Majapahit dan Nasionalisme Digital yang Kita Konstruksi

Ketika algoritma TikTok mendistribusikan ulang Sumpah Palapa — apakah kita sedang membangun identitas atau sekadar memilih nostalgia yang nyaman?

#majapahit #nasionalisme #sejarahindonesia #identitasdigital

Kreator Moco
8 menit baca
Memuat gambar...
Majapahit dan Nasionalisme Digital yang Kita Konstruksi

Sebuah video berdurasi 60 detik tayang di TikTok pada awal 2025. Seorang pemuda berseragam OSIS meneriakkan Sumpah Palapa dengan semangat, latar belakangnya peta Nusantara berwarna merah-putih. Dalam 48 jam, video itu ditonton lebih dari 3 juta kali. Ribuan komentar mengalir: "NKRI harga mati," "Gajah Mada legend," dan "bangga jadi orang Indonesia."

Tidak ada yang salah dengan kebanggaan itu. Tapi ada pertanyaan yang perlu diajukan sebelum kita hanyut terlalu jauh: Majapahit yang mana yang sedang kita banggakan?

Pertanyaan ini bukan sarkasme. Ini adalah titik masuk ke salah satu problem paling serius dalam lanskap nasionalisme Indonesia hari ini — bagaimana sejarah dikonsumsi di era digital telah menjadi sesuatu yang lebih mirip hiburan daripada pemahaman. Dan Majapahit, kerajaan Hindu-Buddha terbesar di Nusantara yang berdiri antara 1293 hingga sekitar 1500 M, telah menjadi tokoh utama dalam drama nasionalisme digital yang ambivalens ini.

Majapahit Sebagai "Imagined Community" Versi 2.0

Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983) — buku yang sampai hari ini masih menjadi referensi wajib studi nasionalisme — berargumen bahwa bangsa adalah "komunitas yang dibayangkan." Orang-orang yang tidak pernah bertemu satu sama lain, yang tersebar di ribuan pulau, bisa membayangkan diri mereka sebagai satu komunitas karena mereka berbagi narasi yang sama. Dahulu narasi itu disebarkan oleh mesin cetak dan surat kabar. Hari ini, narasi itu disebarkan oleh TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts.

Majapahit berdiri pada 1293 M di bawah pimpinan Raden Wijaya, mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Hayam Wuruk (1350–1389) dan Patih Gajah Mada, berhasil menyatukan sebagian besar wilayah kepulauan Nusantara. Kisah ini kemudian dikisahkan ulang berkali-kali dalam sejarah nasional Indonesia sebagai bukti bahwa "Indonesia" pernah bersatu sebelumnya — dan karena itu, bisa dan harus bersatu kembali.

PDF page 1

Ini adalah konstruksi yang sangat kuat secara emosional. Tapi konstruksi tetaplah konstruksi. Sebuah riset dari Universitas Indonesia yang dikutip dalam jurnal Multikultura (scholarhub.ui.ac.id) menegaskan bahwa citra Majapahit sebagai simbol kekuasaan dan konstruksi politik telah mengalami transformasi sejak awal abad ke-20 — diterima dalam konteks nasionalisme, ideologi revolusi, dan perjuangan melawan kolonialisme. Artinya, "Majapahit sebagai leluhur Indonesia" bukan sekadar fakta sejarah, ia adalah narasi yang dibangun secara sadar oleh para nasionalis Indonesia — dan kini direproduksi ulang oleh algoritma media sosial.

Sumpah Palapa: Penyatuan atau Penaklukan?

Sumpah Palapa diucapkan Gajah Mada pada upacara pengangkatannya sebagai Patih Amangkubhumi Majapahit pada 1336 M. Isi sumpahnya tercatat dalam Kitab Pararaton: ia bersumpah tidak akan menikmati palapa sebelum menaklukkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik di bawah kekuasaan Majapahit.

Kata kunci di sana: "menaklukkan." Bukan "menyatukan dalam kesetaraan."

Kontroversi ini muncul justru dari teks sumpah itu sendiri. Kalimat "lamun huwus kalah" berarti "kalau sudah kalah," bukan "kalau sudah bersatu bersama." Konsep persatuan dalam kesetaraan tidak ada dalam wawasan ketatanegaraan Gajah Mada — yang ada hanyalah konsep penyatuan melalui penaklukan. Istilah "nusantara" dalam bahasa Gajah Mada belum pernah terbayang sebagai negara kesatuan modern.

Ini bukan berarti Gajah Mada adalah penjahat. Tapi ini berarti bahwa ketika kita memviralkan Sumpah Palapa sebagai simbol persatuan nasional, kita sedang melakukan reinvention of tradition — meminjam istilah sejarawan Eric Hobsbawm — yaitu membungkus narasi kontemporer dengan kostum masa lalu untuk memberi kesan kedalaman historis yang melegitimasi.

PDF page 2

Beberapa kritikus sejarah berpendapat bahwa Sumpah Palapa telah terlalu diromanisasi dalam historiografi Indonesia, mungkin untuk tujuan pembangunan nasionalisme. Ada pula perdebatan etis tentang legitimasi ekspansi teritorial yang diinspirasi olehnya, serta pertanyaan tentang relevansinya dalam konteks Indonesia modern.

Termasuk juga kontroversi Perang Bubat tahun 1357 M — di mana Gajah Mada menginginkan agar Kerajaan Sunda tunduk kepada Majapahit, yang berujung pada kematian Putri Dyah Pitaloka beserta rombongannya, menimbulkan ketegangan antara Majapahit dan Sunda. Peristiwa ini nyaris tidak pernah muncul di konten TikTok bertema Majapahit. Algoritmanya memfilter bagian yang kompleks, menyisakan hanya bagian yang heroik dan memabukkan.

Algoritma Sebagai Mesin Produksi Nasionalisme Selektif

Inilah masalah yang sesungguhnya. TikTok menjadi platform paling populer sepanjang 2024, dengan rata-rata pengguna Indonesia menghabiskan 38 jam 26 menit per bulan. Platform ini mampu bertransformasi dari urusan hiburan menjadi ruang penting untuk diskusi publik dan politik.

Di ruang inilah narasi Majapahit dikonsumsi jutaan orang muda Indonesia setiap harinya. Masalahnya, TikTok tidak dirancang untuk nuansa. Algoritmanya mengoptimasi engagement — klik, like, share, komentar. Dan konten yang paling cepat memicu engagement adalah konten yang membangkitkan emosi kuat: kebanggaan, kemarahan, kecintaan. Narasi Majapahit yang disederhanakan — "nenek moyang kita pernah menguasai Asia Tenggara" — adalah bahan bakar sempurna.

Yang terjadi kemudian adalah apa yang peneliti komunikasi sebut sebagai historical flattening: sejarah yang kompleks, penuh kontradiksi dan ambiguitas, diratakan menjadi meme, infografis 9 slide, atau video 60 detik. Sisi-sisi yang tidak nyaman — kekerasan ekspansi, hegemoni Jawa-sentrisme, eksklusi terhadap narasi lokal lain — menghilang dari sirkulasi.

PDF page 3

Dalam penulisan sejarah Indonesia, terdapat apa yang disebut sebagai "mainstream Majapahit-sentrisme" yang membuat genealogi berupa narasi ingatan kelompok, di mana daerah-daerah yang pernah membangkang terhadap Majapahit justru diidentikkan dengan citra negatif dalam historiografi lokal. Di era digital, Majapahit-sentrisme ini bukan melemah — ia menguat karena konten yang proMajapahit secara konsisten mendapat lebih banyak engagement daripada konten yang kritis.

Dua Bahaya Sekaligus

Ada dua bahaya yang bekerja secara bersamaan di sini, dan keduannya sama seriusnya.

Pertama, nasionalisme yang dibangun di atas nostalgia yang selektif adalah nasionalisme yang rapuh. Ia bergantung pada musuh imajiner dan kejayaan masa lalu yang tidak bisa diverifikasi secara kritis. Ketika menghadapi kenyataan yang lebih kompleks — ketimpangan ekonomi, keragaman yang konflik, diskriminasi — nasionalisme semacam ini tidak punya alat analisis yang memadai. Yang tersisa hanyalah sentiment, dan sentiment mudah dimanipulasi.

Kedua, ada risiko bahwa nostalgia Majapahit tanpa konteks akan memperkuat, alih-alih menantang, logika Jawa-sentris dalam bingkai keindonesiaan. Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membangun persatuan di tengah perbedaan. Meskipun media sosial dapat memperkuat rasa persatuan, penggunaannya yang tidak bijaksana bisa memperburuk ketegangan sosial. Ketika narasi Nusantara yang dikampanyekan adalah narasi yang berpusat di Jawa Timur abad ke-14, apa posisi Aceh, Papua, Flores, atau Toraja di dalam cerita itu?

Ini bukan kritik terhadap Majapahit sebagai entitas sejarah. Majapahit adalah fakta sejarah yang penting dan layak dikagumi. Ini kritik terhadap cara kita menggunakannya sebagai alat narasi nasionalisme di era di mana validasi algoritmik menggantikan verifikasi historis.

PDF page 4

Nasionalisme Kritis: Bukan Menolak, Tapi Bertanya

Lalu apa yang harus dilakukan? Bukan berarti kita harus berhenti bangga dengan sejarah Nusantara. Justru sebaliknya — kebanggaan yang berdasar pada pemahaman yang lebih jujur akan jauh lebih kuat dan lebih tahan lama dibanding kebanggaan yang berdasar pada ilusi.

Beberapa hal yang bisa dimulai:

  • Biasakan membaca dua sisi. Setiap kali kamu menonton konten sejarah di TikTok atau YouTube, cari versi yang lebih kritis. Siapa yang tidak termasuk dalam narasi ini? Siapa yang diasingkan? Itu bukan sikap anti-nasionalis — itu sikap warga negara yang dewasa.
  • Bedakan antara inspirasi dan fakta. Sumpah Palapa bisa menginspirasi tanpa harus diklaim sebagai bukti bahwa "Indonesia sudah ada sejak abad ke-14." Inspirasi boleh, klaim sejarah harus akurat.
  • Dukung kreator konten sejarah yang kritis. TikTok telah berkembang menjadi wadah edukatif dan media advokasi sosial, dengan keunggulan menyampaikan pesan-pesan penting dalam durasi singkat namun berdampak besar. Artinya ruang untuk sejarah yang bernuansa juga ada — tapi perlu audiens yang secara aktif mencarinya dan memberi engagement.
  • Waspadai nasionalisme yang hanya bisa hidup dengan memusuhi sesuatu. Jika kebanggaan atas Majapahit selalu berujung pada sinisme terhadap negara tetangga atau kelompok lain, itu sinyal bahwa yang sedang kita konsumsi adalah chauvinisme berpakaian nasionalisme.

Sejarah Sebagai Percakapan, Bukan Proklamasi

Majapahit layak untuk dikenang, dipelajari, dan dijadikan cermin. Tapi cermin hanya berguna kalau kita mau melihat dengan jujur — termasuk bagian wajah kita yang tidak sempurna.

Nilai-nilai luhur seperti persatuan dalam keberagaman, semangat nasionalisme, dan pemerintahan yang berbasis hukum dari Majapahit telah menjadi bagian dari identitas bangsa Indonesia modern. Itu nyata dan berharga. Tapi warisan itu perlu didampingi dengan kejujuran tentang kompleksitasnya — tentang Perang Bubat, tentang hegemoni, tentang penaklukan yang bersembunyi di balik kata "persatuan."

PDF page 5

Nasionalisme digital Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan. Ia punya alat yang belum pernah dimiliki generasi sebelumnya untuk menyebarkan sejarah secara masif dan cepat. Pertanyaannya adalah: apakah kita akan menggunakan alat itu untuk menyebarkan pemahaman, atau hanya untuk mengamplifikasi romantisme?

Karena pada akhirnya, bangsa yang besar bukan yang paling keras berteriak soal kejayaan masa lalunya. Melainkan yang paling jujur berdialog dengan sejarahnya — termasuk bagian yang pahit.

Ingat: Bangsa yang takut pada sejarahnya sendiri tidak akan pernah benar-benar merdeka dari sejarahnya.


Referensi & Sumber:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Sejarah & Wawasan: