Di antara Candi Borobudur dan Candi Mendut, berdiri sebuah candi kecil yang sering hanya dilirik sebagai persinggahan sebelum rombongan wisatawan menuju candi utama. Namanya Candi Pawon — bangunan andesit setinggi kurang lebih 9,5 meter di Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Magelang. Ukurannya memang mungil dibanding Borobudur. Tapi posisinya justru menyimpan salah satu teka-teki arkeologi Jawa yang belum juga tuntas dijawab: mengapa tiga candi Buddha ini — Borobudur, Pawon, dan Mendut — berdiri dalam satu garis lurus yang sama sekali tidak mengarah ke empat penjuru mata angin?
Pertanyaan itu bukan sekadar spekulasi wisata lokal. Ia sudah dibahas peneliti arkeologi dan astronomi selama lebih dari satu dekade, dan jawabannya menuntun pada satu rasi bintang yang sangat dikenal umat manusia purba: Sabuk Orion.
Garis yang Tidak Mengarah ke Mana pun — Kecuali ke Langit
Berdasarkan data Balai Konservasi Borobudur, Candi Pawon berjarak sekitar 1,75 kilometer di sebelah timur Borobudur dan 1,15 kilometer di sebelah barat Mendut. Jika ditarik garis dari titik pusat ketiga candi ini, hasilnya adalah satu garis lurus yang miring ke arah timur laut — bukan garis timur-barat atau utara-selatan yang biasanya jadi acuan sakral dalam arsitektur candi Buddha.
Kejanggalan inilah yang membuat peneliti Planetarium dan Observatorium Jakarta, Widya Sawitar, mengaitkan kemiringan garis Borobudur-Pawon-Mendut dengan tiga bintang di sabuk rasi Orion: Alnitak, Alnilam, dan Mintaka. Ketiga bintang ini membentuk garis lurus dengan kemiringan yang serupa saat rasi Orion berada tepat di atas kepala pengamat. Dalam mitologi Yunani-Romawi, ketiga bintang ini dikenal sebagai sabuk sang pemburu. Dalam kosmologi Jawa, rasi yang sama justru disebut Lintang Waluku atau Bintang Bajak — penanda musim tanam bagi masyarakat agraris Mataram Kuno.
Dosen Arkeologi Universitas Gadjah Mada, DS Nugrahani, menjelaskan bahwa pembangunan candi pada masa itu tidak pernah dilakukan sembarangan. Setiap lokasi diawali proses meditatif dan pertimbangan metafisika sebelum akhirnya diuji dengan pengetahuan teknis yang tersedia — semacam kombinasi antara wahyu spiritual dan kalkulasi keruangan. Namun ia juga mengingatkan, sampai saat ini belum ada dokumentasi tertulis dari masa Medang yang secara eksplisit menjelaskan alasan kesegarisan tiga candi tersebut. Artinya, hipotesis Orion tetap sebuah interpretasi arkeoastronomi yang meyakinkan secara pola, tapi belum menjadi fakta yang terverifikasi lewat sumber primer.
Yang menarik, garis imajiner ini bukan satu-satunya misteri Candi Pawon. Nama candi ini sendiri sudah lama memicu perdebatan — dan perdebatan itulah yang membawa kita ke lapisan kedua dari teka-teki ini: dapur, abu, atau sesuatu yang jauh lebih kaya makna?
Antara "Dapur", Abu Jenazah, dan Prasasti yang Terpecah
Nama "Pawon" dalam bahasa Jawa berarti dapur. Ditambah lokasinya di Dusun Brojonalan — yang oleh sebagian orang ditafsirkan berkaitan dengan senjata para dewa — wajar bila muncul cerita rakyat bahwa candi ini dulunya tempat pembakaran atau penyimpanan abu jenazah raja. Ahli epigrafi J.G. de Casparis punya tafsir yang lebih teknis: menurutnya, "Pawon" kemungkinan berasal dari kata Jawa Kuno awu (abu), yang mendapat awalan pa- dan akhiran -an sehingga bermakna "tempat abu".
Tafsir ini tidak lahir dari udara kosong. Ia bersandar pada Prasasti Kayumwungan atau Prasasti Karangtengah, bertarikh 746 Saka (824 Masehi), yang kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Prasasti berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuno ini menyebut bahwa Pramodawardhani, putri Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra, mendirikan bangunan suci bernama Wenuwana (secara harfiah berarti "hutan bambu") sebagai tempat menyimpan abu jenazah "Raja Mega" — sebutan kehormatan untuk Dewa Indra, yang diperkirakan merujuk pada Raja Dharanindra dari Dinasti Syailendra.
Di sinilah letak persoalannya: para ahli tidak sepakat bangunan Wenuwana yang dimaksud prasasti itu benar-benar Candi Pawon. Casparis sendiri, dalam sebagian tulisannya, justru mengaitkan Wenuwana dengan Candi Mendut, sementara arkeolog Soekmono mengaitkannya dengan Candi Ngawen berdasarkan kemiripan bunyi nama. Di sisi lain, dokumen resmi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud mencatat bahwa menurut Casparis, Candi Pawon-lah yang menjadi tempat penyimpanan abu Raja Indra, dan bilik utamanya diperkirakan pernah menampung Arca Bodhisattva sebagai penghormatan kepada sang raja. Arkeolog awal, Poerbatjaraka, bahkan berpendapat Candi Pawon sebetulnya adalah upa angga — bagian pelengkap — dari Candi Borobudur, karena motif pahatannya sangat mirip dengan candi induknya.
Jadi, sampai hari ini, identitas pasti Candi Pawon masih diperdebatkan. Ironisnya, ketika kita benar-benar mengamati dinding candi ini, tidak ada satu pun elemen visual yang menggambarkan api, pembakaran, atau abu. Yang justru mendominasi dinding utara dan selatan Candi Pawon adalah sesuatu yang jauh lebih hidup: sebatang pohon yang tumbuh dari jambangan, dikelilingi kantong-kantong berisi uang, dan dijaga makhluk setengah manusia setengah burung.

Pohon Harta yang Tidak Pernah Dibicarakan
Relief utama Candi Pawon menggambarkan sepasang Kinnara-Kinnari — makhluk mitologis berkepala manusia dan bertubuh burung — yang berdiri mengapit sebatang pohon Kalpataru yang tumbuh dari sebuah jambangan. Di sekeliling akar pohon itu terdapat beberapa pundi-pundi uang, dan di bagian atas panel tergambar sepasang sosok yang sedang terbang. Menurut catatan Direktorat Jenderal Kebudayaan, seluruh relief di Candi Pawon bersifat dekoratif — tidak ada relief cerita naratif sama sekali di candi ini, berbeda dari Borobudur yang penuh panel kisah Jataka dan Lalitavistara.
Kalpataru, atau kadang disebut Ratnawksa, dikenal luas dalam ikonografi candi Jawa sebagai pohon pengharapan — simbol kemakmuran, kesuburan, dan kesejahteraan abadi yang dianugerahkan kepada kerajaan sekaligus rakyatnya. Motif serupa muncul juga di Candi Mendut, Prambanan, dan pada relief Borobudur sendiri, biasanya dilengkapi lima ciri khas: binatang atau makhluk pengapit, jambangan bunga, untaian manik-manik, payung suci, dan burung. Jambangan bunga dalam tradisi ini secara konsisten dimaknai sebagai simbol kekayaan dan kesuburan.
Kehadiran pundi-pundi uang yang mengelilingi pohon inilah yang membuka ruang bagi hipotesis baru: alih-alih candi pembakaran, Candi Pawon lebih masuk akal dibaca sebagai ruang pemujaan kemakmuran. Dalam kosmologi Buddha Mahayana, pohon harta surgawi lekat dengan sosok Jambhala, dewa kekayaan yang sering digambarkan berdampingan dengan pohon pengabul permintaan dan taman surgawi bernama Alakapuri. Bila pembacaan ini benar, Candi Pawon bisa jadi bukan makam abu, melainkan tempat kaum bangsawan Medang melakukan Dana Paramita — persembahan harta sebagai laku penyucian diri sebelum melanjutkan perjalanan spiritual menuju puncak pencerahan di Candi Borobudur.
Penting digarisbawahi: hipotesis Jambhala dan Dana Paramita ini adalah interpretasi berbasis analisis relief, bukan kesimpulan yang sudah disepakati bulat oleh para epigraf. Ia bersanding — bukan otomatis menggantikan — hipotesis abu jenazah yang sudah lebih dulu mapan lewat catatan Casparis dan Kemdikbud. Yang menariknya, kedua pembacaan ini sebetulnya tidak sepenuhnya bertentangan: sebuah bangunan penghormatan bagi arwah raja yang telah mencapai derajat Bodhisattva justru sangat masuk akal dihiasi lambang kemakmuran abadi, bukan lambang kematian.
Satu hal yang bisa dipetik pembaca yang berencana berkunjung: saat berdiri di depan Candi Pawon, coba lupakan dulu narasi "dapur pembakaran" yang selama ini beredar. Perhatikan baik-baik panel dinding utara dan selatannya — carilah pohon yang tumbuh dari jambangan, pundi-pundi di sekelilingnya, dan sepasang Kinnara-Kinnari yang menjaganya. Detail-detail itu adalah kunci sesungguhnya untuk memahami apa yang leluhur Medang benar-benar ingin sampaikan lewat batu andesit ini.
Warisan yang Masih Terus Ditafsir Ulang
Candi Pawon mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi penting: nama sebuah tempat, sekali melekat, bisa jadi jauh lebih kuat daripada bukti fisik di depan mata. Selama lebih dari satu abad, kata "Pawon" berhasil menutup rapat kemungkinan pembacaan lain — padahal dinding candi ini, dari dulu, sudah bercerita tentang kemakmuran, bukan abu.
Garis imajiner ke arah Sabuk Orion mengingatkan kita bahwa leluhur Medang punya pemahaman ruang dan langit yang jauh lebih canggih dari yang sering kita duga. Dan relief Kalpataru di Candi Pawon mengingatkan kita untuk tidak berhenti pada mitos yang paling mudah diceritakan turun-temurun, melainkan kembali membaca bukti yang sesungguhnya terpahat di batu.
Ingat: sebelum memercayai sebuah nama, coba tanyakan dulu apa yang benar-benar tergambar di dindingnya.
Referensi & Resources:
- Balai Konservasi Borobudur, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemdikbud — Candi Pawon
- Balai Konservasi Borobudur — Prasasti Karangtengah/Prasasti Kayumwungan
- Kompas.com — Prasasti Kayumwungan: Lokasi Penemuan dan Isinya
- Kompas.com — Candi Pawon: Sejarah, Lokasi, dan Bentuk
- Majalah Arkeologi Indonesia — Arkeoastronomi: Kesegarisan Borobudur-Pawon-Mendut
- Djoko Luknanto, Universitas Gadjah Mada — Relief Kalpataru di Candi Pawon
- Wikipedia bahasa Indonesia — Prasasti Kayumwungan
