Thomas Aquinas - Lembu Bodoh yang Mengguncang Filsafat Barat

Dijuluki "lembu bodoh" oleh teman-temannya — lalu 750 tahun kemudian masih diajarkan di 1.400+ universitas dunia.

#filsafat #thomasaquinas #sejarahintelektual #teologi

Kreator Moco
8 menit baca
Memuat gambar...
Thomas Aquinas - Lembu Bodoh yang Mengguncang Filsafat Barat

Di ruang kelas biara Cologne, sekitar tahun 1245, ada seorang mahasiswa yang selalu diam. Badannya besar, gerakannya lambat, nyaris tidak pernah bicara selama diskusi. Teman-temannya menyebutnya il bue muto — "lembu bodoh yang bisu." Nama aslinya: Thomas Aquinas.

Gurunya, Albertus Magnus — salah satu intelektual terbesar Abad Pertengahan — rupanya melihat sesuatu yang tidak dilihat siapapun. Dalam sebuah kuliah, ia meminta Thomas mempresentasikan argumen yang paling sulit. Thomas bicara. Semua terdiam. Albertus kemudian berkata di depan kelas, seperti yang dikutip oleh biograf Thomas, William of Tocco: "Suara lembu bisu ini akan menggelegar ke seluruh dunia."

Albertus tidak salah. Tujuh ratus lima puluh tahun setelah kematiannya, Thomas Aquinas masih menjadi kurikulum wajib di ratusan universitas — dari Universitas Notre Dame hingga Universitas Oxford. Bukan hanya di sekolah teologi, tapi juga di program filsafat, hukum, dan etika politik.

Dari Keluarga Bangsawan ke Biara — Pilihan yang Mengejutkan Semua Orang

Thomas lahir pada 1225 di Kastil Roccasecca, Italia Selatan, dari keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh. Keluarganya membayangkan ia akan menjadi seorang abbot — pemimpin biara kaya dan berpengaruh secara politik, bukan sekadar biarawan biasa. Ketika Thomas memilih bergabung dengan Ordo Dominikan — ordo para pengembara yang hidup miskin — keluarganya tidak terima.

Menurut sejarawan Simon Tugwell, O.P., dalam Albert and Thomas: Selected Writings (1988), keluarga Aquinas bahkan menculik Thomas dan mengurungnya di kastil selama setahun penuh untuk mengubah pikirannya. Mereka mencoba berbagai cara, termasuk — menurut beberapa kronik — mengirimkan seorang wanita ke kamarnya untuk menggodanya. Thomas konon mengambil sepotong kayu dari api dan mengusirnya, lalu mengukir salib pada dinding, dan berlutut berdoa sepanjang malam.

Tekad itu tidak goyah. Keluarganya akhirnya menyerah.

Pilihan Thomas untuk bergabung dengan Dominikan justru membuka akses ke jaringan intelektual terbaik Eropa. Ia belajar di Naples, Paris, dan Cologne — kota-kota yang saat itu menjadi pusat debat besar tentang sesuatu yang sangat mengkhawatirkan Gereja: masuknya filsafat Aristoteles ke Eropa melalui terjemahan Arab.

PDF page 1

Ketika Aristoteles Datang dari Dunia Islam

Inilah konteks yang sering dilupakan dalam narasi tentang Aquinas: karya-karya Aristoteles yang ia pelajari dan jadikan fondasi pemikirannya sebagian besar sampai ke Eropa melalui terjemahan dan komentar para filsuf Islam — terutama Ibnu Rusyd (Averroes) dari Kordoba, dan Ibnu Sina (Avicenna) dari Persia.

Menurut sejarawan ilmu pengetahuan Edward Grant dalam God and Reason in the Middle Ages (Cambridge University Press, 2001), lebih dari 40 karya Aristoteles masuk ke Eropa Barat melalui terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin antara abad ke-12 dan ke-13. Tanpa rantai transmisi intelektual dari dunia Islam ini, Aquinas tidak akan memiliki bahan baku untuk membangun sistemnya.

Masalahnya: Aristoteles mengajarkan bahwa alam semesta tidak pernah diciptakan — ia kekal selamanya. Ini bertentangan langsung dengan doktrin Kristen tentang penciptaan. Beberapa pemimpin Gereja ingin melarang Aristoteles sama sekali. Aquinas justru mengambil jalan sebaliknya.

Ia duduk, membaca, dan memulai proyek yang belum pernah ada sebelumnya: mendamaikan akal dan iman.

Lima Jalan — Argumen yang Masih Diperdebatkan Sampai Hari Ini

Karya terbesar Aquinas, Summa Theologica, dimulai sekitar tahun 1265 dan secara resmi tidak pernah selesai. Di dalamnya, ia merumuskan apa yang dikenal sebagai Quinque Viae — Lima Jalan — yaitu lima argumen untuk membuktikan keberadaan Tuhan melalui nalar, bukan hanya melalui iman.

Ringkasan dari lima argumen tersebut, berdasarkan terjemahan standar oleh Fathers of the English Dominican Province (1920):

PDF page 2
  1. Argumen dari Gerak — Segala sesuatu yang bergerak digerakkan oleh sesuatu yang lain. Rangkaian ini tidak mungkin tak terbatas, maka harus ada Penggerak Pertama yang tidak digerakkan.
  2. Argumen dari Sebab Efisien — Setiap akibat memiliki sebab. Rantai sebab-akibat memerlukan penyebab pertama yang tidak disebabkan oleh apapun.
  3. Argumen dari Kemungkinan dan Keniscayaan — Segala sesuatu yang ada bisa saja tidak ada. Maka harus ada satu Wujud yang keberadaannya niscaya — yang tidak bergantung pada apapun untuk ada.
  4. Argumen dari Tingkatan Kesempurnaan — Ada derajat kebaikan, kebenaran, dan kemuliaan di alam. Derajat ini mengandaikan ada sesuatu yang paling sempurna sebagai patokan.
  5. Argumen dari Tatanan Alam — Alam bergerak menuju tujuan yang teratur, meski benda-benda tidak punya kesadaran. Ini mengandaikan ada Inteligensi yang mengarahkan.

Argumen-argumen ini bukan baru secara total — beberapa berakar pada Aristoteles, dan versi serupa ditemukan dalam tradisi filsafat Islam (Ibnu Sina mengembangkan argumen yang sangat mirip dengan jalan ketiga). Yang membuat Aquinas berbeda adalah cara ia menyusunnya dalam satu sistem yang koheren dan mengintegrasikannya dengan teologi Kristiani.

Sampai sekarang, perdebatan tentang Lima Jalan ini tidak berhenti. Filsuf ateis kontemporer seperti Bertrand Russell dan Richard Dawkins mengkritiknya; filsuf teistik seperti Alvin Plantinga dan Edward Feser membelanya. Itu sendiri sudah membuktikan betapa artikel-artikel pikiran ini masih relevan — argumen yang tidak direspons sudah tidak akan direspons.

Berhenti Menulis di Tengah Jalan — dan Alasannya

Pada 6 Desember 1273, sesuatu terjadi kepada Thomas Aquinas saat ia sedang melaksanakan Misa pagi. Ia berhenti mendadak. Setelah itu, ia tidak pernah menulis satu kata pun lagi.

Kepada sahabatnya, Reginald dari Piperno, yang terus memintanya melanjutkan Summa Theologica, Thomas hanya berkata: "Reginald, aku tidak bisa lagi. Segala sesuatu yang aku tulis kelihatannya seperti jerami dibandingkan apa yang aku lihat."

Thomas meninggal tiga bulan kemudian, pada 7 Maret 1274, di usia sekitar 48 atau 49 tahun. Summa Theologica — yang terdiri dari lebih dari 3.000 artikel dan sekitar 1,8 juta kata — tidak pernah diselesaikan.

Ia dikanonikkan (dinyatakan sebagai orang suci) oleh Paus Yohanes XXII pada 1323, kurang dari 50 tahun setelah wafatnya. Pada 1879, Paus Leo XIII melalui ensiklik Aeterni Patris menetapkan pemikiran Aquinas sebagai filsafat resmi Gereja Katolik Roma — sebuah status yang berlanjut hingga hari ini.

Warisan yang Melampaui Dinding Gereja

PDF page 3

Menariknya, pengaruh Aquinas tidak berhenti di pintu gereja. Teorinya tentang hukum alam (natural law) — gagasan bahwa ada prinsip moral universal yang bisa ditemukan lewat akal manusia — menjadi fondasi penting dalam pengembangan hukum internasional modern.

