Sebuah pesan suara sampai ke tangan Santi Sanaya, istri Ashari Samadikun, pada suatu sore di akhir April 2026. Isinya singkat dan mencekam: kapal yang dinahkodai suaminya baru saja dikepung tiga perahu, ditembaki, lalu dikuasai paksa oleh orang-orang bersenjata di perairan Somalia.
Ashari Samadikun, 33 tahun, kapten kapal tanker Honour 25 asal Uni Emirat Arab, adalah warga Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ia menjadi salah satu dari empat WNI yang disandera dalam insiden pembajakan kapal tanker minyak Honour 25 sejak 21 April 2026. Kru lainnya berasal dari Pakistan, Myanmar, Sri Lanka, dan India. Satu detail kecil yang kemudian viral: ketika situasi sudah terkepung, Ashari mencoba menenangkan para perompak dengan menyebut dirinya seorang Muslim — dan perompak itu menjawab, "saya juga Muslim."
Kisah Ashari memantik pertanyaan lama yang tidak pernah benar-benar terjawab: siapa sebenarnya perompak Somalia? Apakah mereka penjahat biasa, korban sistem yang gagal, atau sesuatu yang lebih kompleks dari keduanya?
Negara yang Runtuh: Akar dari Segalanya
Untuk memahami perompak Somalia, kita harus mundur ke 1991. Tahun itu, rezim Siad Barre runtuh setelah perang saudara yang panjang. Somalia tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi efektif sejak terjadinya Perang Saudara pada tahun 1991, yang mengakibatkan tercabiknya Somalia dalam beberapa bagian yang masing-masing dikuasai kelompok perlawanan tertentu.
Kondisi ini dikenal dalam studi hubungan internasional sebagai failed state — negara yang secara teknis masih eksis di peta, tapi tidak mampu menjalankan fungsi-fungsi dasar: menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan melindungi warganya.
Konsekuensinya mengerikan bagi nelayan lokal. Tanpa angkatan laut, tanpa penjaga pantai, perairan Somalia yang kaya ikan menjadi free-for-all bagi kapal-kapal asing. Pembajakan dimulai sebagai protes nelayan Somalia terhadap illegal fishing dan pembuangan sampah beracun di perairan Somalia oleh kapal-kapal asing, yang menghancurkan mata pencaharian nelayan dan mendorong mereka menjadi pembajak — sebelum akhirnya para warlord memperalat mereka karena keuntungan finansial yang menjanjikan.
Penting untuk tidak terjebak romantisasi. Perompakan Somalia bukan Robin Hood versi laut. Tapi akar masalahnya memang tidak sesederhana "orang jahat ingin uang."
Anatomi Kelompok Perompak: Bukan Sekedar Gerombolan Bersenjata
Para pembajak Somalia rata-rata berasal dari wilayah Puntland, tergabung dalam beberapa kelompok dan terdiri atas beberapa elemen: nelayan lokal yang menjadi otak karena pengalaman dan pengetahuan laut; bekas anggota milisi yang pernah berjuang untuk warlord lokal; serta ahli teknik yang mampu mengoperasikan peralatan canggih seperti GPS.
Ini bukan gerombolan amatir. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, motif perompakan Somalia adalah industri berbasis penculikan untuk mendapatkan tebusan, karena melibatkan jaringan terorganisasi dengan investor, negosiator, hingga penjaga sandera. Ada yang membiayai operasi, ada yang bernegosiasi, dan ada yang menjaga sandera di darat. Persis seperti bisnis — hanya saja bisnisnya adalah menyandera manusia.
Para perompak biasanya menggunakan kapal kecil dan senjata ringan untuk menyerang kapal dagang besar, dengan teknik serangan menggunakan speedboat untuk mendekati kapal besar dengan cepat sebelum penjaga sempat bereaksi. Serangan terhadap Honour 25 mengikuti pola yang persis sama: menurut istri Ashari, suaminya baru mengetahui serangan setelah sekitar 15 orang bersenjata api sudah naik di atas kapal.
Puncak Kejayaan dan Kejatuhan: 2008–2016
Perompakan Somalia mencapai puncaknya sekitar 2008–2011. Serangan perompak Somalia memuncak pada 2011, ketika 160 serangan tercatat, dan total insiden mencapai 358 selama periode 2010–2015.
Dampak ekonominya bukan main-main. Antara 2004 dan 2011, lebih dari 2.600 serangan perompak dilaporkan dengan uang tebusan hingga 5,5 juta dolar per insiden. Total biaya ekonomi perompakan Somalia mencapai sekitar 6 miliar dolar pada 2012. Bank Dunia memperkirakan perompak Somalia menerima lebih dari 400 juta dolar AS dalam pembayaran tebusan antara 2005 dan 2012.
Dunia internasional kemudian bergerak. Armada kapal perang dari puluhan negara dikerahkan. Pada 7 Oktober 2008, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 1838 yang menyerukan kepada semua negara agar aktif mengambil bagian dalam perang melawan perompakan di lepas pantai Somalia. Sejak Januari 2009, ada 30 kapal perang dari sejumlah negara yang berpatroli di lepas pantai Somalia dan Teluk Aden.
Hasilnya dramatis. Jumlah serangan di perairan Somalia turun drastis menjadi hanya delapan dalam periode tujuh tahun antara 2016 dan 2022. Dunia bernapas lega — dan mulai melupakan Somalia.
Indonesia Sudah Pernah di Sini: Pelajaran dari MV Sinar Kudus
Bagi Indonesia, ancaman perompak Somalia bukan barang baru. Pada 16 Maret 2011, kapal kargo MV Sinar Kudus yang membawa 20 awak kapal WNI dibajak oleh perompak Somalia di Samudra Hindia, sekitar 456 mil laut dari pantai timur Somalia.
Bedanya dengan kasus Honour 25: MV Sinar Kudus adalah kapal berbendera Indonesia, sehingga negara punya alasan hukum dan moral yang lebih kuat untuk bertindak tegas. Presiden SBY menyetujui pembentukan Satgas Merah Putih, mengerahkan dua kapal fregat KRI Abdul Halim Perdanakusuma dan KRI Yos Sudarso, pasukan khusus dari Marinir, Kopassus, Kopaska, dan Kostrad, serta satu helikopter.
Setelah penyanderaan berlangsung 46 hari, pasukan gabungan berhasil membebaskan MV Sinar Kudus. Empat dari puluhan bajak laut dilumpuhkan pasukan yang tergabung dalam Tim Satgas Merah Putih. Ini menjadi operasi militer luar negeri pertama Indonesia dalam misi penyelamatan sandera — dan berhasil tanpa korban jiwa di pihak awak kapal.
Kasus Honour 25 jauh lebih rumit. Kapal Honour 25 merupakan kapal asal UEA, bukan berbendera Indonesia. Itu artinya jalur diplomatik dan hukumnya jauh lebih berlapis: Indonesia harus berkoordinasi dengan pemerintah UEA, pihak perusahaan pelayaran, dan otoritas Somalia sekaligus.
Mengapa Mereka Kembali pada 2024–2026?
Pertanyaan yang wajar: bukankah perompakan Somalia sudah hampir hilang? Kenapa tiba-tiba aktif lagi?
Perompak Somalia kembali melancarkan serangan, dengan pembajakan di kawasan Tanduk Afrika meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir — lebih tinggi dari titik manapun dalam enam tahun terakhir menurut Royal United Services Institute (RUSI).
Ada beberapa faktor yang saling berkaitan. Pertama, perhatian pasukan patroli internasional teralihkan ke Laut Merah, di mana kelompok Houthi dari Yaman aktif menyerang kapal-kapal komersial sejak 2023. Kedua, situasi kian mengkhawatirkan mengingat ketegangan yang berlangsung di Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel dengan Iran, yang membuat banyak kapal memilih jalur alternatif melewati Samudra Hindia. Lebih banyak kapal, lebih sedikit patroli — persis kondisi ideal bagi perompak.
Ketiga, dan ini yang sering dilupakan: masalah struktural Somalia tidak pernah benar-benar selesai. Kemiskinan, ketidakstabilan politik, dan ketiadaan lapangan kerja tetap ada. Perompakan hanya tertahan sementara — bukan dihilangkan.
Apa yang Bisa Dilakukan Indonesia?
Kasus Ashari dan tiga WNI lainnya menyingkap celah besar dalam perlindungan pelaut Indonesia di luar negeri. Sejumlah pakar mengusulkan beberapa langkah: diplomasi kepada negara asal kapal, tekanan lewat Organisasi Maritim Internasional (IMO), serta pelibatan asosiasi pelaut. Untuk jangka panjang, pelaut Indonesia perlu diperkuat dengan pedoman standar keamanan internasional di bawah IMO.
Tiga hal yang bisa langsung dicatat:
- Kesadaran risiko sebelum berlayar. Istri Ashari mengaku sudah bertanya soal pengawalan sebelum suaminya berangkat, tapi tidak ada pengawalan dari perusahaan. Standar keamanan kapal yang melewati zona rawan perlu diperketat — dan ini tanggung jawab perusahaan pelayaran, bukan hanya individu pelaut.
- Kapasitas diplomatik khusus maritim. Indonesia mengekspor puluhan ribu pelaut setiap tahun ke kapal-kapal asing. Kita butuh mekanisme respons cepat yang tidak bergantung pada bendera kapal.
- Tekanan pada level multilateral. UKMTO (Badan Operasi Perdagangan Maritim Kerajaan Bersatu) telah menaikkan tingkat ancaman di perairan Somalia menjadi "substansial" pasca-insiden Honour 25. Indonesia perlu hadir lebih aktif di forum-forum keamanan maritim internasional.
Ketika Laut Menjadi Ladang Ketidakadilan
Ada ironi pahit di balik seluruh cerita ini. Laut Somalia yang dulu menghidupi nelayan lokal, dijarah kapal-kapal asing tanpa tanggung jawab. Negara yang seharusnya melindungi warganya runtuh dalam perang saudara. Dan dari kehancuran itu, lahirlah industri kejahatan yang kini menjangkau pelaut dari Gowa, Bulukumba, Pemalang, dan Bogor.
Perompak Somalia bukan karakter tunggal — ada yang memang penjahat terorganisir, ada yang bertahan hidup dengan cara paling ekstrem, ada yang dikendalikan jaringan kriminal internasional. Yang pasti: selama ketidakstabilan Somalia belum diatasi secara serius, dan selama jalur laut internasional tetap menjadi ruang tanpa hukum yang memadai, ancaman ini tidak akan pernah benar-benar hilang.
Ashari Samadikun masih disandera ketika artikel ini ditulis. Semoga ia dan ketiga rekannya segera pulang dengan selamat.
Ingat: Keamanan pelaut kita di laut lepas adalah cerminan seberapa serius kita menganggap mereka sebagai bagian dari bangsa.
Referensi & Resources:
- Kompas.com – Kisah Kapten Kapal dari Indonesia yang Disandera Bajak Laut Somalia (April 2026): https://internasional.kompas.com/read/2026/04/29/050000770/kisah-kapten-kapal-dari-indonesia-yang-disandera-bajak-laut-somalia
- CNN Indonesia – Perompak Bajak Kapal Tanker di Laut Somalia, 4 ABK WNI Jadi Sandera: https://www.cnnindonesia.com/internasional/20260427095718-127-1352424/perompak-bajak-kapal-tanker-di-laut-somalia-4-abk-wni-jadi-sandera
- Wikipedia Indonesia – Perompakan di Somalia: https://id.wikipedia.org/wiki/Perompakan_di_Somalia
- Wikipedia Indonesia – Pembajakan MV Sinar Kudus: https://id.wikipedia.org/wiki/Pembajakan_MV_Sinar_Kudus
- Statista – Somalia Number of Piracy Attacks 2022: https://www.statista.com/statistics/250867/number-of-actual-and-attempted-piracy-attacks-in-somalia/
- NAOC (NATO Association of Canada) – An Overview of Somali Piracy: https://natoassociation.ca/an-overview-of-somali-piracy/
- The Conversation – Somali Piracy, Once an Unsolvable Security Threat, Has Almost Completely Stopped: https://theconversation.com/somali-piracy-once-an-unsolvable-security-threat-has-almost-completely-stopped-heres-why-213872
- CNBC – Somali Pirates Are Back on the Attack at a Level Not Seen in Years (Feb 2024): https://www.cnbc.com/2024/02/06/somali-pirates-are-back-on-the-attack-at-a-level-not-seen-in-years.html
- World Bank – The Pirates of Somalia: Ending the Threat, Rebuilding a Nation: https://documents1.worldbank.org/curated/en/840211468188347064/pdf/76713-v2-Box393223B-PUBLIC-pirates-of-somalia-executive-summary-web.pdf
