IHSG Anjlok 1,69% ke 6.277, Asing Lepas Saham Bank Besar

IHSG berbalik arah dan ditutup melemah 1,69% ke 6.277,04, tertekan jual asing di saham bank besar serta kenaikan suku bunga The Fed dan BOJ.

#ihsg #pasarmodal #foreignoutflow #perbankan #saham

Kreator Moco
6 menit baca
Memuat gambar...
IHSG Anjlok 1,69% ke 6.277, Asing Lepas Saham Bank Besar

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,69% ke level 6.277,04 pada Selasa, 22 September 2026 pukul 16.00 WIB, kehilangan 107,68 poin dibanding penutupan sehari sebelumnya di 6.384,73 (JournalArta). Padahal pagi harinya indeks sempat dibuka menguat di 6.392,34 dan menyentuh level tertinggi intraday 6.423,84, sebelum berbalik arah dan jatuh ke titik terendah harian 6.258,44.

Pembalikan sejauh itu dalam satu hari perdagangan jarang terjadi tanpa pemicu yang jelas. Di balik angka penutupan, ada aksi jual investor asing yang terkonsentrasi di saham bank besar, serta rentetan sentimen dari suku bunga global hingga kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru saja diumumkan.

Pembalikan Arah dalam Hitungan Jam

Pukul 10.45 WIB, IHSG sudah tertekan 1,33% ke 6.300,11, dengan 556 saham melemah berbanding 148 yang menguat (JournalArta). Menjelang penutupan sesi pertama, indeks sempat sedikit membaik dan berhenti di 6.313,56, turun 1,11% dengan rentang pergerakan 6.277 hingga 6.423 sepanjang sesi (Beritasatu).

PDF page 1

Data sesi pertama menunjukkan tekanan yang cukup merata: 513 saham melemah, hanya 147 menguat, dan 128 stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp7,98 triliun dari 20,63 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1.358.244 kali transaksi. Indeks LQ45, yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar, ikut melemah 0,73% pada sesi ini, dan seluruh sektor di BEI ditutup di zona merah (Beritasatu). Yang menarik, bursa-bursa utama Asia lain justru bergerak menguat pada hari yang sama, sehingga pelemahan IHSG terlihat lebih spesifik ke pasar domestik ketimbang cerminan sentimen regional secara umum.

Sesi kedua justru memperdalam koreksi. Indeks terus tertekan hingga menembus level terendah 6.258,44 sebelum akhirnya ditutup di 6.277,04.

Saham Bank Besar Jadi Sasaran Jual Asing

Salah satu penggerak utama pelemahan hari ini adalah aksi jual investor asing di empat saham perbankan raksasa. Berdasarkan data yang dihimpun Kompas.com pada perdagangan Selasa (22/9/2026), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat net foreign sell terbesar senilai Rp671,17 miliar, diikuti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp611,23 miliar. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masing-masing dilepas asing senilai Rp208,01 miliar dan Rp122,74 miliar. Total, keempat saham bank ini dijual bersih asing senilai Rp1,61 triliun dalam sehari.

PDF page 2

Sebagai perbandingan, data pekan sebelumnya (7 sampai 11 September 2026) dari IDX Channel menunjukkan porsi transaksi investor domestik sempat naik dari 67% menjadi 70%, sementara porsi asing turun dari 33% menjadi 30%. Pola ini mengindikasikan investor lokal makin dominan di tengah tekanan jual asing yang berulang dalam beberapa pekan terakhir.

Tiga Sentimen yang Menekan Pasar

Riset BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip Kompas.com menyebut kenaikan suku bunga acuan The Fed dan Bank of Japan (BOJ) masing-masing sebesar 25 basis poin sebagai pemicu meningkatnya sikap risk-off investor global, yang mendorong mereka mengurangi eksposur ke aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.

Faktor kedua adalah Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 22 hingga 23 September 2026. BI Rate sebelumnya berada di level 5,75%, dan pasar tengah menanti bukan hanya keputusan suku bunga, tetapi juga panduan Bank Indonesia soal stabilitas rupiah di tengah kondisi suku bunga global yang cenderung bertahan tinggi lebih lama (BRI Danareksa Sekuritas, dikutip detik.com). Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) menguat seiring pergeseran preferensi investor global ke aset yang dianggap aman, yang ikut menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah (Stabilitas.id).

PDF page 3

Faktor ketiga bersifat teknis dan spesifik pasar modal Indonesia: BEI berencana menghapus batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026. Kebijakan ini akan memberi ruang perdagangan baru bagi 46 saham yang saat ini berada tepat di level Rp50, dan menurut riset BRI Danareksa Sekuritas, perubahan ini turut menambah ketidakpastian jangka pendek di pasar (detik.com).

Dua Sisi yang Perlu Dipertimbangkan

Tesis yang mendukung pembacaan bahwa tekanan ini bisa berlanjut: kombinasi kenaikan suku bunga global, aksi jual asing yang terkonsentrasi di saham berbobot besar seperti perbankan, dan kebijakan harga minimum baru yang menambah ketidakpastian pada saham-saham berharga rendah, semuanya bisa menekan sentimen dalam beberapa hari ke depan, terutama jika RDG BI tidak memberi kepastian arah kebijakan yang menenangkan pasar.

Yang bisa membuat pembacaan ini keliru:

PDF page 4
  • Bursa-bursa utama Asia lain justru menguat pada hari yang sama, sehingga pelemahan IHSG tampak lebih dipicu faktor domestik ketimbang gelombang risk-off global yang menyeluruh.
  • Porsi investor domestik yang terus membesar dalam beberapa pekan terakhir berpotensi meredam dampak keluarnya dana asing, seperti yang tercermin dari data komposisi transaksi pekan 7-11 September 2026.
  • Di tengah pelemahan indeks secara keseluruhan, sejumlah saham individual seperti PT PSSI dan PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) justru mencatat kenaikan signifikan hingga masuk kategori auto reject atas (JournalArta), menandakan aksi beli selektif masih berjalan, bukan aksi jual panik di seluruh papan.

Belum ada data publik yang memadai untuk memastikan apakah pelemahan ini akan berlanjut menjadi tren jangka menengah atau sekadar koreksi teknikal jangka pendek. Hasil RDG BI pada 23 September 2026 kemungkinan besar akan jadi penentu arah sentimen pekan ini.

Yang Perlu Dipantau

Hasil dan panduan RDG Bank Indonesia yang diumumkan 23 September 2026, terutama soal arah BI Rate dan sikap otoritas terhadap tekanan rupiah, akan jadi acuan utama arah pasar dalam beberapa hari mendatang. Selain itu, penerapan kebijakan penghapusan batas harga minimum saham oleh BEI mulai 28 September 2026 patut dicermati, khususnya dampaknya pada volatilitas 46 saham berharga rendah yang terdampak langsung. Data aliran dana asing harian di saham-saham bank besar, khususnya BMRI dan BBCA, juga bisa jadi indikator apakah tekanan jual ini mereda atau justru berlanjut.


Referensi & Resources:

PDF page 5

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Pasar Modal: