Kalau dengar nama Gunung Kawi di obrolan santai, yang langsung kebayang biasanya cerita pesugihan, perjanjian gaib, atau tumbal. Padahal, jauh sebelum narasi mistis itu ramai, gunung setinggi 2.551 meter di perbatasan Malang dan Blitar ini punya sejarah yang beda banget.
Jejak arkeologis dan naskah kuno justru nunjukin kalau Gunung Kawi dulu berfungsi mirip "kampus". Gunung ini jadi pusat pendidikan agama dan tempat nuntut ilmu buat para wiku di era kerajaan Jawa klasik. Jadi bukan tempat nyari harta instan, tapi tempat orang menimba ilmu dan nyari ketenangan spiritual.
Lantas, gimana pusat pendidikan suci ini bisa berubah citra total jadi tempat pesugihan yang ditakuti sekaligus dicari orang? Jawabannya ada di perjalanan sejarah panjang, mulai dari prasasti seribu tahun lalu sampai persepsi masyarakat yang terbentuk di abad ke-20.
Gunung Kawi sebagai Mandala: Kampus Suci di Era Kerajaan Klasik
Pada masa Kerajaan Medang, Kediri, Singasari, sampai Majapahit, gunung-gunung di Jawa Timur, seperti Semeru, Penanggungan, Lawu, dan Kawi, dianggap sebagai tempat suci pemujaan sekaligus pusat pendidikan agama. Fungsi ini dikenal dengan istilah mandala atau kadewaguruan, yaitu lembaga pendidikan tempat para wiku belajar agama, filsafat, dan berbagai ilmu lain.
Bukti tertulis paling tua yang menghubungkan Gunung Kawi dengan fungsi ini adalah Prasasti Selobrojo. Prasasti ini ditemukan di Dusun Selobrojo, Desa Banjarejo, Ngantang, tepatnya di lereng barat Gunung Kawi. Prasasti batu andesit dari era Mpu Sindok abad ke-10 (masa Kerajaan Medang) ini jadi penanda penting kalau kawasan Kawi udah dianggap wilayah khusus jauh sebelum era modern.
Dalam transkripsi J.L.A. Brandes di buku Oud-Javaansche Oorkonden, prasasti ini menyebut frasa "sang hyang mandala". Para peneliti menafsirkannya sebagai penunjuk dua mandala kadewaguruan di kawasan itu, yaitu Mandala Awaban dan Mandala Sagara. Jadi, prasasti ini bukan sekadar patok batas wilayah, tapi dokumen resmi yang mengatur keberadaan dua asrama kependetaan di lereng Gunung Kawi.
Petunjuk lain muncul di Prasasti Cunggrang II dari zaman Raja Airlangga. Prasasti ini makin mempertegas posisi Gunung Kawi dalam struktur pemerintahan kerajaan. Gunung ini sejak lama dipandang sebagai kawasan sakral, bukan cuma bentang alam biasa.
Naskah kuno Tantu Panggelaran juga mencatat hal serupa. Teks Jawa Kuno yang menceritakan kosmologi Jawa dan perpindahan Gunung Mahameru ini menghubungkan Gunung Kawi dengan sosok Bhagawan Agasti, lengkap dengan beberapa kadewaguruan tempat para resi menimba ilmu.
Temuan di lapangan makin memperkuat fakta ini. Sejarawan Malang, Suwardono, menjelaskan kalau di daerah Selobrojo dulu memang ada padepokan kependetaan yang kalau dibandingkan dengan zaman sekarang mirip seperti pondok pesantren. Permukiman para pendeta ini bahkan melebar sampai kawasan Sirahkencong di Wlingi, Blitar. Ini nunjukin kalau pusat belajar di lereng barat Gunung Kawi bentuknya jaringan kawasan spiritual yang lumayan luas.
Gunung Kawi dalam Catatan Pengembara: Dari Bujangga Manik sampai Naskah Pegon
Nama Gunung Kawi juga masuk dalam naskah Sunda Kuno berjudul Bujangga Manik. Naskah daun nipah yang sekarang disimpan di Perpustakaan Bodleian, Oxford, ini merekam perjalanan Bujangga Manik, seorang putra mahkota Kerajaan Sunda Pajajaran yang memilih jadi pertapa dan berkeliling Jawa-Bali sekitar abad ke-15.
Di naskah itu, Bujangga Manik nulis kalau dia sempat mendaki dan melintasi Gunung Kawi dari sisi selatan sebelum lanjut ke arah barat menuju Pamijahan. Catatan ini tergolong penting karena para ahli seperti J. Noorduyn dan A. Teeuw mengakui naskah Bujangga Manik sebagai peta rute paling akurat di zamannya, dengan menyebut lebih dari 450 nama tempat. Kalau seorang resi dari luar Jawa Timur sengaja mampir dan mencatat Gunung Kawi dalam rute ziarahnya, artinya gunung ini emang punya reputasi tempat suci yang dikenal luas saat itu.
Fungsi religi dan pendidikan di Gunung Kawi gak langsung hilang pas ajaran Islam mulai masuk. Beberapa kajian budaya menemukan manuskrip beraksara Pegon (huruf Arab untuk bahasa Jawa) di sekitar Gunung Kawi. Ini menandai masa transisi dari sistem kadewaguruan Hindu-Buddha ke tradisi Islam setelah Majapahit runtuh. Kawasan yang tadinya tempat pertapaan tetap dihormati sebagai tempat tenang, cuma isi ajaran di dalamnya aja yang menyesuaikan dengan zaman.
Dari Medan Perang ke Ziarah: Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Sujono
Perubahan besar pada citra sosial Gunung Kawi terjadi pasca-Perang Jawa atau Perang Diponegoro (1825–1830). Perang besar melawan kolonial Belanda ini meletus akibat campur tangan asing di Keraton Mataram serta beban pajak yang nyusahin rakyat.
Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap pada 1830, para pengikutnya menyebar buat menyelamatkan diri. Salah satunya Kiai Zakaria II, keturunan Kasunanan Surakarta yang juga cicit Susuhunan Paku Buwana I. Supaya gak ketangkap Belanda, dia melepas gelar bangsawan dan menyamar jadi rakyat biasa memakai nama Eyang Jugo.
Eyang Jugo mengembara sambil mengajar Islam sampai akhirnya tinggal di Desa Jugo, Kesamben, Blitar, setelah bantu warga mengobati wabah penyakit. Di sana dia bikin padepokan tempat belajar agama, pengobatan, dan pertanian. Murid terdekatnya, Raden Mas Imam Sujono (keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono I), lalu menyusul. Mereka berdua membuka lahan di lereng Gunung Kawi yang sekarang jadi kompleks Pesarean Gunung Kawi.
Eyang Jugo wafat pada 22 Januari 1871 dan dimakamkan di sana sesuai wasiatnya. Raden Mas Imam Sujono wafat beberapa tahun kemudian dan dimakamkan di satu liang lahat yang sama, lambang kedekatan mereka berdua yang udah kayak ayah dan anak. Sejak itu, tradisi ziarah dan ngalap berkah mulai tumbuh di tempat tersebut.
Peziarah yang datang sebenarnya udah beragam secara etnis dan agama sejak dulu. Saat Perang Jawa, lumayan banyak warga keturunan Tionghoa yang ikut berjuang di barisan Diponegoro, dan mereka menghormati Eyang Jugo sebagai tokoh sesepuh. Kebiasaan ini terbawa turun-temurun, sampai akhirnya berdiri Klenteng Kwan Im berdampingan dengan masjid di kompleks pesarean, bukti akulturasi budaya yang masih terjaga di Jawa Timur.
Bagaimana Mitos Pesugihan Terbentuk: Konstruksi Sosial di Abad ke-20
Ziarah dan berdoa di makam tokoh sebenarnya hal yang lumrah dalam tradisi masyarakat Nusantara. Masalahnya, sepanjang abad ke-20, cerita peziarah yang sukses secara ekonomi atau sembuh dari penyakit beredar luas dari mulut ke mulut. Cerita doa yang terkabul ini lama-lama bergeser jadi mitos tentang jalan pintas nyari kekayaan.
Sosiolog Peter L. Berger dan Thomas Luckmann lewat teori konstruksi sosial menjelaskan proses seperti ini dalam tiga tahap: eksternalisasi (orang cerita pengalaman pribadinya dapat rezeki setelah berziarah), objektifikasi (cerita itu diulang terus sampai dianggap kebenaran umum kalau "Gunung Kawi tempat cari pesugihan"), dan internalisasi (masyarakat generasi berikutnya langsung percaya label itu tanpa tahu sejarah aslinya).
Beberapa hal di lapangan makin bikin mitos ini makin kuat. Salah satunya pohon Dewandaru (Eugenia uniflora) yang konon tumbuh dari tongkat Eyang Jugo. Pohon ini sering dianggap pembawa hoki; peziarah yang kejatuhan daun atau buahnya percaya bakal dapat rezeki. Kepala Desa Wonosari, Suwito, sempat meluruskan kalau pohon itu sebenarnya bukan tempat ritual pesugihan, tapi cuma area orang duduk dan berdoa setelah selesai ziarah.
Kesan mistis makin tebal dengan adanya tradisi ciamsi (ramalan keberuntungan) di Klenteng Kwan Im, yang sebenarnya ritus umum di klenteng Tri Dharma. Ditambah lagi gosip soal "kontrak gaib" dan tumbal yang sering diangkat media massa serta acara misteri di TV, identitas asli Gunung Kawi sebagai pusat belajar dan tempat penyebaran agama makin tertutup aura mistis.
Sampai sekarang, gak ada dokumen sejarah atau riset akademis yang membuktikan adanya tradisi pesugihan resmi di sana. Ini makin mempertegas kalau sebutan tempat pesugihan itu murni hasil karangan cerita kolektif masyarakat, bukan fakta sejarah.
Meluruskan Narasi: Dari Sentra Mistis Kembali ke Destinasi Sejarah
Beda jauhnya citra Gunung Kawi sebagai "kampus" di era klasik dan tempat pesugihan di era modern jadi contoh nyata gimana sejarah suatu tempat bisa tenggelam gara-gara mitos yang diulang terus-menerus. Prasasti Selobrojo, Prasasti Cunggrang II, naskah Tantu Panggelaran, sampai catatan Bujangga Manik semuanya menunjukkan hal yang sama: wilayah ini dulu dihormati karena ilmu dan kesuciannya, bukan karena iming-iming harta instan.
Kalau mau mengenal Gunung Kawi secara lebih jernih, ada beberapa hal sederhana yang bisa kita lakukan:
- Cek sumber sejarahnya dulu — baca transkripsi prasasti atau hasil riset naskah kuno sebelum gampang percaya cerita kabar burung.
- Lihat kompleks Pesarean dari kacamata sejarah — pahami Eyang Jugo dan Raden Mas Imam Sujono sebagai tokoh pejuang dan pengajar, bukan juru kunci pesugihan.
- Dukung penataan narasi budaya lokal — dorong upaya masyarakat dan pemerintah setempat yang mulai menata ulang Gunung Kawi sebagai wisata sejarah dan edukasi.
Usaha meluruskan cerita ini bukan berarti melarang tradisi ziarah yang udah berjalan ratusan tahun. Kegiatan berdoa di sana tetap punya nilai spiritual buat yang menjalankan. Yang perlu dibenahi cuma label "pesugihan instan" yang terlanjur nutupin jejak panjang Gunung Kawi, tempat yang sejatinya lahir sebagai pusat pencarian ilmu, jauh sebelum dikenal orang sebagai tempat nyari kekayaan semalam.
Pada dasarnya, Gunung Kawi gak pernah lahir sebagai tempat pesugihan. Tempat ini dulunya kampus suci yang citranya berubah cuma gara-gara cerita mistis yang terus diulang tanpa pernah dicek kebenarannya.
Referensi & Resources:
- Prasasti Selabraja, Kelurahan Sumbersari Kota Malang
- Prasasti Selabradja: Pengarah Tempat Mandala Kadewaguruan, WEAREMANIA
- Meluruskan Mitos Gunung Kawi: Warisan Kebudayaan yang Terjebak Stigma Pesugihan, Spatial Highlights
- Di Balik Mitos Pesugihan, Gunung Kawi Jadi Tempat Suci Sejak Era Kerajaan Kediri, Okezone
- Isi Naskah Bujangga Manik, Suara Banyumas
- Kisah Eyang Djugo, Guru Spiritual Pangeran Diponegoro yang Dimakamkan di Gunung Kawi, Tugumalang.id
- Gunung Kawi: Dari Jejak Perang Diponegoro hingga Simbol Harmoni Jawa-Tionghoa, Suara Malang
- Pohon Dewandaru Jadi Awal Mula Mitos Pesugihan di Gunung Kawi?, Okezone
- Peter L. Berger & Thomas Luckmann, The Social Construction of Reality (1966) — teori konstruksi sosial
