Tawakal Bukan Pasrah - Salah Kaprah yang Bikin Kita Diam

Jutaan Muslim salah paham soal tawakal — lalu menyebutnya berserah diri ketika sebenarnya hanya malas berusaha.

#tawakal #ikhtiar #filsafatislam #spiritualitas

Kreator Moco
9 menit baca
Memuat gambar...
Tawakal Bukan Pasrah - Salah Kaprah yang Bikin Kita Diam

Malam itu, setelah pengajian bubar dan karpet sudah digulung, Kang Ali dan Mas Wildan masih duduk di teras masjid. Segelas teh panas mengepul di antara mereka. Topiknya bukan soal materi tadi — tapi soal sebuah pertanyaan yang rupanya sudah lama mengganjal di benak Mas Wildan.

"Kang, saya bingung," kata Wildan, memutar-mutar gelas dengan dua jari. "Waktu saya lamar kerja bulan lalu, ada yang bilang ke saya: 'Sudah, tawakal saja.' Tapi waktu saya minta saran teknis soal persiapan interview, orang yang sama bilang saya kurang usaha. Lah, mana yang bener?"

Kang Ali diam sebentar. Kemudian tersenyum. "Dua-duanya bener. Dan dua-duanya salah kaprah."

Itulah titik masalahnya. Tawakal adalah satu dari konsep paling sering disebut dalam kehidupan Muslim sehari-hari — dan salah satu yang paling sering disalahpahami. Banyak yang memaknainya sebagai sinonim dari pasrah, berhenti berusaha, atau menyerahkan nasib begitu saja ke langit. Padahal ulama besar kita sudah ratusan tahun lalu memperjelas: itu bukan tawakal. Itu sesuatu yang berbeda — dan dalam beberapa kondisi, bisa disebut lalai.

Kesalahpahaman yang Sudah Ada Sejak Zaman Nabi

Salah paham soal tawakal ternyata bukan fenomena baru. Bahkan di zaman Nabi Muhammad SAW sendiri, ada yang memahaminya dengan cara yang keliru persis seperti kita sekarang.

Dikisahkan, ketika Nabi Muhammad akan mengerjakan shalat di Masjid Nabawi Madinah, tiba-tiba ada seorang jamaah dari luar kota yang datang menggunakan unta. Orang itu melepaskan untanya begitu saja tanpa diikat terlebih dahulu, lalu masuk masjid dan berkata: "Aku bertawakal kepada Allah."

Respons Nabi? Ia tidak memuji. Ia balik bertanya, lalu mengoreksi.

Nabi menjawab kepada sahabat itu: "Alqilha watawakkal" — ikatlah unta itu lalu bertawakal kepada Allah SWT. (HR Tirmidzi, hadis hasan).

Kalimat ini pendek. Tapi maknanya dalam sekali. Nabi tidak bilang: "Pilih salah satu — ikat atau tawakal." Beliau menggabungkan keduanya dalam satu napas. Ikat dulu. Baru tawakal.

PDF page 1

Urutan ini bukan kebetulan. Dalam bahasa Arab, kata kerja i'qilha (ikatlah) datang lebih dulu dari kata tawakkal (bertawakallah). Ini adalah instruksi berurutan, bukan pilihan.

Profesor Muhammad Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa dalam hal menjadikan Allah SWT sebagai 'wakil', manusia dituntut untuk melakukan sesuatu yang berada dalam batas kemampuannya. Tawakal bukan berarti penyerahan mutlak nasib manusia kepada Allah semata — penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusiawi.

Ini bukan pendapat pinggiran. Ini adalah konsensus ulama lintas mazhab, dari klasik sampai kontemporer.

Al-Ghazali dan "Daging di Atas Landasan"

Imam Al-Ghazali — penulis Ihya Ulumuddin, salah satu karya terbesar dalam sejarah pemikiran Islam — menggunakan sebuah analogi yang cukup keras untuk menggambarkan tawakal yang salah.

Al-Ghazali berkata: "Terkadang orang menyangka bahwa makna tawakal itu meninggalkan usaha dengan badan, meninggalkan pengaturan dengan hati dan jatuh di atas bumi bagaikan daging di atas landasan tempat memotong daging." Menurutnya, ini adalah sangkaan orang-orang yang bodoh — bahkan hal seperti ini diharamkan oleh syariah.

Bayangkan daging di atas talenan. Diam. Tak bergerak. Menunggu. Itulah gambaran tawakal yang salah menurut Al-Ghazali. Gambar yang cukup keras, tapi diperlukan karena kesalahan ini sudah menyebar luas bahkan di zaman beliau hidup (abad ke-11 Masehi).

Menurut Al-Ghazali, tawakal adalah sebuah bentuk keyakinan dan ketergantungan total kepada Allah setelah seseorang berusaha dengan maksimal. Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi menempatkan hasil akhir sepenuhnya dalam kehendak Allah.

Kata kunci di sini adalah "setelah." Tawakal bukan kondisi awal. Ia adalah kondisi akhir — setelah semua ikhtiar sudah dikerahkan dan tangan manusia sudah mencapai batas kemampuannya.

Tawakal adalah sikap mental yang bersumber di hati. Namun, ketika mewujud dalam tindakan, tawakal selalu berbarengan dengan ikhtiar. Bahkan, ikhtiar adalah bagian dari tawakal itu sendiri.

PDF page 2

Ini mungkin kalimat paling penting yang perlu digarisbawahi: ikhtiar adalah bagian dari tawakal, bukan lawannya.

Kenapa Urutan Ini Penting?

Kembali ke percakapan Kang Ali dan Mas Wildan. Kang Ali akhirnya menjelaskan dengan cara yang sederhana.

"Tawakal itu seperti kamu melepas layangan," katanya. "Kamu pegang benangnya dulu, kamu lari dulu biar layangan naik, kamu atur arah angin. Baru setelah layang-layang itu udah di udara, kamu bisa lepas benangnya dan bilang: 'Terserah angin.' Tapi kalau dari awal kamu langsung lempar layangan ke udara tanpa lari, tanpa benang — itu bukan pasrah. Itu boros."

Analogi itu membantu. Tapi ada dimensi yang lebih dalam yang perlu dipahami.

Al-Qusyairi dalam Risalah Al-Qusyairiyyah mengatakan: "Ketahuilah bahwa tawakkal tempatnya adalah hati, sementara gerakan anggota badan (usaha) tidaklah menafikan tawakkal itu sendiri."

Tawakal adalah kondisi batin, bukan kondisi fisik. Seseorang bisa sangat sibuk, bekerja keras, berkeringat — dan tetap bertawakal. Sebaliknya, seseorang bisa duduk diam seharian dan sama sekali tidak bertawakal, karena hatinya penuh kecemasan dan bergantung pada kalkulasi manusiawi semata.

Yang tidak boleh terjadi dan merusak tawakal adalah jika hati terpaut dengan usaha semata, bergantung hanya kepada usaha, lupa bahwa sebab dan usaha tidak pernah berpengaruh dengan sendirinya.

Ini adalah sisi lain dari masalah. Ada yang salah kaprah dengan tidak berusaha lalu menyebutnya tawakal. Tapi ada juga yang salah kaprah di ujung lain: berusaha keras tapi lupa bahwa hasilnya bukan di tangan mereka. Yang pertama terlalu pasif. Yang kedua terlalu bergantung pada diri sendiri. Keduanya bukan Islam.

Nabi Baju Besi Dua Lapis

PDF page 3

Salah satu gambar paling kuat tentang bagaimana Nabi sendiri mempraktikkan ini ada di Perang Uhud.

Nabi Muhammad SAW mengenakan dua lapis baju besi ketika Perang Uhud sebagai bentuk ikhtiar untuk melindungi dirinya dalam pertempuran. Meskipun beliau sudah berusaha keras dengan mempersiapkan perlindungan, pada saat yang sama beliau tetap mengandalkan Allah dalam setiap tindakannya.

Dua lapis baju besi. Bukan satu. Ini adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah yang pernah hidup di muka bumi — dan ia memakai pelindung dua lapis sebelum berperang.

Ada juga kisah Hijrah yang lebih dramatis. Ketika berhijrah ke Madinah, Nabi membuat perencanaan yang matang: menyiapkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidurnya, mengajak Abu Bakar sebagai pendamping, menentukan penunjuk jalan, menuju gua Tsaur yang arahnya berbeda dengan Madinah, menyiapkan pengantar bekal makanan, dan menentukan orang yang menghapus jejaknya. Perencanaan ini panjang dan detail. Dan setelah semua itu dilakukan, ketika musuh sudah sampai di mulut gua — barulah Nabi berkata kepada Abu Bakar: "Wahai Abu Bakar, apa dugaanmu atas dua orang sementara Allah bersama mereka?"

Itulah tawakal sejati. Bukan tanpa rencana. Bukan tanpa usaha. Tapi bersama usaha — dan melepaskan hasilnya kepada Allah.

