News Update
Komoditas

Tarif 62 Sen/kWh Belum Cukup Pulihkan Smelter Ferrochrome Afrika Selatan

Pelaku industri menilai keringanan tarif listrik sekitar 62 sen/kWh perlu ditopang logistik, efisiensi pabrik, modal, dan kepastian kebijakan agar smelter ferrochrome kembali kompetitif.

Memuat gambar...
Tarif 62 Sen/kWh Belum Cukup Pulihkan Smelter Ferrochrome Afrika Selatan

Foto: Robert So / Pexels

Dalam konferensi Project Blue Critical Materials di Johannesburg pada 8-9 September 2026, pelaku industri menilai pemulihan ferrochrome Afrika Selatan tak cukup mengandalkan tarif listrik sekitar 62 sen/kWh. Tarif hasil negosiasi itu masih menunggu persetujuan regulator listrik nasional.

Helena van Zyl dari Investec mengatakan biaya listrik yang lebih rendah memberi ruang bagi smelter yang menganggur untuk menilai kelayakan operasi kembali, tetapi dampaknya belum tentu segera terasa. Efisiensi pabrik, logistik yang andal dan terjangkau, serta akses modal juga menentukan daya saing.

Marnus Terblanche dari Investec menggambarkan sentimen konferensi sebagai konstruktif, bukan optimistis tanpa syarat. Ketidakpastian kebijakan masih membayangi investasi. Afrika Selatan tetap menjadi pemasok utama bijih krom, sementara kapasitas pengolahan ferrochrome bergeser ke negara lain, termasuk China.

Jika produksi lokal pulih, sebagian bijih krom dapat dialihkan ke smelter domestik alih-alih diekspor. Namun, perubahan pasokan itu bergantung pada tingkat operasi smelter dan kondisi pasar. Efektivitas keringanan tarif, kepastian kebijakan, serta kelancaran transportasi akan menentukan apakah pemulihan industri bertahan.

Sumber: SMM (metal.com)

Berita lainnya