Ada video di TikTok yang isinya cuma komputer, tapi bentuknya tas selempang bergambar putri duyung dengan detail emas di pinggirnya. Videonya ditonton lebih dari 1 juta kali. Bukan karena speknya canggih — justru karena benda itu jelek dengan cara yang disengaja, dan itu yang membuatnya menarik.
Namanya cyberdeck. Kalau belum pernah dengar, wajar, karena istilah ini baru benar-benar ramai di linimasa Gen Z beberapa bulan terakhir. Tapi begitu satu kreator mulai memamerkan rakitannya, ribuan orang lain ikut merakit versi mereka sendiri — ada yang jadi konsol game jadul, ada yang jadi server pribadi, ada juga yang cuma jadi mesin ketik digital anti-distraksi.
Cyberdeck Itu Sebenarnya Apa
Cyberdeck adalah komputer portable rakitan sendiri, biasanya dari komponen yang terkesan asal comot. Komponen utamanya biasanya menggunakan sistem komputer papan tunggal seperti Raspberry Pi yang dipadukan dengan layar kecil, keyboard, dan casing custom. Berbeda dari laptop pabrikan, cyberdeck sering dirakit dari barang bekas atau material yang dialihfungsikan — kotak permen, buku bekas, sampai tas selempang, semuanya bisa jadi casing.
Hasilnya, tidak ada dua cyberdeck yang persis sama. Setiap perangkat memiliki tampilan unik dan fungsi tersendiri yang mencerminkan si pembuatnya. Ini yang membedakan cyberdeck dari sekadar "laptop custom" — di sini, keunikan justru jadi tujuan utama, bukan efek samping.
Istilah ini bukan sesuatu yang baru diciptakan Gen Z. Cyberdeck berasal dari fiksi cyberpunk, termasuk novel Neuromancer karya William Gibson tahun 1984, di mana tokoh utamanya menggunakan "custom cyberspace deck" untuk memproyeksikan kesadarannya ke dalam matriks digital. Yang berubah sekarang adalah siapa yang merakitnya — dulu proyek ini identik dengan komunitas hacker dan hobiis elektronik, sekarang jadi tren lintas gender yang jauh lebih luas.
Kenapa Gen Z Tertarik Bikin Komputer Sendiri
Alasan paling sering muncul: kebosanan terhadap perangkat pabrikan yang seragam. Kreator TikTok bernama ubeboobey menggambarkan filosofi di balik rakitan ini sebagai sesuatu yang sangat personal dan menolak komersialisasi, dengan cyberdeck dirancang agar unik bagi pemiliknya.
Reaksi warganet mempertegas hal ini. Salah satu pengguna menuliskan keinginan mereka akan teknologi yang modular, bukan seperti yang terus-menerus diproduksi raksasa teknologi besar. Ini sejalan dengan riset Forbes yang mencatat bahwa pertumbuhan cyberdeck di kalangan Generasi Z sebagian besar didorong oleh kepopuleran genre cyberpunk dan peran kreator konten di media sosial.
Skalanya juga tidak main-main untuk sebuah hobi "niche". Menurut catatan Forbes, satu akun TikTok kreator cyberdeck memiliki lebih dari 224.500 pengikut dengan 5,3 juta likes, sementara subreddit khusus cyberdeck punya 52.000 pengunjung dan 1.900 kontribusi mingguan. Angka itu artinya: dari 100 orang yang scroll subreddit itu setiap minggu, hampir 2 di antaranya benar-benar posting rakitan mereka sendiri — rasio yang cukup tinggi untuk hobi teknis.
Ada juga dimensi gender yang menarik. Riset dari The Hustle mencatat cyberdeck kini makin populer di kalangan Gen Z, terutama perempuan, yang menemukan proyek DIY ini sebagai alternatif yang menyegarkan dari perangkat massal. Forbes bahkan menyebut nama kreator seperti Annika Tan (dikenal sebagai Ubeboobey) sebagai salah satu figur yang membuat tren cyberdeck bergeser dari sekadar proyek hacker menjadi gerakan ekspresi diri yang jauh lebih luas.
Bukan Cuma Estetika, Tapi Juga Fungsi Nyata
Meski tampilannya sering nyeleneh, cyberdeck tetap punya fungsi konkret. Sebagian kreator menyulapnya menjadi konsol game retro untuk memainkan game jadul tahun 80-an dan 90-an, ada juga yang menjadikannya server pribadi untuk meng-host website atau menyimpan data secara online, sementara yang lain memakainya untuk latihan coding atau sebagai perangkat off-grid berisi buku digital, musik, dan panduan darurat.
Komunitas keamanan siber pun ikut melirik tren ini. Blog Eclypsium menyoroti bagaimana cyberdeck bisa berfungsi sebagai alat peretasan portable atau platform uji coba, sehingga penggunanya bisa bereksperimen tanpa mengambil risiko pada komputer utama mereka. Alasannya sederhana: laptop konvensional kadang terlalu bongsor untuk dibawa bepergian dan kurang cocok dipasangi alat-alat khusus.
Ada juga sisi yang lebih personal — semacam bentuk penolakan halus terhadap gaya hidup digital yang serba terpantau. Laporan dari The Week mencatat bahwa tren ini muncul di tengah kekhawatiran soal data harvesting, kontrol algoritma, dan pengawasan digital yang makin agresif dari platform-platform besar. Buat sebagian pembuatnya, cyberdeck yang sengaja offline jadi semacam pagar pribadi dari dunia yang terlalu terhubung.

Ekspresi Diri Lebih Penting daripada Spesifikasi
Ini bagian yang menurut saya paling menariknya: kualitas teknis bukan lagi ukuran utama keberhasilan sebuah cyberdeck. Lonjakan minat terhadap cyberdeck saat ini dianggap lebih berakar pada kreativitas daripada fungsi semata — perangkat ini dipandang sebagai bentuk ekspresi diri yang mencerminkan kepribadian, kebutuhan, dan bahan yang dimiliki sang pembuat.
Fenomena "cyberdeck girly" atau cyberdeck berbentuk buku menjadi contoh nyata pergeseran ini. Alih-alih rugged dan penuh kabel eksposed ala film cyberpunk, banyak rakitan sekarang justru sengaja dibungkus jadi objek yang terasa hangat dan personal — semacam jurnal, folio, atau boneka yang kebetulan bisa menyalakan game. Titik temunya bukan pada seberapa "keren" tampilan hacker-nya, tapi seberapa jujur perangkat itu mencerminkan pembuatnya.
Hal ini juga memicu perdebatan soal komersialisasi. Sebagian kreator berargumen bahwa menjual cyberdeck secara massal justru akan merusak esensi hobi ini, yang sejak awal mengutamakan eksperimen dan kepuasan merakit dibanding keuntungan. Semacam paradoks: begitu sesuatu jadi terlalu mudah dibeli, ia kehilangn alasan kenapa awalnya dibuat susah-susah.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Tren Ini
Terlepas dari sisi teknisnya, cyberdeck sebenarnya cerita tentang kebutuhan yang lebih besar: keinginan generasi muda untuk punya kontrol atas alat yang mereka pakai sehari-hari, bukan sekadar jadi konsumen pasif dari desain yang itu-itu saja.
Kalau kamu tertarik ikut mencoba, tiga langkah kecil yang bisa dimulai:
- Mulai dari kebutuhan, bukan dari bentuk. Tentukan dulu mau dipakai untuk apa — konsol retro, alat menulis bebas distraksi, atau server pribadi — baru pikirkan casing-nya.
- Cari komunitas sebelum belanja komponen. Forum atau subreddit cyberdeck biasanya punya daftar part yang sudah teruji, jadi kamu tidak perlu trial-error sendirian.
- Terima bahwa hasilnya tidak akan sempurna. Justru ketidaksempurnaan itu yang bikin cyberdeck kamu jadi milikmu sepenuhnya, bukan replika dari orang lain.
Di tengah dunia yang produknya makin seragam dan makin dikontrol dari pusat, merakit sesuatu yang sengaja tidak rapi ternyata jadi bentuk perlawanan kecil yang cukup masuk akal.
Key takeaway: Cyberdeck bukan soal siapa yang komputernya paling canggih, tapi siapa yang berani bikin sesuatu yang benar-benar mencerminkan dirinya sendiri.
Referensi & Resources:
- CNN Indonesia, "Ramai-ramai Gen Z Ikut Tren Cyberdeck, Apa Itu?" — https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20260702112657-206-1375931/ramai-ramai-gen-z-ikut-tren-cyberdeck-apa-itu
- Newsweek, "What is a 'cyberdeck': Meet Gen Z's new DIY obsession" — https://www.newsweek.com/what-is-a-cyberdeck-gen-zs-new-custom-computing-obsession-11787017
- Forbes, "What Is A Cyberdeck? The DIY Tech Trend Gaining Traction With Gen Z" — https://www.forbes.com/sites/technology/article/what-is-a-cyberdeck/
- The Hustle, "Why Gen Z is building custom computers" — https://thehustle.co/news/why-gen-z-is-building-custom-computers
- The Week, "Gen Z is building cyberdecks to fight off digital dullness" — https://theweek.com/culture-life/personal-technology/cyberdecks-customizable-computer-technology
