Harry Poeze, Orang Belanda yang Paling Paham Tan Malaka di Dunia

Sejarawan Belanda ini menghabiskan hampir 50 tahun hidupnya meneliti satu orang yang oleh negaranya sendiri sempat ingin dilupakan.

#tanmalaka #harrypoeze #sejarahindonesia #revolusi #sejarahwawasan

Kreator Moco
7 menit baca
Memuat gambar...
Harry Poeze, Orang Belanda yang Paling Paham Tan Malaka di Dunia

Ben Anderson, sejarawan kenamaan spesialis nasionalisme Asia Tenggara, pernah melempar lelucon pada 2010. Katanya, biografi Tan Malaka yang ditulis Harry Poeze lebih tebal dari Sejarah Nasional Indonesia, buku sejarah resmi enam jilid bikinan pemerintah Orde Baru sendiri. Lelucon itu, menurut catatan Borobudur Writers and Cultural Festival, ternyata bukan basa-basi — itu fakta.

Total karya Poeze tentang Tan Malaka mencapai lebih dari 3.000 halaman, tersebar di delapan buku. Yang membuatnya makin aneh: penulisnya bukan orang Indonesia, bukan pula akademisi yang dibayar negara untuk merawat memori pahlawan nasional. Dia warga Belanda biasa, lahir di kota kecil bernama Loppersum, yang kebetulan jatuh cinta pada satu nama yang terus muncul di footnote buku-buku sejarah tanpa ada yang berani menjelaskannya secara lengkap.

Skripsi Mahasiswa yang Berubah Jadi Pengabdian Seumur Hidup

Harry Albert Poeze lahir di Loppersum, Belanda, pada 20 Oktober 1947. Ia kuliah Ilmu Politik di Universitas Amsterdam mulai 1967, dan di sanalah jalannya bersilangan dengan nama Tan Malaka — bukan lewat kelas khusus tentang Indonesia, tapi lewat kuliah sejarah yang diampu sosiolog ternama Wim Wertheim, sebagaimana ia ceritakan kepada Historia.id.

Saat itu Poeze sedang menyusun skripsi dan membaca berbagai literatur tentang perlawanan Indonesia terhadap kolonial Belanda. Nama Tan Malaka berulang kali disebut, tapi riwayat hidupnya selalu digambarkan penuh teka-teki — seolah sengaja dibiarkan kabur. Rasa ingin tahu itulah yang mendorongnya menulis skripsi tentang Tan Malaka pada 1971, lalu melanjutkannya jadi disertasi doktoral selama empat tahun sampai lulus 1976.

PDF page 1

Yang jarang diketahui, Poeze sempat merangkap profesi sebagai politikus. Selama 11 tahun (1971–1982) ia menjabat anggota dewan kota Castricum dari Partai Buruh, bahkan sempat menjadi asisten walikota. Ia menyebut dirinya sosial-demokrat — ideologi yang menurutnya kebetulan selaras dengan caranya membaca sosok kiri seperti Tan Malaka: kritis terhadap sistem, tapi tidak dogmatis.

Setelah lulus doktoral, Poeze bergabung dengan KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), lembaga riset kerajaan Belanda yang berbasis di Leiden. Di sinilah ia menghabiskan sisa kariernya sebagai peneliti senior, dengan satu proyek yang tak pernah benar-benar selesai: menyusun ulang hidup seorang revolusioner yang sengaja dibuat menghilang dari catatan resmi.

Berburu Jejak yang Sengaja Dihapus Rezim

Penelitian Poeze bukan kerja meja. Ia melacak arsip dan saksi hidup ke Jerman, Prancis, Inggris, Amerika Serikat, Rusia, Filipina, hingga akhirnya Indonesia — mengikuti rute pelarian Tan Malaka sendiri sebagai agen Komintern yang diburu enam dinas rahasia berbeda.

Kunjungan pertamanya ke Indonesia baru terjadi pada 1980, satu dekade setelah ia mulai meneliti. Alasannya sederhana dan agak menyentuh: ia tak punya uang. "Saya tidak ada uang ke Indonesia, saya miskin waktu itu," akunya kepada Lokadata. Visa penelitiannya pun tak menyebut nama Tan Malaka sama sekali — ia menulis sedang meneliti sejarah revolusi Indonesia secara umum, sebab nama itu masih sensitif di mata rezim Orde Baru.

PDF page 2

Kehati-hatian itu beralasan. Tan Malaka, meski sudah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Sukarno lewat Keppres No. 53 Tahun 1963, justru menghilang dari buku pelajaran sejarah sepanjang era Orde Baru — sebagaimana dicatat Universitas Gadjah Mada dalam diskusi peluncuran salah satu jilid karya Poeze. Buku-buku Poeze sendiri pernah dilarang Kejaksaan Agung. Untungnya, sebagai indonesianis asing, posisinya relatif lebih aman dibanding rekan-rekannya — Ben Anderson, misalnya, justru dilarang masuk Indonesia karena menulis versi lain Peristiwa 1965.

Pencarian paling melelahkan justru soal kematian Tan Malaka. Selama tiga hari Poeze berkeliling Kediri dengan motor sewaan, mewawancarai veteran yang masih hidup dari peristiwa 1949. Dari kesaksian merekalah ia akhirnya yakin: Tan Malaka ditembak mati pada 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya, di lereng Gunung Wilis, Desa Selopanggung, Kediri. Pada September 2009, tim yang ia pimpin menemukan lokasi pemakamannya — meski uji DNA lanjutan masih diperlukan untuk memastikan identitas kerangka secara penuh, seperti diakuinya sendiri di forum UGM.

Tan Malaka di Mata Poeze: Bukan Ikon, Tapi Manusia yang Kontradiktif

Inilah bagian paling menarik dari proyek Poeze: ia menolak menulis Tan Malaka sebagai monumen. Dalam diskusi di UGM, ia menegaskan dirinya berusaha menulis secara objektif, tidak condong ke kiri, karena menurutnya masih banyak karya sejarah yang mengesampingkan fakta demi narasi tertentu.

Poeze melihat Tan Malaka sebagai sosok yang layak dijadikan teladan justru karena ia berjuang tanpa pamrih — kontras dengan kebanyakan tokoh politik Indonesia hari ini, begitu pendapatnya di forum yang sama. Tapi penilaian itu tidak naif. Sejarawan Alfian pernah menjuluki Tan Malaka "revolusioner kesepian," dan Poeze, lewat risetnya, justru membuktikan julukan itu secara harfiah: sekitar 20 tahun (1922–1942) Tan Malaka hidup dalam pelarian tanpa satu pun kawan seperjuangan tetap di sisinya.

PDF page 3

Poeze juga membandingkan Tan Malaka dengan dua sesama perantau Minang yang sezaman: Hatta dan Sjahrir. Ketiganya sama-sama belajar Marxisme dan mengenyam pendidikan Belanda, tapi latar ekonomi mereka jauh berbeda. Tan secara adat adalah seorang raja kecil namun miskin, sementara Hatta dari Bukittinggi dan Sjahrir dari Padang Panjang berasal dari keluarga kelas menengah pedagang. Saat dibuang, Hatta dan Sjahrir masih menerima penghasilan tetap. Tan Malaka tidak punya pendapatan pasti sama sekali, hidupnya susah, bahkan pernah bergaul dengan romusha di Banten Selatan — catatan yang diulas laman soetudjuh berdasarkan riset Poeze.

Sikap keras kepala Tan Malaka pun tak ia tutupi. Pada 1926, saat PKI nekat melancarkan pemberontakan, Tan Malaka justru menulis Massa Actie untuk mencegahnya — ia menilai aksi tanpa basis massa yang jelas hanya akan berakhir sia-sia dan memakan korban. Dugaannya benar: pemberontakan itu gagal total, dan menurut catatan Poeze yang dikutip The Suryakanta, sekitar 1.300 orang ditangkap di Banten, sebagian dieksekusi, dan 99 orang diasingkan ke kamp tahanan Digul di Papua.

Bagi Poeze, kontradiksi semacam inilah yang membuat Tan Malaka sulit dipahami lewat kacamata hitam-putih. Ia seorang pemikir kiri yang justru menentang aksi kiri yang ia anggap gegabah. Ia seorang yang dipuja sebagai inspirator Sukarno, tapi sekaligus tokoh yang fotonya — kurang dari 20 lembar sepanjang hidupnya — nyaris tak pernah beredar di publik.

Mengapa Pekerjaan Poeze Ini Penting bagi Cara Kita Membaca Sejarah

Sejarawan Asvi Warman Adam menyebut karya utama Poeze, Verguisd en vergeten (Dihujat dan Dilupakan), sebagai biografi terbesar dalam sejarah modern Indonesia — tiga jilid, 2.194 halaman, disusun dari dokumen Indonesia, Belanda, sekaligus arsip Rusia. Tapi kebesaran itu bukan tanpa catatan. Wartawan senior Sabam Siagian, dalam ulasannya, mengakui karya ini kadang terlalu padat fakta jelimet sehingga gambaran besar Tan Malaka justru bisa kabur di tengah detail.

PDF page 4

Itu justru pelajaran pertama yang bisa kita ambil: kelengkapan data dan keterbacaan adalah dua hal berbeda, dan sejarawan yang baik harus berusaha merawat keduanya, bukan mengorbankan salah satu. Kalau Anda ingin menulis atau membaca sejarah tokoh kontroversial, jangan berhenti pada satu sumber — bandingkan setidaknya dua penilaian yang berbeda, seperti Asvi yang memuji kelengkapannya dan Sabam yang mengkritik kepadatannya.

Pelajaran kedua: objektivitas dalam menulis sejarah tokoh "berbahaya" — entah karena dianggap terlalu kiri atau terlalu kanan — butuh keberanian dan waktu yang panjang. Poeze butuh hampir 50 tahun, puluhan kali bolak-balik Belanda–Indonesia, dan keberaniaan menghadapi pelarangan negara, hanya untuk menyusun satu sosok secara utuh.

Pelajaran ketiga, dan ini yang paling personal: Poeze tak pernah bertemu langsung dengan Tan Malaka, namun keduanya — dalam kata-katanya sendiri — seolah dua individu yang menyatu lewat buku dan arsip. Itu bukti bahwa riwayat hidup yang dianggap "selesai" oleh sejarah resmi sering kali baru benar-benar mulai dipahami setelah seseorang mau menggali lebih dalam dari yang orang lain berani lakukan.

Tan Malaka mati di usia 51 tahun tanpa tahu suatu hari nanti seorang anak muda Belanda akan menghabiskan separuh hidupnya untuk memastikan ia tidak benar-benar dilupakan.

Ingat: sejarah yang sengaja dikaburkan oleh kekuasaan bukan berarti hilang selamanya — ia hanya menunggu orang yang cukup sabar untuk menyusunnya kembali, kepingan demi kepingan.

PDF page 5

Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Sejarah & Wawasan: