak pernah melihat karya-karyanya diakui secara luas. Tapi sejak abad ke-19, ketika para sarjana mulai menggali warisan intelektual Islam lebih serius, nama Mulla Sadra terus naik.

Henry Corbin, filsuf Prancis yang mendedikasikan hidupnya untuk memperkenalkan filsafat Islam ke Barat, menulis dalam En Islam Iranien (1971) bahwa Mulla Sadra adalah "salah satu pemikir terbesar yang pernah dilahirkan dunia Islam." Corbin bahkan menyebut al-Hikmat al-Muta'aliyah — nama lain untuk sistem filsafat Mulla Sadra — sebagai padanan Islam untuk apa yang Hegel coba lakukan di Barat: menyatukan pemikiran, realitas, dan spirit dalam satu sistem yang koheren.

Di Iran hari ini, karya Mulla Sadra wajib dipelajari di seminari-seminari Syiah dan program filsafat universitas. Di luar Iran, minat akademis terhadap pemikirannya terus tumbuh — terutama dalam diskursus tentang filsafat proses, ontologi Islam, dan dialog antara sains dan spiritualitas.

Bagi kita yang hidup di era di mana pertanyaan tentang identitas, kesadaran, dan makna hidup semakin mendesak, Mulla Sadra menawarkan sesuatu yang langka: sebuah sistem pemikiran yang tidak memaksa kita memilih antara akal dan iman, antara logika dan pengalaman spiritual.

Melampaui Pengasingan: Pelajaran dari Sebuah Karir yang Dimulai dengan Kekalahan

Ada satu detail kecil tentang Mulla Sadra yang sering luput dari perhatian.

Setelah bertahun-tahun di pengasingan, ia akhirnya kembali ke Shiraz dan mendirikan sekolahnya sendiri. Murid-muridnya kemudian menjadi penerus yang menyebarkan pemikirannya ke seluruh dunia Islam. Pengasingan yang awalnya terasa seperti kekalahan ternyata adalah periode paling produktif dalam hidupnya — di situlah karya-karya terbesarnya ditulis.

PDF page 5

Ini bukan romantisasi penderitaan. Ini adalah fakta tentang apa yang terjadi ketika seseorang dipaksa keluar dari lingkungan yang nyaman dan bising, lalu menemukan kedalaman yang tidak mungkin dicapai di tengah keramaian pengakuan.

Mulla Sadra membuktikan bahwa ketepatan berpikir tidak butuh pengakuan segera. Ia butuh kejujuran, kesabaran, dan keberanian untuk terus bertanya — bahkan ketika jawaban yang ia temukan tidak nyaman bagi banyak orang.

Ingat: Ide yang benar-benar besar sering kali tampak berbahaya sebelum tampak jenius.


Referensi & Resources:

  • Nasr, S. H. (1978). Sadr al-Din Shirazi and His Transcendent Theosophy. Tehran: Imperial Iranian Academy of Philosophy. [Tersedia dalam berbagai edisi akademis]
  • Rahman, F. (1975). The Philosophy of Mulla Sadra. Albany: State University of New York Press.
  • Corbin, H. (1971). En Islam Iranien: Aspects spirituels et philosophiques. Paris: Gallimard.
  • Leaman, O. (2009). Islamic Philosophy: An Introduction. Cambridge: Polity Press.
  • Kamal, M. (2006). Mulla Sadra's Transcendent Philosophy. Aldershot: Ashgate.
  • Stanford Encyclopedia of Philosophy: Mulla Sadra
  • Internet Archive — Al-Asfar al-Arba'ah digital manuscript: archive.org/details/mulla-sadra-asfar

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: