B50 Bertemu El Nino - Perebutan CPO untuk Biodiesel, Pangan, Ekspor

Mandat B50 menambah serapan CPO domestik tepat saat El Nino mengancam produksi sawit, memicu tarik-menarik pasokan untuk biodiesel, pangan, dan ekspor.

#cpo #b50 #biodiesel #elnino #komoditas

Kreator Moco
9 menit baca
Memuat gambar...
B50 Bertemu El Nino - Perebutan CPO untuk Biodiesel, Pangan, Ekspor

Sejak 1 Juli 2026, setiap liter solar yang mengalir di SPBU Indonesia membawa kandungan sawit sebesar 50 persen. Mandat biodiesel B50 resmi berlaku lewat Keputusan Menteri ESDM Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026, menyusul serangkaian uji coba di sektor otomotif, alat berat, kapal, dan kereta selama enam bulan (GAPKI, 6 Juli 2026).

Persis di periode yang sama, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menetapkan El Nino aktif sejak 2 Juni 2026. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani memperingatkan fenomena ini berpotensi mencapai level sangat kuat, dengan kekeringan yang lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia (BMKG, 28 Juli 2026).

Dua peristiwa itu bertemu di titik yang sama, yaitu pasokan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional. Mandat B50 menambah kebutuhan CPO untuk biodiesel sekitar 3 hingga 3,5 juta ton per tahun (Kementerian Pertanian, dikutip Advanced Biofuels USA, 6 April 2026), sementara produksi CPO justru diproyeksikan menyusut akibat kemarau panjang. Harga referensi CPO dari Kementerian Perdagangan untuk September 2026 sudah naik menjadi 1.007,51 dolar AS per metrik ton, naik 1,10 persen dari bulan sebelumnya (Kemendag, dikutip ANTARA Gorontalo, September 2026). Pertanyaannya, dari kolam pasokan yang sama, kebutuhan mana yang akan mengalah ketika biodiesel, pangan domestik, dan ekspor berebut tahun ini.

Ambisi Energi Bertemu Kemarau yang Diperkirakan Sangat Kuat

Jalan menuju B50 tidak lurus. Awal 2026, pemerintah sempat menunda target ini dan mempertahankan blending B40 hingga akhir tahun, dengan alasan teknis, fiskal, dan kesiapan pasar (Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung, dikutip F&L Asia, 30 Juni 2026). Momentum berbalik pada April 2026 ketika Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong tanggal 1 Juli sebagai titik mulai, dengan bingkai kemandirian energi di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.

Uji coba yang dijalankan menunjukkan tingkat keberhasilan 80 hingga 90 persen, dengan kandungan air pada B50 dinilai lebih baik dibanding campuran sebelumnya (GAPKI, 18 Juni 2026). Pengujian untuk sektor pertambangan, alat berat, dan pertanian masih berlanjut hingga paruh kedua 2026, sementara kajian teknis untuk kereta api dan pembangkit listrik masih difinalisasi.

Di jalur cuaca, BMKG sebenarnya sudah memprediksi sejak Maret 2026 bahwa musim kemarau tahun ini akan berbarengan dengan El Nino berintensitas moderat. Namun analisis Mei hingga Juli menunjukkan intensitasnya menguat menjadi kuat, dan berpotensi naik lagi ke kategori sangat kuat (Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dikutip Bisnis.com, 25 Agustus 2026). BMKG memperkirakan pengaruh El Nino di dalam negeri mulai mereda pertengahan Oktober 2026 seiring datangnya musim hujan, meski secara global fenomena ini diproyeksikan tetap aktif hingga Mei 2027.

PDF page 1

Kebetulan dua peristiwa ini terjadi di tahun yang sama bukan tanpa konsekuensi. Tahun ketika kebijakan energi memperbesar peran sawit justru menjadi tahun ketika risiko iklim terhadap hasil panen sawit juga memuncak.

Angka-Angka yang Membentuk Perebutan Pasokan

Ekonom senior sawit dari Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, memproyeksikan produksi CPO Indonesia menurun dari 51,6 juta ton pada 2025 menjadi sekitar 49,2 juta ton pada 2026, dan turun lagi ke sekitar 47,6 juta ton pada 2027 (dikutip CNBC Indonesia, 31 Agustus 2026). Pola serupa terjadi di Malaysia dan secara global.

Tahun Produksi CPO Indonesia (juta ton) Produksi CPO Malaysia (juta ton) Produksi CPO Dunia (juta ton)
2025 (realisasi) 51,6 20,2 85,4
2026 (proyeksi) 49,2 19,5 85,2
2027 (proyeksi) 47,6 belum ada proyeksi resmi 83,6

Sumber: Tungkot Sipayung (PASPI), dikutip CNBC Indonesia, 31 Agustus 2026.

Stok akhir minyak sawit Indonesia menunjukkan pola yang lebih longgar dibanding kekhawatiran produksi:

Periode Stok Akhir (juta ton)
Juni 2025 2,530
Desember 2025 2,068
Mei 2026 3,042
Juni 2026 2,844

Sumber: data GAPKI, dikutip CNBC Indonesia, 31 Agustus 2026.

Di sisi kebijakan energi, Kementerian ESDM memproyeksikan implementasi B50 menghemat devisa hingga Rp157,28 triliun sepanjang 2026 (Direktur Jenderal EBTKE Eniya Listiani Dewi, dikutip GAPKI, 18 Juni 2026), sekaligus memangkas konsumsi solar fosil sekitar 4 juta kiloliter per tahun. Total serapan CPO untuk seluruh program biodiesel nasional kini mencapai sekitar 14 juta ton (KPBN, dikutip Haisawit.co.id, 2026).

PDF page 2

Di sisi harga, tren dua bursa acuan justru berbeda arah dalam jangka pendek. Harga referensi CPO Kemendag untuk September 2026 naik ke 1.007,51 dolar AS per metrik ton dari 996,52 dolar AS per metrik ton pada Agustus 2026 (Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana, dikutip ANTARA Gorontalo, September 2026). Sementara itu, harga CPO di Bursa Malaysia justru melemah 1,16 persen ke RM4.940 per ton pada pekan yang sama, dengan kisaran pergerakan diperkirakan RM4.900 hingga RM5.050 per ton (Indikatorbisnis, September 2026).

Di sisi pangan, realisasi domestic market obligation (DMO) Minyakita di bawah Permendag 43/2025 mencapai 1.078.538 ton hingga 18 September 2026, dengan porsi swasta 51,45 persen dan BUMN pangan 48,55 persen (Sekretaris Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Bambang Wisnubroto, dikutip Fortune Indonesia, September 2026). Delapan provinsi, sebagian besar di Indonesia timur, masih mencatat harga Minyakita lebih dari 5 persen di atas Harga Eceran Tertinggi.

Bagaimana Tiga Kebutuhan Ini Berebut Kolam yang Sama

Produksi CPO nasional pada dasarnya adalah kolam terbatas yang diperebutkan tiga klaim sekaligus, yaitu biodiesel untuk mandat B50, minyak goreng domestik lewat DMO Minyakita, dan ekspor sebagai sumber devisa serta pungutan BPDPKS. Ketika kolam ini menyusut akibat El Nino, sementara mandat biodiesel bersifat persentase tetap terhadap konsumsi solar nasional dan tidak otomatis mengecil saat pasokan sawit ketat, tekanan paling besar jatuh pada alokasi untuk ekspor dan cadangan pangan.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa separuh produksi CPO kini terserap untuk B50, sehingga volume yang tersisa untuk ekspor mengecil dan mendorong harga naik (dikutip Kontan, 4 September 2026). Namun ia juga mencatat permintaan dari pasar tradisional seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan cenderung tetap masuk berapa pun kondisi pasokannya.

Ada juga jeda waktu yang penting dipahami. Senior analis dan penasihat Glenauk Economics Malaysia, Leow Huey Chuen, menjelaskan bahwa dampak El Nino terhadap produksi CPO baru terasa nyata sekitar tujuh hingga delapan bulan setelah fenomena itu dimulai, dan penurunan pasokan pada titik itu berpotensi mendorong harga sawit naik 30 hingga 35 persen (6th Palm Biodiesel Conference, 18 September 2026). Dengan El Nino dinyatakan aktif sejak Juni 2026, tekanan produksi paling besar kemungkinan justru terasa pada 2027, sementara harga sudah bergerak lebih dulu karena ekspektasi pasar.

Ada pula paradoks di tingkat kebun. Ketua Umum Apkasindo Gulat Manurung melaporkan kelangkaan solar di Sumatra sejak pertengahan Juli 2026 mengganggu rantai distribusi tandan buah segar dari kebun ke pabrik, memperpanjang interval panen dari biasanya 8 sampai 10 hari menjadi 8 sampai 12 hari (dikutip AFU.id, 9 Agustus 2026). Truk pengangkut dan alat panen sama-sama membutuhkan solar, sehingga program yang meningkatkan porsi biodiesel dalam solar justru bisa bersinggungan dengan kebutuhan bahan bakar di lini produksi paling hulu.

PDF page 3

Risiko Dua Arah: Kekhawatiran Kelangkaan Versus Data yang Meredakannya

Tesis yang mendukung kekhawatiran kelangkaan cukup kuat. Produksi CPO diproyeksikan turun tiga tahun berturut-turut, GAPKI memperkirakan koreksi lanjutan 4 hingga 5 juta ton pada 2027 sebagai efek tunda kemarau tahun ini, dan titik panas kebakaran lahan sempat mencapai 6.000 titik pada akhir Agustus 2026, lebih tinggi dibanding periode 2015 (5.100 titik) maupun 2019 (3.400 titik) (dikutip EGINDO, akhir Agustus 2026).

Namun sejumlah data dan pendapat lain menahan laju kekhawatiran itu. Stok akhir Juni 2026 sebesar 2,844 juta ton masih lebih tinggi dibanding stok akhir Juni 2025 (2,530 juta ton) maupun akhir 2025 (2,068 juta ton), menandakan ada bantalan yang belum habis. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Amran Sulaiman menyatakan harapannya dampak El Nino terhadap sawit "tidak terlalu besar", sembari mencatat volume ekspor CPO yang justru naik dari sekitar 26 juta ton menjadi 32 juta ton pada periode sebelumnya (dikutip CNBC Indonesia, 31 Agustus 2026).

Perwakilan GAPKI, Eddy, menambahkan bahwa dampak El Nino terhadap industri sawit biasanya baru tercermin pada produksi satu hingga dua tahun ke depan, bukan langsung pada tahun berjalan, kecuali terjadi kebakaran di area perkebunan (dikutip Kontan, 30 Juni 2026). Sejumlah pelaku usaha sawit melaporkan pengawasan ketat di area ring 1 hingga ring 3 sejauh ini berhasil mencegah dampak signifikan terhadap operasional kebun (EGINDO, akhir Agustus 2026). Pelemahan harga CPO Malaysia sebesar 1,16 persen pada periode yang sama juga menjadi sinyal bahwa pasar belum seragam membaca narasi kelangkaan.

Di sisi pangan, pemerintah tidak diam. Kemendag mempercepat realisasi DMO Minyakita dan mengarahkan Bulog serta ID Food memprioritaskan distribusi ke delapan provinsi yang harganya masih di atas HET, sebagai bagian dari mitigasi menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Bulog sendiri telah menyalurkan 82,26 persen dari stok yang dimilikinya (Kemendag, dikutip Liputan6, September 2026).

Yang Perlu Dipantau

Beberapa data akan menentukan apakah kekhawatiran pasokan ini terbukti atau justru mereda.

PDF page 4

Perkembangan intensitas El Nino dari BMKG, khususnya apakah pengaruhnya di dalam negeri benar melemah pada pertengahan Oktober 2026 seperti proyeksi, atau bertahan lebih lama sejalan dengan proyeksi global WMO hingga Mei 2027.

Rilis data produksi dan ekspor CPO dari GAPKI serta Badan Pusat Statistik untuk kuartal IV 2026 dan kuartal I 2027, untuk menguji apakah proyeksi produksi 49,2 juta ton pada 2026 dan koreksi lanjutan 4 hingga 5 juta ton pada 2027 benar terealisasi.

Realisasi bulanan DMO Minyakita dari Kemendag, terutama di delapan provinsi Indonesia timur yang harganya masih di atas HET, menjelang periode Nataru 2026/2027.

Harga referensi CPO Kemendag periode Oktober 2026 dan selisihnya dengan harga di Bursa Malaysia, sebagai penanda pihak mana yang lebih dulu merasakan tekanan pasokan.

Kuota dan distribusi solar bersubsidi untuk sektor pertanian, menyusul laporan gangguan distribusi tandan buah segar di Sumatra pada Juli hingga Agustus 2026.

Perlu dicatat, hingga artikel ini ditulis belum ada angka resmi final dari BPS atau GAPKI mengenai realisasi produksi CPO kuartal III 2026. Seluruh proyeksi di atas masih berbasis estimasi ekonom dan asosiasi industri, bukan data definitif, sehingga tetap perlu dikonfirmasi ulang saat data resmi terbit.


Referensi & Resources:

PDF page 5

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Komoditas: