Batu Bara Berpeluang Mahal Lebih Lama, Biaya Ekspor DSI Belum Jelas
Harga batu bara berpeluang bertahan tinggi, tetapi aturan ekspor DSI dan biaya layanan yang belum dipastikan menambah risiko bagi produsen.

Foto: Wolfgang Weiser / Pexels
Prospek harga batu bara bertahan tinggi lebih lama dari perkiraan pasar, menurut riset Mirae Asset Sekuritas pada 7 Oktober 2026. HBA sudah 19%-35% di atas level Januari, sementara Newcastle sekitar US$150 per ton.
Analis Fauzan Luthfi Djamal mempertahankan rekomendasi netral untuk sektor ini karena aturan ekspor melalui Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) belum rinci. Implementasi penuh yang semula diindikasikan pada 1 September kini diarahkan mulai 1 Januari 2027.
Biaya layanan DSI belum ditetapkan. Simulasi Mirae memakai US$1-US$2 per ton; dengan ekspor tahunan 460 juta-517 juta ton, penerimaan bisa US$500 juta-US$1 miliar. Angka itu skenario, bukan tarif resmi. Biaya tetap berpotensi lebih membebani batu bara berkalori rendah.
Brent di atas US$100/barel dan LNG spot Asia US$26 per MMBtu pada September menopang harga. Arutmin dan KPC milik BUMI mulai membangun pabrik metanol 2 juta ton/tahun; PTBA menargetkan pabrik DME 1,4 juta ton/tahun pada 2027, tetapi keputusan investasinya belum pasti.
Sumber: Kontan





