Sabtu, 28 Februari 2026. Pukul 11 malam waktu Teheran. Alih-alih tangisan, yang terdengar dari balik jendela-jendela apartemen di ibu kota Iran adalah kembang api, klakson mobil, dan teriakan gembira. Rakyat Iran merayakan kematian pemimpin tertinggi mereka sendiri.
Kerumunan besar warga Iran memenuhi jalanan Teheran dan kota-kota lain, merayakan berita bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara gabungan AS dan Israel (Al Jazeera, 28 Feb 2026).
Bagi jutaan Muslim di seluruh dunia — termasuk di Indonesia — nama Khamenei punya makna tersendiri: sosok yang berani bersuara lantang membela Palestina ketika sebagian besar pemimpin dunia memilih diam. Tapi bagi sebagian besar warga Iran, dia adalah hal yang sangat berbeda: seorang penguasa yang tangannya berlumur darah rakyatnya sendiri.
Dua gambaran yang bertolak belakang ini adalah inti dari kontroversi yang melingkupi nama Ali Khamenei — semasa hidup, dan kini setelah kematiannya.
Akhir dari 36 Tahun Kekuasaan
Khamenei memegang kekuasaan sejak 1989, menggantikan pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, dan menghabiskan 35 tahun mengkonsolidasikan kendali penuh atas negara (NPR, 28 Feb 2026). Sebagai pemimpin tertinggi, dia memegang otoritas atas seluruh cabang pemerintahan, militer, dan peradilan, sekaligus bertindak sebagai pemimpin spiritual negara.
Kematiannya dikonfirmasi oleh media pemerintah Iran sendiri — Press TV — yang menyebut Khamenei sebagai syahid dan mengumumkan masa berkabung nasional 40 hari. Presiden Iran Masoud Pezeshkian memuji Khamenei yang telah memimpin Iran selama 37 tahun, dalam pernyataan via kantor berita semi-resmi Nour News (Axios, 28 Feb 2026).
Namun di luar koridor kekuasaan, reaksinya sangat berbeda.

Mengapa Banyak Muslim Dunia Menghormatinya
Kekaguman sebagian besar Muslim dunia terhadap Khamenei bukan sesuatu yang muncul dari ruang hampa. Ada dasar yang nyata dan bisa dipahami.
Sebagai pengkritik Israel yang keras, Khamenei mendukung warga Palestina dalam konflik Israel-Palestina dan mendukung apa yang disebutnya "Poros Perlawanan" — koalisi yang mencakup Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak (Wikipedia, "Ali Khamenei").
Di saat sebagian besar pemimpin negara mayoritas Muslim memilih jalur diplomasi diam atau bahkan normalisasi dengan Israel — mulai dari Uni Emirat Arab hingga tanda-tanda awal dari Arab Saudi — Iran di bawah Khamenei memilih posisi yang konsisten: konfrontasi terbuka. Bagi banyak Muslim yang menyaksikan penderitaan warga Gaza tanpa henti, sikap ini terasa seperti satu-satunya suara yang benar-benar serius.
Ketika Hamas melancarkan serangan 7 Oktober 2023, Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon langsung memberikan tekanan militer terhadap Israel, memicu konflik yang menewaskan sebagian besar pimpinan tertinggi milisi Syiah tersebut (Iran International).
Bagi banyak Muslim di Indonesia dan dunia, ini bukan sekadar politik luar negeri. Ini adalah soal keberpihakan terhadap keadilan bagi saudara seiman yang tertindas. Dan dalam konteks itu, penghormatan terhadap Khamenei punya akar yang sah dan manusiawi.
Di Balik Itu: Catatan Kelam di Dalam Negeri
Namun ada sisi lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja — dan inilah yang membuat warga Iran sendiri turun ke jalan merayakan kematiannya.

Iran membunuh ribuan warganya di bawah kekuasaan Khamenei, termasuk lebih dari 7.000 orang yang tewas selama berminggu-minggu protes massal yang dimulai akhir Desember 2025, menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA).
Ini bukan yang pertama. Protes mahasiswa 1999, protes pemilu presiden 2009, protes 2019, gerakan "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" 2022 akibat kematian Mahsa Amini, hingga protes 2025–2026 — semua dihadapi dengan cara yang serupa: penumpasan keras oleh aparat keamanan negara.
Dari gerakan mahasiswa 1999 hingga Gerakan Hijau 2009, protes ekonomi 2017 dan 2019, hingga pemberontakan "Woman, Life, Freedom" 2022, semuanya dihadapi dengan represi keamanan yang berat. Khamenei selalu menggambarkan setiap protes sebagai plot musuh asing yang diarahkan dari London, Tel Aviv, dan Washington (Iran International).
Yang paling tragis adalah peristiwa Januari 2026. Pada malam 8 dan 9 Januari, jutaan orang turun ke jalan di seluruh 31 provinsi. Pasukan keamanan bergerak dengan perintah eksplisit untuk menembak untuk membunuh. Laporan dari rumah sakit dan dokumen keamanan yang bocor menyebut puluhan ribu orang tewas (Iran International).
Inilah konteks yang menjelaskan mengapa di Fuladshahr dan Karaj, warga memenuhi jalanan, membunyikan klakson dan bersorak-sorai atas berita kematian Khamenei (New York Times, 1 Mar 2026).
Bagi keluarga yang kehilangan anak atau orang tua dalam protes-protes itu — perasaan mereka adalah sesuatu yang juga harus kita dengarkan.
Dua Perspektif yang Sama-Sama Perlu Didengar
Di sinilah kita perlu bersikap adil terhadap semua pihak.

Perspektif pertama — yang banyak dipegang Muslim di berbagai negara — berargumen bahwa dalam tata dunia yang tidak seimbang, di mana kekuatan besar secara konsisten memihak Israel, keberanian untuk bersuara secara konsisten membela Palestina adalah hal yang langka. Terlepas dari kekurangannya di dalam negeri, Khamenei tidak pernah bergeser dari posisi itu.
Perspektif kedua — yang lebih banyak datang dari warga Iran sendiri — menegaskan bahwa keberpihakan terhadap perjuangan di luar negeri tidak bisa dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap penindasan terhadap rakyat di dalam negeri. Beberapa warga Iran yang merayakan kematiannya bahkan menyatakan kesedihan bahwa Khamenei pergi tanpa pernah dimintai pertanggungjawaban atas tahun-tahun represi (Iran International).
Kedua perspektif ini perlu didengar secara bersamaan — bukan untuk saling membatalkan, tapi untuk memahami gambaran yang lebih utuh.
Yang penting untuk dicatat: rasa empati dan solidaritas terhadap perjuangan rakyat Palestina adalah nilai yang mulia dan tidak perlu dipertanyakan. Pada saat yang sama, memisahkan antara kebijakan luar negeri seseorang dengan perlakuannya terhadap rakyatnya sendiri adalah cara berpikir yang juga penting untuk dimiliki — agar kita bisa menilai sebuah kepemimpinan secara lebih adil dan menyeluruh.
Setelah Khamenei: Ketidakpastian yang Belum Selesai
Kematian Khamenei tidak menutup babak krisis Iran. Justru sebaliknya — babak baru yang lebih tidak pasti sedang dimulai.
Kematiannya memicu krisis suksesi segera tanpa jawaban yang jelas. Berdasarkan konstitusi Iran, dewan sementara mengambil alih kekuasaan sementara Majelis Ahli — sebuah badan yang terdiri dari 88 ulama Islam — memilih pemimpin tertinggi baru. Tapi Israel mengklaim serangan pembukaannya meluluhlantakkan rantai komando, menewaskan tujuh pejabat senior pertahanan dan intelijen (NPR, 28 Feb 2026).
Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim akan melancarkan "operasi ofensif paling intens" dalam sejarahnya terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan Amerika (Axios).

Iran tanpa Khamenei bukan berarti Iran yang langsung damai. Ini adalah Iran yang tengah dilanda krisis militer, krisis kepemimpinan, dan harapan yang bercampur kecemasan di jutaan hati warganya.
Dr. Mohsen Assadi Lari, seorang dokter yang kehilangan putra dan putrinya ketika Garda Revolusi Iran menembak jatuh pesawat penumpang Ukrainian Airlines pada 2020, mengunggah foto anak-anaknya dengan pesan: "Kita akan bertahan melewati musim dingin ini, musim semi sudah dekat." (Al Jazeera)
Satu Sosok, Dua Warisan yang Tak Bisa Dipisahkan
Khamenei meninggalkan warisan yang tidak sederhana. Dia bukan pahlawan tanpa cela. Dia juga bukan sekadar tiran yang tidak punya prinsip apapun.
Dia adalah seorang pemimpin yang keberpihakannya terhadap Palestina memberinya tempat di hati jutaan Muslim dunia — dan itu adalah fakta yang nyata. Pada saat yang sama, dia adalah penguasa yang memerintah dengan tangan besi terhadap rakyatnya sendiri selama lebih dari tiga dekade — dan itu juga adalah fakta yang tidak bisa dihapus.
Sebagai Muslim Indonesia yang menyaksikan ini dari jauh, mungkin yang paling bijak adalah memegang dua hal ini secara bersamaan: menghargai setiap perjuangan yang sungguh-sungguh membela keadilan bagi Palestina, sambil tetap peka terhadap jeritan rakyat Iran yang juga adalah manusia-manusia yang berhak atas martabat dan kebebasannya.
Karena keadilan — jika memang itu yang kita perjuangkan — tidak seharusnya hanya berlaku untuk sebagian orang saja.
Ingat: Sejarah tidak menilai seseorang dari satu sisi perjuangannya saja — melainkan dari keseluruhan warisannya.

Referensi & Sumber:
Al Jazeera, "Iran confirms Supreme Leader Ali Khamenei dead after US-Israeli attacks" (28 Feb 2026) — https://www.aljazeera.com/news/2026/2/28/irans-supreme-leader-ali-khamenei-killed-in-us-israeli-attacks-reports
NPR, "Iran's Ayatollah Ali Khamenei is killed in Israeli strike, ending 36-year iron rule" (28 Feb 2026) — https://www.npr.org/2026/02/28/1123499337/iran-israel-ayatollah-ali-khamenei-killed
Iran International, "Iranians react with joy and disbelief to Khamenei's death" (28 Feb 2026) — https://www.iranintl.com/en/202602288551
Axios, "Iranian state media confirms Supreme Leader Khamenei is dead" (28 Feb 2026) — https://www.axios.com/2026/02/28/iran-khamenei-killed-israel
New York Times, "Iranians Take to the Streets to Celebrate Khamenei's Death" (1 Mar 2026) — https://dnyuz.com/2026/03/01/iranians-take-to-the-streets-to-celebrate-khameneis-death/
Wikipedia, "Ali Khamenei" (diperbarui 28 Feb 2026) — https://en.wikipedia.org/wiki/Ali_Khamenei
Human Rights Activists News Agency (HRANA) — https://www.en-hrana.org
