News Update
Komoditas

IWIP-IMIP 15,9 GW: Jejak Karbon Bayangi Prospek Ekspor Nikel

Kapasitas listrik gabungan IWIP-IMIP 15,9 GW dinilai belum menjamin manfaat ekonomi bersih dan bisa menambah risiko bagi ekspor nikel berjejak karbon tinggi.

Memuat gambar...
IWIP-IMIP 15,9 GW: Jejak Karbon Bayangi Prospek Ekspor Nikel

Foto: Tanhauser Vázquez R. / Pexels

Kapasitas listrik di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) dan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mencapai 15,9 GW. Pada Minggu (11/10/2026), peneliti CORE Yusuf Rendy Manilet mengingatkan besarnya kapasitas itu belum otomatis sebanding dengan penerimaan negara.

Menurut Yusuf, insentif fiskal, impor barang modal, dan repatriasi laba dapat mengurangi manfaat ekonomi bersih. Biaya kesehatan, polusi, dan emisi karbon juga perlu diperhitungkan; nilai ekspor saja tak menggambarkan kontribusi bersih industri.

PLTU captive digunakan untuk menjaga pasokan listrik smelter selama 24 jam, terutama karena lokasi industri terpisah dari jaringan utama PLN. Namun, ketergantungan pada batu bara meningkatkan jejak karbon nikel Indonesia.

Ia menilai produk dengan jejak karbon tinggi berisiko kehilangan akses ke pasar premium dan menghadapi penalti harga ketika standar emisi negara tujuan ekspor makin ketat. Pemerintah didorong mengevaluasi aturan agar smelter baru memakai energi terbarukan atau sistem hibrida.

Sumber: Kontan

Berita lainnya