Sejak 15 September 2026, formula harga patokan mineral (HPM) untuk bijih nikel limonit berubah drastis. Corrective Factor (CF) nikel untuk bijih berkadar Ni maksimal 1,2 persen dipangkas dari 26 persen menjadi 14 persen, sementara koefisien kobalt turun dari 30 persen menjadi 17 persen. Efeknya terlihat jelas pada angka: untuk bijih berkadar Ni 1,2 persen, HPM turun 45 persen menjadi US$24,89 per wet metric ton (wmt), dari sebelumnya US$44,97 per wmt, berdasarkan perhitungan Shanghai Metals Market (SMM) yang memakai Harga Mineral Acuan (HMA) nikel paruh kedua September 2026 sebesar US$16.698 per ton.
Aturan itu tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No. 363.K/MB.01/MEM.B/2026, ditetapkan 11 September 2026 sebagai perubahan kedua atas Kepmen ESDM No. 268.K/MB.01/MEM.B/2025. Dua kubu bereaksi berbeda. Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) meminta pemerintah mengevaluasi dampaknya terhadap penerimaan negara, sementara Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) menyambutnya sebagai kepastian bagi smelter berbasis high pressure acid leaching (HPAL). Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya diuntungkan dari perubahan ini.
Formula Baru dan Alasan Limonit Jadi Sasaran Utama
Kerangka dasar formula HPM sebenarnya tidak berubah. Nilai bijih tetap dihitung dari kandungan Ni, Fe, Co, dan Cr, lalu dikoreksi dengan kadar air (moisture content). Fe hanya dihitung jika kadarnya tidak lebih dari 35 persen, sedangkan kobalt dihitung bila kadarnya minimal 0,05 persen. Limonit rata-rata punya kadar Fe 44 sampai 47 persen, jauh di atas ambang itu, sehingga nilai besinya sejak awal tidak ikut mengangkat HPM limonit.
Revisi September 2026 menyasar bagian lain dari formula: koreksi khusus untuk bijih berkadar Ni rendah. Kepala Strategi dan Pengembangan Bisnis PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Mateus Sigit H., menjelaskan bahwa formula sebelumnya, yang berlaku sejak 15 April 2026 lewat Kepmen ESDM No. 144.K/MB.01/MEM.B/2026, sempat membuat harga patokan bijih melonjak tajam, bisa berlipat dua dari kisaran US$20-an menjadi US$40-an per wmt (disampaikan dalam sosialisasi MediaMIND 2026, 14 September 2026). Revisi terbaru mengoreksi lonjakan itu khusus untuk limonit.
Kenapa Turun 45% Tidak Sama dengan Harga Jual Anjlok Segitu
Angka 45 persen terdengar drastis, tapi HPM bukan harga transaksi yang wajib diikuti. Ia adalah batas bawah acuan untuk menghitung royalti, sementara harga jual riil tetap dinegosiasikan antara penambang dan smelter. SMM mencatat harga rata-rata CIF bijih nikel Indonesia berkadar Ni 1,2 persen sudah berada di kisaran US$27 per wmt pada 17 September 2026, jauh di bawah HPM lama sebesar US$44,97 per wmt.
Artinya, sebelum formula baru berlaku, harga pasar aktual sudah lebih rendah daripada HPM versi lama. Revisi ini pada dasarnya membuat harga acuan mendekati kondisi transaksi yang sudah terjadi di lapangan, bukan memangkas pendapatan penambang sebesar 45 persen secara langsung. Dampak riilnya lebih terasa pada basis perhitungan royalti dan PNBP, bukan pada harga jual yang selama ini sudah dinegosiasikan mendekati level pasar.

Dampak ke Emiten: Tidak Semua Diperlakukan Sama
Posisi tiap emiten di rantai pasok menentukan apakah revisi ini menguntungkan atau memberatkan. Emiten yang murni menjual bijih mentah merasakan tekanan pada basis royalti, sementara emiten yang punya fasilitas pengolahan sendiri justru diuntungkan dari bahan baku yang lebih murah.
| Emiten | Eksposur ke Limonit/HPAL | Data Terbaru | Potensi Dampak Revisi HPM |
|---|---|---|---|
| DKFT | Bauran seimbang saprolit dan limonit | Volume jual bijih turun 34,3% jadi 1,21 juta ton, laba bersih naik 29,9% jadi Rp403,03 miliar (semester I/2026) | Beban royalti limonit berpotensi turun, cadangan limonit yang sebelumnya kurang ekonomis lebih bisa dikomersialkan |
| MBMA | Penambang sekaligus pengolah limonit untuk HPAL | Penjualan limonit naik 126% yoy jadi 4,8 juta wmt, margin tunai limonit US$10,1 per wmt (kuartal I/2026) | Volume penjualan limonit berpotensi terus naik seiring HPM lebih dekat ke harga pasar |
| NCKL | Terintegrasi tambang dan pengolahan | Pendapatan dan laba bersih tumbuh pada semester I/2026 | Dampak relatif berimbang, harga bijih lebih rendah di hulu ditopang margin pengolahan di hilir (BRI Danareksa Sekuritas, 17 September 2026) |
| INCO | Fokus nikel matte dari bijih kadar tinggi, mulai kembangkan proyek HPAL | Proyek HPAL masih tahap pengembangan | Dampak langsung masih terbatas, eksposur berpotensi membesar seiring proyek HPAL berjalan |
DKFT mencatat volume penjualan bijih nikel turun 34,3 persen menjadi sekitar 1,21 juta ton pada semester I/2026, namun pendapatan justru naik 5,9 persen menjadi Rp1,01 triliun dan laba bersih melonjak 29,9 persen menjadi Rp403,03 miliar pada periode yang sama. Dengan HPM baru, perusahaan ini berpotensi mendapat manfaat dari beban royalti limonit yang lebih ringan, apalagi cadangan limonit yang sebelumnya dianggap kurang bernilai punya peluang lebih besar untuk dikomersialkan.
MBMA sudah lebih dulu menunjukkan arah tren ini. Pada kuartal I/2026, volume bijih yang ditambang perusahaan ini naik 143 persen secara tahunan menjadi 7,7 juta wmt, dengan penjualan limonit melonjak 126 persen menjadi 4,8 juta wmt. Margin tunai limonit tercatat US$10,1 per wmt, lebih tinggi dibanding margin saprolit yang sebesar US$4 per wmt. Angka ini memperlihatkan bahwa limonit sudah jadi kontributor margin yang cukup berarti sebelum revisi HPM berlaku, dan basis harga yang lebih rasional berpotensi memperkuat posisi itu.
BRI Danareksa Sekuritas, dalam catatan risetnya tertanggal 17 September 2026, menyebut NCKL, MBMA, dan INCO paling relevan diperhatikan karena eksposur mereka terhadap limonit dan hilirisasi HPAL. Untuk perusahaan yang sudah terintegrasi dari tambang sampai pengolahan, dampak revisi dinilai lebih berimbang karena harga bijih yang lebih rendah di sisi hulu tertutup oleh manfaat bahan baku murah di sisi hilir. INCO sendiri untuk saat ini masih lebih banyak memproduksi nikel matte dari bijih kadar tinggi (saprolit), sehingga dampak langsung revisi HPM limonit masih terbatas, meski perusahaan ini sedang mengembangkan proyek HPAL yang ke depan akan menambah eksposurnya terhadap dinamika harga limonit.
Tesis yang Menguntungkan Smelter, dan Bantahan dari Sisi Hulu
FINI menilai struktur harga limonit yang lebih terjangkau membantu melindungi industri HPAL dari tekanan operasional dan arus kas, sekaligus memberi kepastian pasokan bahan baku bagi pengolahan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) yang menjadi bagian penting rantai pasok nikel kelas baterai. APNI sendiri mengakui formula yang lebih mendekati keekonomian limonit berpotensi meningkatkan pemanfaatan cadangan bijih kadar rendah yang selama ini kurang optimal digarap.
Yang bisa membuat pembacaan ini keliru jika diterima mentah-mentah:
- APNI, lewat Sekretaris Umum Meidy Katrin Lengkey, menekankan bahwa keberhasilan revisi tidak bisa dilihat hanya dari sisi harga bijih. Basis HPM yang lebih rendah berarti basis royalti dan PNBP dari limonit juga ikut turun, kecuali kenaikan volume penjualan cukup besar untuk menutup selisihnya.
- HPM tetap mengacu pada Harga Mineral Acuan (HMA) nikel global yang bergerak setiap bulan. Jika harga nikel dunia melemah lebih jauh, penambang bijih kadar rendah yang marjinnya memang tipis bisa kembali tertekan, terlepas dari perubahan CF yang sudah berlaku.
- Sebagian data kinerja emiten yang dipakai untuk menilai dampak revisi ini, termasuk kinerja DKFT dan MBMA di atas, masih mencerminkan periode sebelum 15 September 2026. Efek revisi yang sesungguhnya baru akan terlihat jelas pada laporan keuangan kuartal III/2026.
Menyimpulkan bahwa penambang pasti dirugikan dan smelter pasti diuntungkan sama-sama terlalu sederhana. Hasil akhirnya bergantung pada kadar bijih, biaya produksi, jarak angkut, struktur kontrak dengan smelter, dan seberapa besar porsi limonit dalam total penjualan masing-masing perusahaan.
Yang Perlu Dipantau
Beberapa hal konkret akan menentukan apakah revisi ini benar-benar berimbang bagi seluruh rantai pasok nikel:
- Evaluasi dampak fiskal yang diminta APNI, membandingkan realisasi PNBP sektor nikel sebelum dan sesudah 15 September 2026.
- Laporan keuangan kuartal III/2026 dari NCKL, MBMA, dan DKFT, yang akan jadi indikator pertama efek nyata revisi HPM terhadap margin masing-masing perusahaan.
- Pergerakan Harga Mineral Acuan (HMA) nikel bulanan, karena level absolut HPM limonit sepenuhnya mengikuti harga nikel global tersebut.
- Perkembangan proyek HPAL PT Vale Indonesia, yang akan menentukan seberapa besar eksposur INCO terhadap dinamika harga limonit di masa depan.
Formula HPM boleh berubah lagi seiring berjalannya waktu, seperti yang sudah dua kali terjadi sepanjang 2026. Yang tetap perlu dipegang pembaca adalah membaca setiap revisi dari data transaksi aktual, bukan dari persentase perubahan HPM semata.
Referensi & Resources:
- HPM Nikel Direvisi, APNI Soroti Valuasi Limonit dan Penerimaan Negara - Nikel.co.id, 16 September 2026
- HPM Nikel Berubah Lagi: Limonit Mendapat Ruang Bernapas - Nikel.co.id, 17 September 2026
- HPM Nikel Turun 45%, Dampaknya ke NCKL, MBMA, DKFT hingga NICL - Mikirduit.com
- Kepmen ESDM Nomor 363 Tahun 2026 Berlaku, Siapa yang Paling Diuntungkan? - Jurnalpost.com
- Formula Harga Baru Beri Kepastian untuk Industri Smelter Nikel - Suara.com, 17 September 2026
- Ganjalan Emiten Nikel Menipis - Investor.id
- Aturan HPM Nikel Berubah, APNI Ingatkan Isu Keberlanjutan Tambang dan PNBP - Wartaekonomi.co.id
- Merdeka Battery (MBMA) Cetak Laba US$29,94 Juta di Kuartal I-2026 - Investortrust.id
