Sebuah video pendek berdurasi beberapa detik, diunggah Elon Musk di X, menampilkan dirinya sebagai anak kecil sedang makan es krim. Fotonya diambil sekitar 50 tahun lalu. Videonya dibuat AI dalam hitungan menit. Dalam beberapa jam, unggahan itu ditonton jutaan kali, dengan banyak orang menyebutnya "menggemaskan" sekaligus tidak terduga sisi humannya.
Alat di balik video itu bernama Grok Imagine, fitur pembuat gambar dan video milik xAI yang belakangan makin sering dipamerkan Musk sendiri lewat akun X-nya. Tapi cerita Grok Imagine tidak sesederhana video nostalgia. Di satu sisi, ini salah satu lompatan tercepat dalam teknologi AI generatif. Di sisi lain, alat yang sama tengah menyeret xAI ke meja hijau di beberapa yurisdiksi sekaligus.
Apa sebenarnya Grok Imagine itu
Grok Imagine adalah fitur AI yang bisa mengubah teks atau foto menjadi gambar fotorealistik maupun video pendek lengkap dengan audio. Musk mempromosikan Grok Imagine sebagai alat yang membuat gambar fotorealistik, video pendek dengan audio, serta editing dari prompt teks atau foto. Fitur ini ditenagai model Aurora dan Flux, terintegrasi langsung ke chatbot Grok di X, dan juga tersedia lewat API.
Cara pakainya sederhana. Pengguna cukup mengetik perintah /dream diikuti deskripsi yang diinginkan, mirip cara kerja bot Discord. Format slash command ini sengaja dibuat familiar: mengetik /dream, mendeskripsikan yang diinginkan, lalu Grok menghasilkannya. Menurut dokumentasi xAI, mesin di baliknya adalah Aurora-2, model multimodal milik xAI yang menangani gambar diam maupun output video dari satu antarmuka prompt yang sama.
Grok Imagine diluncurkan berdampingan dengan Grok 4.5, dan tersedia gratis untuk pengguna X Premium. Sebelumnya, akses fitur ini terbatas untuk pelanggan SuperGrok dan Premium+ lewat aplikasi Grok terpisah, sebelum akhirnya dibuka lebih luas ke publik.
Musk sendiri punya istilah sendiri untuk menggambarkan ambisinya: ia menyebut Grok Imagine sebagai "AI Vine", merujuk pada platform video pendek Vine yang populer beberapa tahun silam. Ambisinya bahkan lebih jauh dari sekadar klip pendek. Ia disebut memprediksi Grok bisa memproduksi film utuh sebelum akhir 2026, sementara arah pengembangan terbaru mengarah ke integrasi Imagine ke dalam "agentic mode" Grok, di mana AI bisa memutuskan sendiri kapan harus membuat konten visual tanpa perintah eksplisit dari pengguna.
Perlombaan video AI: Grok, Sora, dan Veo
Grok Imagine tidak lahir dalam ruang kosong. Ia bersaing langsung dengan Sora milik OpenAI dan Veo milik Google, dua nama besar lain di ranah video generatif. Pertarungan ini bahkan sempat memanas ketika OpenAI mengumumkan penutupan Sora, dan Musk merespons cepat lewat unggahan di X: "Rilis Grok Imagine berikutnya akan epic. Kami akan doubling down."
Yang menarik, beberapa pengamat menilai posisi Grok Imagine justru masih tertinggal dari sisi kualitas teknis. Sejumlah pakar mencatat Grok Imagine masih kalah dari raksasa industri seperti Veo 3 milik Google dan Sora milik OpenAI dalam hal realisme video maupun audio. Namun keunggulan Grok terletak di tempat lain: aksesibilitas dan harga. Musk memamerkan langganan senilai 10 dolar AS per bulan yang memungkinkan pengguna membuat gambar dan video enam detik.
Sisi lain dari daya saing ini adalah pendekatan moderasi konten yang jauh lebih longgar dibanding kompetitor. Menurut pengujian TechCrunch, generator gambar ini lebih longgar dibanding alat sejenis, meski masih ada beberapa batasan, seperti pembatasan menghasilkan gambar selebritas. Kelonggaran inilah yang kemudian membuka celah masalah yang jauh lebih serius.
Mode "Spicy" dan gugatan yang menumpuk
Salah satu fitur paling kontroversial dari Grok Imagine adalah mode berbayar bernama "Spicy Mode", yang dipasarkan sebagai cara untuk membuka storytelling yang lebih berani dan ekspresif. Namun fitur-fitur dalam Spicy Mode juga dilaporkan mengurangi pengamanan pada fitur pembuatan gambar Grok, termasuk Grok Imagine. Integrasi Grok dengan X membuat pengguna mudah mengunggah dan menandai foto orang sungguhan, lalu meminta Grok menghilangkan pakaian atau mengubah pose untuk membuat gambar eksplisit yang tetap mempertahankan wajah asli orang tersebut.
Konsekuensinya nyata dan cepat. Peneliti menyebut kemampuan "menelanjangi" pada Grok bukan sekadar menghasilkan gambar bikini atau lingerie, melainkan gambar telanjang penuh dari perempuan, laki-laki, bahkan anak-anak. Hal ini memicu gelombang gugatan hukum. Pada suatu hari Senin, tiga anak perempuan mengajukan gugatan class action terhadap xAI, menuduh perusahaan itu digunakan untuk membuat materi pelecehan seksual anak dari foto mereka. Gugatan class action lain menyebut setidaknya 100 individu terlibat, dengan tuduhan eksekutif xAI mengetahui risiko ini namun gagal menerapkan pengamanan standar industri.
Tekanan regulasi pun ikut menguat di berbagai negara. Dalam sebuah surat kepada xAI, 35 jaksa agung negara bagian di AS menyatakan Grok mempermudah pembuatan dan penyebaran gambar seksual deepfake tanpa persetujuan, termasuk gambar anak-anak, dan mendesak xAI memperkuat pengamanannya. Di Eropa, respons regulator bahkan lebih keras. Pengadilan Distrik Amsterdam memperingatkan xAI bahwa mereka akan mengenakan denda 100 ribu euro per hari jika perusahaan terus menghasilkan dan menyebarkan gambar telanjang tanpa persetujuan, putusan yang disebut sebagai salah satu yang pertama dalam jenisnya di dunia.
Di sisi lain, xAI sendiri mengklaim kesulitan teknis untuk sepenuhnya menutup celah ini. Dalam sidang, xAI menyatakan tidak mungkin menjamin platform sepenuhnya bebas dari penyalahgunaan semacam itu. Argumen ini yang kemudian dipertanyakan banyak ahli hukum, karena pertanyaan intinya bukan lagi soal pengguna nakal semata, melainkan soal desain produk dan tanggung jawab perusahaan begitu risiko penyalahgunaan sudah bisa diprediksi sebelumnya.
Dua wajah dari satu teknologi
Kalau ditarik satu langkah mundur, Grok Imagine sebenarnya merangkum ketegangan yang sedang dihadapi hampir semua AI generatif hari ini: kecepatan inovasi yang jauh meninggalkan kecepatan regulasi dan pengaman etis.
Dari sisi inovasi, kemampuannya nyata: mengubah foto lama jadi video, membuat konten dari satu baris teks, dan berpotensi menjadi alat bantu murah untuk kreator individu maupun pengembang game indie yang tidak punya budget produksi besar. Dari sisi risiko, kelonggaran moderasi yang sama justru menjadi pintu masuk penyalahgunaan yang serius, bukan cuma soal privasi, tapi soal materi pelecehan anak yang sudah masuk ranah pidana di berbagai negara.
Beberapa hal yang bisa jadi pegangan praktis untuk pembaca yang ingin ikut menggunakan atau sekadar memantau tools semacam ini. Cek kebijakan platform sebelum unggah foto orang lain, karena banyak kasus deepfake bermula dari foto yang diambil tanpa izin subjeknya. Simpan bukti jika menemukan konten deepfake diri sendiri, seperti tangkapan layar, URL, dan waktu unggah, karena itu penting untuk laporan hukum maupun ke platform. Ikuti juga perkembangan regulasi lokal, karena beberapa negara mulai punya jalur hukum spesifik untuk gambar seksual non-konsensual buatan AI, jadi opsi pelaporan makin jelas dari waktu ke waktu.

Ke mana arah selanjutnya
Grok Imagine kemungkinan akan terus berkembang cepat. Musk sudah menjanjikan rilis berikutnya akan lebih ambisius, sementara integrasi ke mode agentic Grok berarti AI ini akan makin sering "berinisiatif" membuat konten sendiri tanpa diminta eksplisit. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini akan makin canggih, tapi apakah pengamanan etisnya bisa mengejar kecepatan itu.
Yang jelas, satu video nostalgia yang viral tidak menghapus fakta bahwa alat yang sama sedang diperiksa di ruang sidang tiga benua berbeda. Keduanya, entah kita suka atau tidak, adalah wajah yang sama dari satu teknologi. Teknologi yang membuat kita tersenyum lewat kenangan lama, bisa jadi teknologi yang sama yang perlu kita awasi paling ketat.
Referensi & Resources:
- CoinPedia — Elon Musk Highlights Grok Imagine's AI Image and Video Generation Tools
- Deccan Chronicle — Elon Musk's xAI Rolls Out Image and Video Generator 'Grok Imagine'
- Caliber.Az — Elon Musk's xAI launches Grok Imagine video generator for everyone
- Forbes — Musk Is 'Doubling Down' On Grok Imagine Video Generator After OpenAI Axes Sora
- Basenor — Grok Imagine Explained in 4 Points
- 19th News — Women and girls are taking Grok to court over sexualized AI deepfakes
- ConsumerNotice.org — Grok AI Lawsuit: Deepfake Claims, Who Qualifies and Latest Updates
- CyberScoop — Undressed victims file class action lawsuit against xAI for Grok deepfakes
- Robert King Law Firm — Grok Lawsuit for AI Deepfake Exploitation Claims [2026 Update]
Apa yang membuat teks di bawah terlihat jelas buatan AI? Judul-judul subbab pakai Title Case ("Apa Sebenarnya Grok Imagine Itu", "Dua Wajah dari Satu Teknologi", dsb); daftar poin dengan bold inline-header ("Cek kebijakan platform...", "Simpan bukti...", "Ikuti perkembangan regulasi lokal") yang khas AI list formatting; beberapa em dash dipakai untuk sisipan; penutup dengan label bold "Ingat:" berfungsi seperti ringkasan otomatis khas AI.
Apakah hasil tulisan ulang mengandung fakta, nama, angka, tanggal, atau kutipan baru yang tidak ada di sumber? Tidak. Semua nama (Elon Musk, xAI, Grok Imagine, Aurora, Flux, Aurora-2, Grok 4.5, SuperGrok, Sora, OpenAI, Veo, Veo 3, Google, TechCrunch), angka (50 tahun, 10 dolar AS, enam detik, 35 jaksa agung, 100 individu, 100 ribu euro), tanggal (2026), dan kutipan langsung tetap sama seperti sumber. Tidak ada yang ditambahkan.
Hasil akhir (dipindai bersih dari em/en dash dalam badan artikel; em dash pada bagian Referensi & Resources dipertahankan sesuai gaya daftar sumber standar, karena itu bukan bagian dari prosa naratif yang dinilai skill ini). Perubahan: heading diubah ke sentence case, daftar bold inline-header diubah jadi kalimat prosa biasa, semua em dash di badan artikel diganti titik atau koma, dan label bold "Ingat:" dihapus lalu dilebur ke kalimat penutup biasa.
