ADB Naikkan Proyeksi Inflasi RI ke 3,3%: Alarm untuk Rupiah dan Obligasi?

ADB menaikkan proyeksi inflasi RI 2026 ke 3,3%, bertepatan dengan keputusan BI menahan suku bunga. Ini efeknya ke rupiah dan pasar obligasi.

#inflasi #adb #rupiah #obligasi #dataekonomi

Kreator Moco
7 menit baca
Memuat gambar...
ADB Naikkan Proyeksi Inflasi RI ke 3,3%: Alarm untuk Rupiah dan Obligasi?

Rabu, 23 September 2026, Asian Development Bank (ADB) merilis Asian Development Outlook (ADO) edisi September 2026. Proyeksi inflasi Indonesia tahun ini dinaikkan dari 3,0% menjadi 3,3%, dan proyeksi 2027 dinaikkan dari 2,5% menjadi 3,0%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tidak berubah, tetap di 5,2% untuk 2026 maupun 2027.

Pada hari yang sama, Bank Indonesia mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang mempertahankan BI Rate di 5,75%, keputusan menahan yang ketiga beruntun sejak Juli 2026. Rupiah saat itu bergerak di kisaran Rp17.700 per dolar AS, dan yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di 7,157%. Bagi pembaca yang menyimpan obligasi ritel atau memantau kurs rupiah, pertanyaannya sederhana: apakah revisi ADB ini menambah tekanan baru, atau sekadar penyesuaian angka yang sudah diperhitungkan pasar?

Yang Direvisi ADB dan Konteks di Baliknya

Proyeksi inflasi Indonesia versi ADB sebenarnya sudah dua kali naik sepanjang 2026. Outlook April 2026 menaruh angkanya di 2,5%. Outlook Juli 2026 menaikkannya ke 3,0%, dengan alasan gangguan pasokan energi global yang merembet ke berbagai negara termasuk Indonesia. Outlook September 2026 menaikkannya lagi ke 3,3%.

PDF page 1

ADB mencatat pemerintah membiarkan kenaikan harga minyak dunia berdampak pada harga bahan bakar nonsubsidi, sembari tetap menahan harga bahan bakar bersubsidi. El Nino yang diperkirakan bertahan hingga kuartal I 2027 turut menjadi faktor risiko bagi hasil pertanian, ketersediaan air, dan produksi listrik tenaga air di kawasan Asia Pasifik.

Meski naik, proyeksi 3,3% ini masih lebih rendah dibanding rata-rata inflasi kawasan ASEAN berkembang yang diperkirakan ADB mencapai 4,0% pada 2026. Di tingkat Asia Pasifik berkembang secara keseluruhan, ADB memperkirakan inflasi rata-rata 4,2% pada 2026 (turun tipis dari proyeksi sebelumnya 4,3%), dan 3,5% pada 2027 (naik dari 3,4%). Indonesia, dengan kata lain, tetap berada di kelompok negara dengan tekanan harga yang relatif lebih terkendali dibanding tetangganya di kawasan.

Jejak Data Inflasi Domestik dan Sikap BI

Sementara ADB merevisi proyeksi tahunan, data bulanan dari Badan Pusat Statistik menunjukkan pola yang naik turun. Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34% secara tahunan. Juli 2026 justru mencatat deflasi 0,14% secara bulanan, sehingga inflasi tahunan turun ke 2,88%, dengan inflasi inti di 2,76%. Agustus 2026 naik lagi ke 3,19% secara tahunan.

PDF page 2

Ketiga angka bulanan itu masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%, atau antara 1,5% dan 3,5%. Proyeksi tahunan ADB sebesar 3,3% pun masih di dalam rentang itu, meski mendekati batas atasnya.

Dalam RDG 22 sampai 23 September 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 5,75%, disertai suku bunga Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%. Ini adalah RDG pertama yang dipimpin Gubernur BI Destry Damayanti, menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada 25 Juli 2026. Destry menyebut keputusan menahan suku bunga konsisten dengan strategi stabilisasi rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat, sekaligus menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen untuk 2026 dan 2027.

Bagaimana Ini Menjalar ke Rupiah dan Yield Obligasi

Proyeksi inflasi yang lebih tinggi punya jalur transmisi yang biasa dipakai investor obligasi untuk membaca prospek imbal hasil riil, yaitu selisih antara yield nominal dan ekspektasi inflasi. Ketika inflasi diperkirakan naik sementara yield nominal tidak naik sebanding, imbal hasil riil investor mengecil, sehingga daya tarik aset rupiah bisa berkurang di mata investor asing.

PDF page 3

Per 21 September 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di 7,157%, sementara yield US Treasury 10 tahun bergerak mendekati 5%. Selisih di antara keduanya menjadi salah satu acuan investor asing ketika menimbang apakah imbal hasil SBN cukup menarik dibanding risiko dan biaya lindung nilai yang mereka tanggung. Kenaikan Fed Funds Rate menjadi 3,75 sampai 4,00 persen pada September 2026 turut menambah tekanan itu, karena membuat imbal hasil aset dolar AS ikut naik dan bersaing langsung dengan instrumen rupiah.

Di sisi lain, Bank Indonesia sendiri tercatat memegang SBN senilai Rp2.044 triliun per 17 Juni 2026, rekor tertinggi sepanjang masa, sementara Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang beredar mencapai Rp1.072,62 triliun pada Juni 2026, juga rekor tertinggi. Kedua instrumen ini menjadi bantalan likuiditas yang dipakai BI untuk menjaga kestabilan pasar SBN dan menahan tekanan ke rupiah, tanpa harus terus menaikkan suku bunga acuan setiap ada revisi proyeksi dari lembaga eksternal.

Tesis Tekanan dan Faktor yang Bisa Membuatnya Meleset

Tesis yang bisa dibangun dari data di atas: revisi naik proyeksi inflasi ADB, ditambah yield US Treasury yang mendekati 5% dan Fed Funds Rate yang baru naik, berpotensi menekan yield SBN untuk ikut naik dan membuat rupiah lebih rentan melemah, terutama jika arus modal asing keluar dari pasar obligasi domestik.

PDF page 4

Yang bisa membuat pembacaan ini salah:

  • Proyeksi 3,3% masih di bawah rata-rata ASEAN berkembang 4,0% dan Asia Pasifik berkembang 4,2% untuk 2026, sehingga inflasi Indonesia relatif tidak menjadi pengecualian yang mengkhawatirkan di kawasan.
  • Inflasi inti Juli 2026 hanya 2,76%, jauh dari batas atas sasaran, menunjukkan tekanan harga belum meluas ke barang dan jasa inti.
  • Bank Indonesia sudah menahan suku bunga tiga kali beruntun sejak Juli 2026, sinyal bahwa otoritas moneter melihat ruang untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap setiap revisi proyeksi eksternal.
  • ADB sendiri menilai cadangan beras yang memadai dan kebijakan pendukung produksi pertanian bisa meredam tekanan pangan meski El Nino berlanjut.

Kedua sisi ini sama-sama berpijak pada data yang sudah dipublikasikan. Yang belum diketahui adalah bagaimana arus modal asing benar-benar bergerak dalam beberapa minggu ke depan, sesuatu yang datanya baru bisa dibaca dari pergerakan yield dan kurs harian, bukan dari satu laporan outlook tahunan.

Yang Perlu Dipantau ke Depan

Data inflasi September 2026 dari BPS akan jadi konfirmasi pertama apakah tren naik dari Agustus berlanjut atau berbalik arah. BPS biasanya merilis data inflasi bulanan pada hari kerja pertama bulan berikutnya, sehingga angka September akan keluar sekitar awal Oktober 2026.

PDF page 5

RDG Bank Indonesia berikutnya dijadwalkan pada 20 sampai 21 Oktober 2026, dengan cakupan triwulanan dan tahunan, yang biasanya disertai proyeksi ekonomi terbaru dari BI sendiri.

Harga minyak dunia masih perlu diawasi. Harga sempat menyentuh 132 dolar AS per barel di tengah ketegangan Timur Tengah, sebelum turun kembali ke bawah 100 dolar AS per barel pada 22 September 2026. El Nino yang diperkirakan ADB bertahan hingga kuartal I 2027 juga layak dipantau, terutama laporan bahwa musim hujan di sekitar 61% wilayah Indonesia diperkirakan mundur ke awal November 2026.

Yang perlu dipantau: rilis inflasi September 2026 dari BPS, hasil RDG BI 20 sampai 21 Oktober 2026, dan arah harga minyak dunia dalam beberapa minggu mendatang.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kebijakan Ekonomi Nasional: