Tujuh puluh tahun lalu, seorang presiden muda dari negara yang baru merdeka berpidato di hadapan 29 pemimpin Asia dan Afrika di Bandung. Ia berkata bahwa dunia sedang menghadapi konflik paling fundamental bukan antara kapitalisme dan komunisme, bukan antara Timur dan Barat — melainkan antara bangsa-bangsa yang ingin bebas dan kekuatan-kekuatan lama yang ingin terus mendominasi.
Waktu itu banyak yang meremehkan pidato itu sebagai romantisme seorang nasionalis. Kini, dengan BRICS mewakili lebih dari separuh populasi dunia dan Indonesia resmi bergabung sebagai anggota penuh pada Januari 2025, kita patut bertanya: apakah Soekarno hanya berspekulasi, atau ia memang sedang membaca arah sejarah?
NEFO dan OLDFO — Kerangka yang Terlalu Jauh ke Depan
Soekarno punya banyak akronim. Tapi satu yang paling ambisius adalah NEFO (New Emerging Forces) dan OLDFO (Old Established Forces). Ia memperkenalkan kerangka ini secara eksplisit pada 1961-1963, sebagai kelanjutan semangat Konferensi Bandung 1955.
Gagasannya sederhana tapi menggetarkan: dunia bukan terbagi dua berdasarkan ideologi (Barat vs Timur, kapitalisme vs komunisme), melainkan berdasarkan posisi struktural dalam tatanan global. NEFO adalah bangsa-bangsa yang baru merdeka, sedang bangkit, dan menolak dieksploitasi. OLDFO adalah kekuatan-kekuatan mapan yang mempertahankan keistimewaan kolonialnya melalui cara-cara baru — ekonomi, militer, dan diplomatik.
Soekarno merumuskan konflik ini sebagai: "There is a conflict which cuts deeper into the flesh of man — that is the conflict between the new emergent forces for freedom and justice and the old forces of domination."
Konsep ini jauh lebih radikal dari sekadar anti-kolonialisme biasa. Soekarno menolak logika Perang Dingin yang ditawarkan Washington maupun Moskow. Dalam satu pidatonya, ia secara eksplisit menyatakan bahwa "konflik ideologis [Perang Dingin] bukan, saya ulangi, bukan masalah utama zaman kita." Yang ia tawarkan adalah peta dunia alternatif, di mana Global South adalah aktor utama, bukan pion permainan kekuatan besar.
Tentu saja, AS tidak senang. Soekarno kemudian dijatuhkan melalui kudeta yang didukung Amerika Serikat — sebuah ironi brutal yang menjadi pola berulang di sepanjang abad ke-20 bagi pemimpin-pemimpin Global South yang terlalu vokal.
Bandung 1955 — Lebih dari Sekadar Foto Bersejarah
Pada April 1955, 29 bangsa dari Asia dan Afrika berkumpul di Bandung, Indonesia. Konferensi ini menandai kemunculan bangsa-bangsa Global South di panggung dunia, dan menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok di tengah persaingan Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Ini bukan sekadar pertemuan diplomatik biasa. Soekarno dalam pidato pembukaannya menyatakan: "Ini adalah konferensi antar-benua pertama dari bangsa-bangsa berwarna, dalam sejarah umat manusia. Saya bangga bahwa negara saya menjadi tuan rumah Anda. Ini adalah awal baru dalam sejarah dunia."
Konferensi Bandung adalah hasil visi politik dan perencanaan yang matang. Ini menandai pertemuan tingkat puncak pertama para pemimpin kemerdekaan, dengan warisan penting berupa lahirnya organisasi-organisasi negara berkembang seperti NAM dan G77.
Para akademisi kini menganalisis Konferensi Bandung sebagai peristiwa yang memeluk tiga visi dekolonisasi sekaligus: visi politik tentang kedaulatan teritorial dan penentuan nasib sendiri, visi ekonomi tentang kesetaraan dan keadilan, dan visi epistemik untuk pembebasan budaya dan intelektual dari warisan kolonialisme.
Yang membuat Bandung berbeda dari sekadar deklarasi simbolis adalah keberaniannya membingkai ulang pertanyaan-pertanyaan fundamental: Siapa yang berhak menentukan "aturan main" dunia? Siapa yang diuntungkan dari tatanan internasional saat itu? Dan kenapa bangsa-bangsa yang baru merdeka harus menerima arsitektur global yang dibangun saat mereka masih dijajah?

Dari Bandung ke BRICS — Garis yang Tidak Pernah Putus
Selama beberapa dekade setelah 1965, gagasan Soekarno dikubur bersama runtuhnya pemerintahannya. Gerakan Non-Blok kehilangan gigi. Unipolaritas AS pasca-1991 membuat wacana "multipolar" terdengar nostalgis dan tidak realistis.
Tapi garis itu tidak pernah benar-benar putus.
Pola abstain banyak negara Global South dalam pemungutan suara soal Ukraina di PBB menunjukkan bahwa identitas politik non-blok memiliki daya tahan lebih besar dari yang diperkirakan era unipolar 1990-an — bahwa negara-negara yang mengingat penjajahan betul-betul enggan menundukkan kebijakan luar negeri mereka pada kerangka Barat, bahkan ketika mereka secara umum berbagi nilai-nilai Barat.
Kemudian datanglah BRICS. Secara geopolitik, negara-negara BRICS semakin memposisikan diri sebagai suara "Global South," mengadvokasi tata kelola multipolar, representasi yang lebih besar dalam institusi internasional, dan mediasi dalam konflik global.
Angkanya signifikan. BRICS hari ini, termasuk anggota-anggota baru seperti Mesir, UAE, Ethiopia, Iran, dan Indonesia, mewakili lebih dari separuh populasi dunia dan sekitar 35-36% PDB dunia secara paritas daya beli.
Yang paling relevan bagi Indonesia: pada 6 Januari 2025, Indonesia secara resmi bergabung dengan BRICS sebagai anggota penuh, menjadi negara Asia Tenggara pertama yang melakukannya. Secara simbolis, ini adalah momen yang Soekarno — jika masih hidup — pasti akan sambut dengan pidato panjang di Gelora Bung Karno.

Pertanyaan yang Soekarno Belum Sempat Jawab
Tapi kita harus jujur: dunia multipolar yang tengah muncul ini bukan persis seperti yang Soekarno impikan. Ada tegangan-tegangan serius yang perlu diakui.
Pertama, soal siapa yang memimpin Global South. Dalam BRICS hari ini, China dan Rusia memegang pengaruh dominan. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah ini sungguh-sungguh tatanan multipolar yang setara, atau sekadar mengganti hegemoni Barat dengan hegemoni lain? Kolaborasi dalam BRICS tetap rapuh, karena para pemimpin China maupun Rusia dikabarkan tidak hadir secara langsung di KTT Rio 2025. Solidaritas ideologis sering kali kalah dari kepentingan nasional masing-masing.
Kedua, soal kohesi internal. NAM sebelumnya terpenetrasi dari dalam oleh kekuatan-kekuatan imperialisme, terutama oleh kediktatoran dan rezim otoriter yang didukung oleh Amerika Serikat, Uni Soviet, bekas kekuatan kolonial, dan kroni lokal mereka, yang melemahkan fungsionalitasnya. Sejarah bisa saja berulang.
Ketiga, soal agenda ekonomi yang belum selesai. Tantangan yang dihadapi negara-negara Global South tetap sama: kemiskinan, keterbelakangan pembangunan, meningkatnya kesenjangan, erosi tatanan global berbasis aturan dan multilateralisme, serta perubahan iklim.
Soekarno mungkin memenangkan argumen tentang diagnosis — bahwa tatanan dunia tidak adil dan perlu diubah. Tapi resepnya masih diperdebatkan sampai hari ini. NEFOS versi 2025 belum menemukan konsensus tentang bagaimana persis dunia baru itu seharusnya bekerja.
Relevansi untuk Indonesia Hari Ini
Presiden Brasil Lula dalam KTT BRICS 2025 di Rio menyatakan: "Jika tata kelola internasional tidak mencerminkan realitas multipolar baru abad ke-21, maka BRICS-lah yang harus berkontribusi untuk memperbaruinya." Kalimat ini terdengar seperti echo dari Soekarno enam dekade lalu.
Bagi Indonesia, keanggotaan BRICS membuka pertanyaan strategis yang tidak sederhana: Apakah kita bergabung sebagai penerus semangat Bandung — yaitu memperjuangkan tatanan dunia yang lebih adil — atau sekadar mencari keuntungan ekonomi jangka pendek? Apakah kita akan menjadi suara moral yang distingtif, seperti yang pernah Soekarno coba lakukan, atau sekadar satu dari sekian banyak negara yang berlomba mendapat tempat di meja kekuasaan baru?
Saat pidato pembukaan Konferensi Bandung, Soekarno menyerukan kepada bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk memobilisasi apa yang ia sebut sebagai "Moral Violence of Nations in favour of peace" — kekerasan moral bangsa-bangsa demi perdamaian. Ini bukan seruan kekerasan fisik — ini adalah seruan agar suara kolektif bangsa-bangsa yang pernah dijajah menjadi kekuatan moral yang tidak bisa diabaikan.
Pertanyaannya sekarang: di era BRICS dan tatanan multipolar yang sedang terbentuk, apakah Indonesia punya keberanian untuk sekali lagi menjadi tuan rumah wacana — bukan sekadar anggota klub?
Mewarisi Soekarno dengan Kritis
Tidak ada gunanya meromantisasi Soekarno secara membabi buta. Ia punya sisi gelap: represi politik, ekonomi yang kacau menjelang akhir kekuasaannya, konfrontasi yang seringkali kontraproduktif. Sisi-sisi itu perlu diakui.
Tapi ada satu hal yang sulit dibantah: dalam soal membaca struktur tatanan dunia, Soekarno tidak hanya tidak salah, ia lebih awal dari zamannya. Visinya tentang Global South sebagai aktor kolektif yang bisa menentang tatanan lama kini sedang menjadi kenyataan — meskipun dengan cara yang lebih berantakan dan penuh kontradiksi dari yang ia bayangkan.
Ide itu tidak pernah benar-benar mati. Ia dilembagakan dalam Gerakan Non-Blok, diperebutkan dalam konflik proxy Perang Dingin, tampaknya terkubur dalam momen unipolar 1990-an, dan kini muncul kembali dengan kekuatan baru di abad ke-21.
Tujuh puluh tahun setelah Bandung, dengan 120 anggota Gerakan Non-Blok dan BRICS yang terus membesar, kata-kata seorang presiden yang kemudian dijatuhkan paksa masih relevan. Mungkin lebih relevan dari sebelumnya.
Ingat: Sejarah sering kali membenarkan mereka yang dikalahkan — hanya saja, terlambat.
Referensi & Resources:
- Democracy Now!, "Historic 1955 Anti-Colonial Bandung Conference Inspired New Era in Global South" (April 2025) — https://www.democracynow.org/2025/4/22/1955_bandung_conference
- GEOPOL, "The Bandung Conference: When the Global South Found Its Voice" (Maret 2026) — https://geopol.uk/historical/bandung-conference/
- American Journal of Political Science / Wiley, "An anatomy of worldmaking: Sukarno and anticolonialism from post-Bandung Indonesia" (Maret 2025) — https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/ajps.12963
- Stimson Center, "2025 BRICS Summit: Takeaways and Projections" (Agustus 2025) — https://www.stimson.org/2025/2025-brics-summit-takeaways-and-projections/
- Carnegie Endowment for International Peace, "BRICS Expansion and the Future of World Order" (Maret 2025) — https://carnegieendowment.org/research/2025/03/brics-expansion-and-the-future-of-world-order
- The South Centre, "Revisiting the 1955 Bandung Asian-African Conference and its Legacy" — https://www.southcentre.int/question/revisiting-the-1955-bandung-asian-african-conference-and-its-legacy/
- Council on Foreign Relations, "What Is the BRICS Group and Why Is It Expanding?" (Juni 2025) — https://www.cfr.org/backgrounders/what-brics-group-and-why-it-expanding