Tiga Level Tawakal Menurut Al-Ghazali

Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi tawakal ke dalam tingkatan — sebuah kerangka yang sangat berguna untuk menilai di mana posisi kita.

Menurut Al-Ghazali, tingkatan tawakal ada tiga. Pertama, tawakalnya orang awam yang masih bergantung pada sebab-sebab lahir. Kedua, tawakalnya orang-orang yang sudah memiliki kedekatan lebih tinggi kepada Allah. Dan ketiga, tawakal tertinggi yang merupakan penyerahan penuh tanpa keraguan sedikitpun atas keputusan Allah.

Kebanyakan dari kita berada di tingkatan pertama — dan itu tidak ada masalahnya. Masalahnya hanya ketika kita mengklaim bertawakal di tingkat ketiga, padahal kita bahkan belum memenuhi syarat tingkat pertama: berusaha.

Pemikiran Al-Ghazali tentang tawakal memiliki tiga poin penting: keyakinan atas keesaan Allah, merasakan keadaan bersama Allah, dan berhadapan dengan Allah. Sebagai seorang Muslim diharuskan untuk berusaha atau ikhtiar, tetapi dalam saat yang bersamaan ia diharuskan untuk berserah diri kepada Allah SWT.

PDF page 4

"Dalam saat yang bersamaan" — ini frasa yang menarik. Ikhtiar dan tawakal bukan dua fase terpisah seperti babak dalam pertandingan. Mereka terjadi bersamaan. Ketika kita bekerja keras, hati kita seharusnya sudah dalam kondisi tawakal — tidak tegang mengejar hasil, tidak parno takut gagal, tapi sepenuhnya hadir dalam usaha sambil melepaskan kegelisahan tentang apa yang belum terjadi.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang

Kang Ali mengakhiri obrolan malam itu dengan tiga poin yang ia catat di punggung amplop bekas — kebiasaan lamanya ketika menemukan sesuatu yang worth keeping.

Pertama, periksa dulu sudah ikhtiar belum. Sebelum menyebut "tawakal", tanya jujur: sudah ikat unta-mu belum? Sudah kirim CV? Sudah belajar? Sudah coba? Kalau belum, yang sedang kamu lakukan bukan tawakal — itu penundaan dengan kemasan spiritual.

Kedua, pindahkan kecemasan dari hasil ke proses. Tawakal sejati bukan berarti tidak peduli hasil. Tapi kecemasan tentang hasil yang belum terjadi adalah energi yang salah tempat. Fokus pada apa yang bisa dikontrol — kualitas ikhtiar — lalu serahkan sisanya.

Ketiga, jangan jadikan tawakal sebagai kata untuk menutup percakapan. Ketika seseorang berbagi kesulitan, mengatakan "tawakal aja" tanpa konteks bisa terasa seperti menutup pintu. Tanya dulu: sudah coba apa? Bisa dibantu apa? Tawakal itu urusan personal antara hamba dan Allah — bukan nasihat ringkas yang bisa diberikan dari luar.

Iman yang Aktif, Bukan Iman yang Diam

Mas Wildan akhirnya mengerti. "Jadi tawakal itu bukan 'udah, gapapa' — tapi 'udah semua yang bisa gue lakuin, sekarang gue serahin hasilnya.'"

"Tepat sekali," kata Kang Ali. "Dan perbedaan antara dua kalimat itu bukan soal kata-katanya. Tapi soal berapa banyak usaha yang sudah ada di antara keduanya."

Islam dengan tegas menjelaskan bahwa seorang mukmin yang ideal adalah yang menyeimbangkan ikhtiar dan tawakal. Banyak kesalahpahaman muncul ketika tawakal disalahartikan sebagai pasrah tanpa usaha, atau ikhtiar disalahpahami sebagai bentuk ketidakpercayaan kepada ketetapan Allah.

PDF page 5

Tawakal yang benar adalah iman yang aktif. Ia percaya bahwa Allah Maha Kuasa atas hasil — tapi karena percaya, ia justru berusaha sepenuh-penuhnya. Karena ia tahu Allah menciptakan hukum sebab-akibat, dan menghormati hukum itu adalah juga bentuk ibadah.

Burung dalam hadits Nabi tidak menunggu cacing datang sendiri ke sarangnya. Ia terbang keluar setiap pagi dalam keadaan lapar, mencari dengan sungguh-sungguh, dan pulang kenyang. Itulah contoh tawakal yang Nabi gambarkan paling indah — bukan diam, tapi terbang. Bukan menunggu, tapi mencari.

Tambatkan dulu untamu. Baru bertawakal.


Referensi & Sumber:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: