Harga Brent US$104,54, Yield SBN 10 Tahun 7,24% Tekan APBN 2026
Harga minyak Brent dan yield SBN yang tinggi mempersempit ruang fiskal APBN 2026 di tengah proyeksi defisit 2,85% terhadap PDB.

Foto: Monstera Production / Pexels
Brent bertahan di US$104,54 per barel pada 11 Oktober 2026, sementara yield SBN 10 tahun mencapai 7,24% pada 9 Oktober, naik 14 basis poin secara bulanan. Kombinasi ini menekan ketahanan APBN 2026.
Ekonom CORE Indonesia Dipo Satria Ramli menilai kenaikan minyak dapat memperbesar subsidi energi, sedangkan yield tinggi meningkatkan biaya pembayaran bunga utang. Pemangkasan perjalanan dinas 30% disebut belum cukup.
Dipo menilai pemerintah perlu memperkuat penerimaan dan menajamkan belanja. Rasio pajak yang rendah serta restitusi pajak yang tertahan disebut menjadi tantangan bagi pendapatan negara.
Realisasi defisit hingga September mencapai 1,24% PDB, dengan proyeksi akhir tahun 2,85%, sehingga bantalan terhadap batas 3% tetap tipis. M. Rizal Taufikurahman dari INDEF memperingatkan pelemahan rupiah dan akselerasi belanja kuartal IV dapat menambah tekanan pembiayaan.





