Nietzsche di Era Media Sosial - Nihilisme Generasi yang Terkoneksi

Hanya 31% manusia di dunia optimis tentang masa depan. Nietzsche menyebut kondisi ini 170 tahun lalu — dan sudah menyiapkan jawabannya.

#filsafat #nietzsche #nihilisme #genZ #mediasosial

Kreator Moco
7 menit baca
Memuat gambar...
Nietzsche di Era Media Sosial - Nihilisme Generasi yang Terkoneksi

Sebuah survei Ipsos pada 2024 menemukan fakta yang sulit diabaikan: hanya 31% manusia di seluruh dunia mengaku optimis terhadap masa depan dalam 12 bulan ke depan. Dua pertiga dari 50 negara yang disurvei menyatakan lebih memilih "hidup untuk hari ini, karena besok terlalu tidak pasti." Ipsos menyebutnya nouveau nihilism — nihilisme versi baru.

Friedrich Nietzsche, yang menulis Thus Spoke Zarathustra pada 1883, tidak pernah membayangkan TikTok. Tapi ia sudah membayangkan kondisi ini dengan presisi yang menggelisahkan. Ia menyebutnya krisis nilai — kondisi ketika semua yang pernah memberi makna runtuh, dan manusia berdiri di tengah puing-puing tanpa tahu harus membangun apa.

Yang berbeda hari ini: puing-puingnya di-scroll dalam format vertikal, 9 jam per hari, oleh generasi yang belum pernah mengenal dunia sebelum media sosial.

"God is Dead" Versi 2026: Ketika Institusi Runtuh di Timeline

Nietzsche menulis frasa terkenal itu bukan sebagai pernyataan ateisme. Ia menulis itu sebagai peringatan — bahwa struktur makna yang selama berabad-abad menopang peradaban Barat sedang runtuh, dan manusia belum siap menghadapi kekosongan yang ditinggalkannya.

Hari ini, "tuhan" yang mati bukan hanya Tuhan dalam pengertian teologis. Ia adalah kepercayaan pada institusi. Menurut YouGov, hampir satu dari lima orang dewasa di bawah 30 tahun di Amerika Serikat menyatakan bahwa kekerasan untuk tujuan politik kadang bisa dibenarkan — angka dua kali lipat dibandingkan generasi yang lebih tua. Lebih jauh lagi, 40% Gen Z percaya bahwa pemimpin kuat yang bisa melewati prosedur demokrasi adalah sistem pemerintahan yang baik.

Ini bukan data tentang Gen Z yang "jahat" atau apatis. Ini adalah data tentang kepercayaan yang telah habis. Seperti yang ditulis peneliti dari Builders Movement (2025), nihilisme kultural Gen Z bukan soal tidak peduli — melainkan soal terlalu peduli dulu, lalu kelelahan.

Nietzsche menyebut kondisi seperti ini sebagai nihilisme pasif: keadaan di mana seseorang menyerah pada kekosongan makna, memilih pesimisme, kelesuan, dan penarikan diri dari kehidupan. Bukan karena tidak mampu berpikir, tapi karena energi untuk melawan sudah habis.

PDF page 1

Dan media sosial, sayangnya, adalah mesin yang sempurna untuk menghasilkan nihilisme pasif secara massal.

Mesin Penghasil Keputusasaan: Bagaimana Algoritma Bekerja Seperti "Imam Nihilisme"

Ada satu analogi yang disampaikan filosof Nolen Gertz dalam wawancaranya dengan The Irish Times (2019) yang terasa semakin relevan: ia mendeskripsikan bagaimana Nietzsche menggambarkan lima cara yang digunakan para "imam" untuk membantu orang menghadapi nihilisme secara kontraproduktif — termasuk hypnosis diri, aktivitas mekanis, kesenangan kecil, mentalitas kawanan, dan orgi perasaan.

Gertz kemudian memetakan semua itu ke teknologi digital: Netflix untuk hipnosis, Fitbit untuk aktivitas mekanis, GoFundMe untuk kesenangan kecil, dan follower count sebagai mentalitas kawanan. Yang paling mencolok adalah poin terakhir — orgi perasaan, baik positif maupun negatif, seperti yang terjadi di Twitter/X setiap hari.

Riset dari GNET (Global Network on Extremism and Technology, 2022) menambahkan lapisan yang lebih gelap: echo chamber dan bombardemen informasi memiliki peran signifikan dalam memperkuat pola pikir nihilistik pada Gen Z yang tumbuh dalam lingkungan online. Studi multi-negara yang mereka kutip menemukan bahwa lebih dari 50% anak muda percaya manusia sudah ditakdirkan untuk hancur (doomed).

Lima puluh persen. Ini bukan statistik marginal.

Common Sense Media dalam laporannya juga mencatat bahwa rata-rata remaja usia 13-18 tahun menghabiskan sekitar 8,5 jam per hari di depan layar, sebagian besar di media sosial. Bukan hanya sebagai hiburan — tetapi sebagai kanal utama untuk menemukan informasi tentang dunia.

Jika informasi yang masuk didominasi konten krisis, bencana, ketidakadilan, dan saling menyalahkan — apa yang terjadi pada pandangan seseorang tentang makna hidup?

PDF page 2

Nihilisme Pasif vs. Aktif: Perbedaan yang Menentukan Segalanya

Di sinilah Nietzsche paling sering disalahpahami, dan salah paham ini perlu diluruskan.

Nietzsche bukan nihilis dalam pengertian populer. Ia seorang diagnostik nihilisme — ia mendiagnosis penyakitnya, lalu menawarkan obat. Dalam The Will to Power, ia secara eksplisit menulis: "Nihilism as a sign of increased power of the spirit: as active nihilism. Nihilism as decline and recession of the power of the spirit: as passive nihilism."

Terjemahan bebasnya: ada dua cara menghadapi kekosongan makna.

Nihilisme pasif adalah yang kita lihat di "doom-scrolling", di meme-meme tentang "nothing matters anyway", di fenomena blackpilled yang tumbuh subur di berbagai sudut internet. Seseorang menyadari bahwa nilai-nilai lama sudah tidak berlaku — lalu berhenti di situ. Pesimisme menjadi identitas, bukan transisi.

Nihilisme aktif, sebaliknya, adalah yang Nietzsche sebut sebagai prekursor Übermensch: seseorang yang menatap kekosongan itu, mengakuinya sepenuhnya, lalu dengan kesadaran penuh mulai menciptakan nilai-nilainya sendiri. Bukan karena nilai itu objektif atau diberikan Tuhan — tetapi karena hidup membutuhkan arah, dan arah harus dipilih secara sadar.

Seperti yang dijelaskan oleh John Messerly di Reason and Meaning (2020), nihilis aktif dalam visi Nietzsche adalah mereka yang "berani melangkah maju meski sudah kehilangan keyakinan yang sebelumnya memberi makna pada kehidupan mereka — dan secara bebas menciptakan nilai-nilai mereka sendiri."

Pertanyaannya adalah: apakah platform digital kita memfasilitasi nihilisme aktif, atau secara sistematis memproduksi nihilisme pasif?

PDF page 3

Jawabannya, berdasarkan arsitektur algoritma yang mengoptimalkan engagement melalui konten yang memicu kemarahan dan kecemasan, cukup jelas.

"Optimistic Nihilism" dan Paradoks Gen Z

Tapi ceritanya tidak seluruhnya gelap. Ada sesuatu yang menarik terjadi di TikTok sejak 2023-2024.

Istilah optimistic nihilism mulai viral — sebuah reframing yang pada dasarnya berkata: ya, mungkin tidak ada makna objektif, tapi justru itu artinya kita bebas menciptakan makna sendiri. Ini, menariknya, sangat dekat dengan apa yang Nietzsche maksudkan dengan nihilisme aktif.

Analis ekonomi Kyla Scanlon, dalam esainya tentang Gen Z and Financial Nihilism (2023), mengidentifikasi sesuatu yang penting: Gen Z bukan tidak mau melakukan apa-apa. Mereka tidak mau melakukannya dengan cara yang selama ini sudah ada. Ada pencarian kebebasan yang otentik di balik tampilan apatis itu.

Survei Ipsos yang sama yang melaporkan nouveau nihilism juga menemukan data yang kontradiktif: di Spanyol, 72% responden menyatakan bahagia, dan angka itu justru naik 11 poin sejak 2011. Generasi paling bahagia? Gen Z.

Ini adalah paradoks yang menarik — dan paradoks ini mungkin adalah bukti bahwa Nietzsche benar. Generasi yang paling terpapar nihilisme, jika tidak terjebak di tahap pasif, justru berpotensi menjadi generasi yang paling sadar dalam memilih makna.

Tapi "jika tidak terjebak" adalah syarat yang besar.

PDF page 4

Dari Scroll ke Penciptaan: Jawaban Nietzsche untuk Kita

Nietzsche tidak menawarkan solusi yang mudah. Tapi ada beberapa hal yang bisa kita ambil dari kerangka berpikirnya untuk konteks media sosial hari ini.

Pertama, bedakan konsumsi dari penciptaan. Nietzsche sangat skeptis terhadap "mentalitas kawanan" — mengikuti arus tanpa refleksi. Setiap kali kita meng-scroll secara pasif, kita sedang berlatih nihilisme pasif. Setiap kali kita menciptakan — menulis, membuat, membangun, berdebat dengan argumen — kita sedang melatih sesuatu yang lebih dekat dengan nihilisme aktif. Pertimbangkan rasio konsumsi vs. kreasi dalam waktu digital Anda.

Kedua, pilih makna secara sadar, bukan karena default. Salah satu kritik terbesar Nietzsche terhadap moralitas tradisional adalah bahwa orang menerimanya tanpa pertanyaan. Logika yang sama berlaku untuk nilai-nilai yang disebarkan algoritma. Pertanyaan "mengapa ini penting bagi saya?" adalah pertanyaan yang radikal — dan perlu lebih sering diajukan.

Ketiga, kenali perbedaan antara kesadaran kritis dan keputusasaan. Mengetahui bahwa dunia punya banyak masalah bukan berarti harus menyerah. Nietzsche menulis: "Ular yang tidak bisa berganti kulit harus mati. Begitu juga pikiran yang tidak boleh berubah pendapat — ia berhenti menjadi pikiran." Nihilisme pasif adalah ular yang menolak berganti kulit.


Kita hidup di era yang paling paradoks dalam sejarah manusia: paling terhubung sekaligus paling kesepian, paling banyak informasi sekaligus paling bingung tentang kebenaran, paling bebas secara teknis sekaligus paling sering merasa tidak berdaya.

Nietzsche tidak tahu itu akan terjadi. Tapi ia tahu bahwa ketika tatanan makna runtuh, ada dua pilihan: diam di reruntuhan, atau mulai membangun.

Mana yang sedang kita lakukan hari ini?

PDF page 5

Ingat: Nihilisme bukan takdir — ia adalah titik awal. Yang menentukan adalah apa yang kita lakukan setelah menyadari kekosongan.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: