Dari 23.482 anak muda di 44 negara yang disurvei Deloitte tahun 2025, hampir separuhnya mengaku kondisi mental mereka sedang tidak baik-baik saja. Bukan dramatis, bukan lebay — itu angka. Dan angka itu jauh lebih tinggi dari yang mau kita akui di ruang kantor atau kolom komentar Instagram.
Kita hidup di era yang secara teknis paling nyaman dalam sejarah manusia. Akses informasi tak terbatas, pilihan karir lebih beragam dari sebelumnya, dan komunikasi lintas benua bisa dilakukan sambil tiduran. Tapi kenapa justru generasi ini — generasi yang lahir bersama internet — mengalami krisis kecemasan yang belum pernah terjadi sebelumnya?
Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu saya: kalau masalahnya adalah dunia modern yang terlalu bising dan penuh tekanan, kenapa solusinya tidak kita cari dari orang-orang yang sudah pernah menghadapi kondisi yang jauh lebih berat — dan tetap waras?
Angka yang Tidak Bisa Kita Abaikan
Survei Global Deloitte 2025 Gen Z and Millennial Survey menemukan bahwa hanya 52% Gen Z dan 58% milenial yang menilai kesehatan mental mereka sebagai good atau very good. Artinya, hampir separuh dari dua generasi yang sekarang mendominasi angkatan kerja global sedang berjuang secara psikologis — setiap hari, di meja kerja yang sama, di aplikasi Zoom yang sama.
Di Indonesia, datanya tidak lebih menggembirakan. Penelitian University College London mencatat bahwa tingkat depresi Gen Z dua pertiga lebih tinggi dibandingkan milenial. Survei Kesehatan Indonesia 2023 juga mencatat prevalensi depresi mencapai 1,4% populasi, dengan kelompok usia 15–24 tahun (Gen Z) mencapai angka 2% — lebih tinggi dari rata-rata nasional (Kompas.id, Oktober 2024).
Yang lebih mengkhawatirkan: ini bukan sekadar perasaan "lelah biasa". Menurut Deloitte 2025, 40% Gen Z dan 34% milenial merasa stres atau cemas hampir sepanjang waktu, dan sekitar sepertiga dari mereka menyatakan pekerjaan adalah kontributor utama tekanan itu. Ini bukan keluhan generasi yang manja. Ini sinyal sistemik yang butuh respons serius.
Tapi di sini letak paradoksnya: semakin banyak orang sadar soal mental health, semakin banyak konten self-care di media sosial, semakin banyak aplikasi meditasi berbayar — angkanya justru tidak membaik secara signifikan. Kita mungkin sudah terlalu fokus pada manajemen gejala, bukan pada cara pandang yang mendasarinya.
Epictetus Tidak Punya Notulen Rapat, Tapi Dia Pernah Jadi Budak
Epictetus lahir sebagai budak di Roma abad pertama Masehi. Dia tidak punya kendali atas tubuhnya, waktunya, atau nasibnya. Kakinya pernah dipatahkan oleh tuannya — ada riwayat yang menceritakan ini — dan konon Epictetus hanya berkata: "Aku sudah bilang kau akan mematahkannya."
Tenang yang tidak performatif. Tenang yang lahir dari prinsip.
Filsafat Stoa — yang kemudian dikenal sebagai Stoikisme — pertama kali dikembangkan oleh Zeno dari Citium sekitar 300 SM di Athena, lalu mencapai kematangannya lewat Epictetus, Seneca, dan Marcus Aurelius. Inti dari seluruh sistem filosofis ini bisa dirangkum dalam satu kalimat yang Epictetus tulis di Enchiridion:
"Ada hal-hal yang berada dalam kendali kita, dan ada yang tidak. Dalam kendali kita: opini, motivasi, keinginan, dan penolakan. Di luar kendali kita: tubuh, reputasi, jabatan, dan kekuasaan."
Dichotomy of Control — dikotomi kendali — inilah konsep paling relevan dari Stoikisme untuk generasi yang sedang tenggelam dalam kecemasan tentang hal-hal yang tidak bisa mereka kendalikan: kondisi ekonomi, algoritma media sosial, ekspektasi atasan, atau pandangan orang lain.
Ini bukan pasrah. Ini adalah presisi emosional — kemampuan untuk memilih di mana energi mental kita diinvestasikan.
Kenapa Stoikisme Bukan Sekadar "Jangan Lebay"
Ada kesalahpahaman besar tentang Stoikisme: bahwa ia mengajarkan untuk menekan emosi, tidak peduli, atau pura-pura semua baik-baik saja. Ini salah kaprah yang berbahaya, dan saya perlu meluruskannya.
Stoikisme tidak melarang perasaan. Ia membedakan antara pathe (emosi yang tidak terkontrol, dikuasai oleh kesan pertama) dan eupatheiai (respons emosional yang sudah diproses oleh akal). Seneca, salah satu filsuf Stoa terbesar, menulis surat-surat yang penuh dengan kesedihan, kerinduan, dan kegelisahan. Tapi ia tidak dikuasai oleh emosi itu.
Yang menarik — dan ini bukan kebetulan — adalah bahwa psikologi modern menemukan hal serupa. Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang sekarang diakui sebagai salah satu pendekatan terapi paling efektif untuk kecemasan dan depresi, secara eksplisit mengakui utangnya pada pemikiran Stoa. Penelitian yang diterbitkan di ResearchGate (Robertson & Codd, 2019) menyimpulkan bahwa metode-metode Stoa — termasuk Socratic questioning (mempertanyakan asumsi irasional) — sudah diintegrasikan ke dalam praktik CBT modern untuk menangani berbagai kondisi seperti gangguan kecemasan sosial, OCD, hingga depresi mayor.
Albert Ellis, pendiri Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang menjadi salah satu cikal bakal CBT, secara terbuka mengakui bahwa Epictetus adalah inspirasinya. Kalimat terkenal Epictetus — "Bukan hal-hal yang mengganggu kita, melainkan opini kita tentang hal-hal itu" — adalah versi kuno dari prinsip inti CBT: bahwa distorsi kognitif, bukan realitas itu sendiri, yang menghasilkan penderitaan emosional.
Jadi ketika seseorang mengatakan "coba berpikir Stoic dong", mereka mungkin sedang — tanpa sadar — merekomendasikan versi informal dari terapi berbasis bukti yang sudah diuji secara klinis selama puluhan tahun.
Tiga Prinsip Stoa yang Actionable untuk Kehidupan 2026
Teori tanpa aplikasi adalah buku yang tidak pernah dibuka. Berikut tiga prinsip Stoikisme yang bisa mulai dipraktikkan, bukan sebagai ideologi baru, tapi sebagai alat pikir yang konkret:
1. Premeditatio Malorum — Antisipasi Kesulitan Secara Sengaja
Seneca menulis: "Anticipate the worried mind." Ini bukan pesimisme. Ini adalah teknik mental di mana kita secara aktif membayangkan skenario terburuk yang mungkin terjadi, mengevaluasinya dengan dingin, lalu bertanya: "Apakah aku bisa bertahan jika ini terjadi?"
Praktisnya: sebelum presentasi besar atau keputusan penting, luangkan 10 menit untuk membayangkan skenario paling buruk yang realistis. Biasanya, kita sadar bahwa itu tidak sepahit yang terasa saat dicemaskan di pukul 2 pagi.
2. Amor Fati — Cintai Apa yang Terjadi
Marcus Aurelius menulis dalam Meditations: "Jangan berharap dunia terjadi sesuai keinginanmu; berharaplah keinginanmu sesuai dengan apa yang terjadi di dunia, dan kau akan menemukan kedamaian." Ini bukan tentang meniadakan ambisi — ini tentang melepaskan attachment pada hasil spesifik yang sering kali di luar kendali kita.
Dalam konteks kerja modern: kamu bisa bekerja keras mempersiapkan proposal terbaik, tapi tidak bisa mengontrol apakah klien setuju. Stoikisme memisahkan antara usaha (dalam kendali) dan hasil (di luar kendali), dan hanya menghukum dirimu atas yang pertama.
3. Journaling Reflektif Ala Marcus Aurelius
Meditations — buku paling terkenal Marcus Aurelius — sebenarnya bukan buku yang ditulis untuk diterbitkan. Itu adalah jurnal pribadinya, catatan pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan kepada dirinya sendiri setiap hari: Apa yang aku lakukan dengan benar hari ini? Di mana aku reaktif ketika harusnya responsif? Apa yang sebenarnya berada dalam kendaliku?
Penelitian dari University of Texas, Austin oleh psikolog James Pennebaker menunjukkan bahwa journaling reflektif secara konsisten selama 15–20 menit sehari berkaitan dengan penurunan tingkat stres, peningkatan kejernihan pikiran, dan bahkan indikator kesehatan fisik yang lebih baik (Pennebaker & Smyth, 2016, Opening Up by Writing It Down).
Batas Stoikisme — Karena Jujur Itu Penting
Saya perlu jujur di sini: Stoikisme bukan terapi. Ia tidak dirancang untuk menggantikan bantuan profesional bagi mereka yang mengalami gangguan klinis seperti depresi berat, gangguan kecemasan umum, atau PTSD. Menganjurkan seseorang yang tengah dalam krisis mental akut untuk "lebih Stoic" bisa jadi sama tidak sensitifnya dengan menyuruh orang patah kaki untuk "lebih banyak berjalan".
Stoikisme paling efektif sebagai fondasi mental preventif — cara pandang yang dibangun sebelum krisis datang, bukan pengganti respons darurat ketika krisis sudah terjadi.
Ada juga kritik yang valid: beberapa feminis dan aktivis kesehatan mental mencatat bahwa Stoikisme, dalam bentuk yang disalahpahami, bisa memperkuat budaya "tahan saja" yang berbahaya — terutama bagi laki-laki yang sudah dikondisikan untuk tidak mengekspresikan kerentanan. Ini poin penting. Stoikisme yang sehat adalah yang membedakan antara regulasi emosi dan penekanan emosi — dua hal yang sangat berbeda.
Dalam tradisi Islam, ada resonansi yang menarik di sini. Konsep sabar dalam Al-Quran bukan sekadar pasif menerima, melainkan kesabaran yang aktif — tetap melakukan yang benar sambil menerima bahwa hasil akhir adalah urusan Allah, bukan manusia. Ini secara struktural mirip dengan amor fati Stoa, meskipun landasan teologisnya tentu berbeda.

Dari Stoa ke Solusi — Mulai dari Mana?
Krisis mental generasi produktif bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu pendekatan. Tapi ada yang bisa dimulai hari ini, minggu ini, tanpa biaya besar:
- Baca Meditations oleh Marcus Aurelius — versi terjemahan Gregory Hays yang modern dan mudah dibaca. Ini bukan buku filsafat akademis; ini catatan pribadi seorang pemimpin yang sedang berjuang melawan dirinya sendiri.
- Mulai jurnal reflektif harian, 10–15 menit, dengan tiga pertanyaan sederhana: Apa yang aku kendalikan hari ini? Apa yang aku lepaskan? Di mana aku reaktif padahal bisa responsif?
- Latih Dichotomy of Control ketika kecemasan datang: tuliskan apa yang sedang membuatmu khawatir, lalu bagi menjadi dua kolom — "dalam kendaliku" dan "di luar kendaliku". Fokus hanya pada kolom pertama.
Dan jika gejalamu sudah melampaui kecemasan sehari-hari — jika ada perasaan tidak berdaya yang persisten, kehilangan minat berkepanjangan, atau pikiran yang mengganggu — tolong cari bantuan profesional. Psikolog dan psikiater ada untuk alasan yang nyata.
Kita Butuh Lebih dari Aplikasi Meditasi
Data Deloitte 2025 menunjukkan bahwa di antara Gen Z dan milenial yang melaporkan kesehatan mental positif, 67–72% merasakan pekerjaan mereka berkontribusi secara bermakna pada dunia. Ini bukan kebetulan. Makna — meaning — adalah salah satu variabel paling konsisten yang muncul dalam riset kesejahteraan psikologis.
Dan di sinilah Stoikisme, dengan semua keterbatasannya, menawarkan sesuatu yang jarang diberikan oleh aplikasi mindfulness berbayar: sebuah kerangka untuk menemukan makna bukan dari kondisi eksternal, tapi dari karakter internal. Dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari tentang bagaimana kita merespons dunia.
Epictetus tidak punya akun LinkedIn. Tapi cara dia memilih untuk merespons kondisi yang sepenuhnya di luar kendalinya — itu adalah pelajaran yang belum kadaluarsa.
Ingat: Yang paling sering membuat kita menderita bukan realita itu sendiri, melainkan interpretasi yang kita pasang di atasnya — dan interpretasi adalah salah satu hal sedikit yang benar-benar masih dalam kendali kita.
Referensi & Resources:
- Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey — https://www.deloitte.com/global/en/issues/work/world-mental-health-day.html
- Survei Kesehatan Indonesia 2023, data depresi kelompok usia 15–24 tahun — Kompas.id, Oktober 2024
- Robertson, D. & Codd, T. (2019). Stoic Philosophy as a Cognitive Behavioral Therapy — https://www.researchgate.net/publication/347464020
- University College London, penelitian tingkat depresi Gen Z vs milenial — dikutip melalui https://vokasi.unair.ac.id/gen-z-dan-tantangan-mental-health-menghadapi-tekanan-di-era-modern/
- Pennebaker, J.W. & Smyth, J.M. (2016). Opening Up by Writing It Down. Guilford Press.
- Marcus Aurelius. Meditations — terjemahan modern oleh Gregory Hays (2002), Modern Library.
- Epictetus. Enchiridion — tersedia gratis di Project Gutenberg: https://www.gutenberg.org/ebooks/45109