Hugo Grotius, yang sering disebut sebagai bapak hukum internasional, secara eksplisit mengacu pada tradisi hukum alam Aquinas dalam karyanya De Jure Belli ac Pacis (1625). Begitu juga dengan banyak deklarasi hak asasi manusia modern yang bersandar pada konsep bahwa ada hak-hak yang melekat pada manusia bukan karena hukum negara, tapi karena sifat dasar manusia itu sendiri.

Filsuf politik John Finnis, Professor Emeritus di Universitas Notre Dame dan Oxford, berpendapat dalam Natural Law and Natural Rights (1980) bahwa kerangka hukum alam Aquinas masih merupakan fondasi paling konsisten untuk membicarakan hak asasi tanpa bergantung pada asumsi keagamaan tertentu.

Ini yang luar biasa: Aquinas membangun sebuah sistem yang memungkinkan diskusi moral dilakukan di ruang publik, bukan hanya di ruang teologi.

Apa yang Bisa Kita Ambil dari Lembu Bodoh Itu

Thomas Aquinas bukan figur yang relevan hanya untuk teolog atau sejarawan filsafat. Ada tiga pelajaran yang bisa diambil siapa saja.

Pertama: Diam bukan berarti kosong. Aquinas yang diam di kelas Cologne bukan karena tidak ada yang dipikirkan — justru sebaliknya. Kebiasaan mendengarkan dan merenungkan sebelum berbicara adalah kualitas yang makin langka di era media sosial, tapi makin berharga.

Kedua: Sintesis lebih sulit dari oposisi. Mudah untuk menolak pandangan yang berbeda. Yang sulit — dan yang justru menciptakan pengetahuan baru — adalah mencari titik temu antara dua tradisi yang tampak bertentangan. Aquinas tidak memilih antara Aristoteles dan iman; ia menemukan cara keduanya bisa berbicara satu sama lain.

PDF page 4

Ketiga: Tahu kapan berhenti adalah juga kebijaksanaan. Aquinas meninggalkan Summa Theologica yang belum selesai bukan karena gagal — tapi karena ia mengalami sesuatu yang membuatnya sadar ada batas dari apa yang bisa diungkapkan lewat kata-kata. Dalam konteks apapun, mengenali batas kemampuan kita sendiri adalah bentuk kejujuran intelektual yang tinggi.

Langkah konkret jika ingin mengenal Aquinas lebih jauh:

  • Mulai dengan membaca Summa Theologica, Bagian I, Pertanyaan 2 (Five Ways) — tersedia gratis di newadvent.org
  • Baca Aquinas: A Beginner's Guide oleh Edward Feser (2009) — buku pengantar yang sangat mudah dipahami, bukan oleh simpatisan semata tapi oleh filsuf analitik serius
  • Untuk konteks sejarah yang lebih luas, The Story of Philosophy oleh Will Durant masih menjadi salah satu narasi terbaik tentang bagaimna ide-ide besar lahir dari konteks hidupnya penulis

Jerami dan Cahaya

Kalimat terakhir yang Thomas ucapkan tentang karyanya sendiri — bahwa semua yang ia tulis hanyalah "jerami" — bukan ekspresi keputusasaan. Dalam tradisi mistisisme Kristiani yang ia warisi dari Agustinus, itu adalah pengakuan bahwa realitas tertinggi selalu melampaui kemampuan bahasa manusia untuk menangkapnya.

Yang menarik: filsuf-filsuf dari tradisi lain — termasuk tradisi Islam dan Buddha — seringkali tiba pada kesimpulan yang sama. Ada batas dari apa yang bisa diucapkan. Ada wilayah yang hanya bisa disentuh, bukan dijelaskan.

Mungkin itulah sebabnya Thomas Aquinas, seorang biarawan Dominikan dari Italia abad ke-13, masih terasa relevan bagi siapapun yang pernah bertanya serius tentang Tuhan, tentang akal, dan tentang batas dari keduanya.

Beberapa pertanyaan memang tidak butuh jawaban final — ia butuh teman berpikir yang jujur.

Ingat: Anda tidak harus setuju dengan Aquinas untuk belajar darinya. Yang dibutuhkan hanya satu: kesediaan untuk duduk diam seperti lembu bodoh itu — dan berpikir.

PDF page 5

Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Filsafat & Agama: