Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia mencatat rupiah di Rp17.917 per dolar AS pada Jumat, 25 September 2026, melanjutkan pelemahan mingguan kedua berturut-turut. Sepanjang pekan 21 hingga 25 September 2026, rupiah melemah hampir 1% di pasar spot, dari Rp17.793,9 pada Senin menjadi Rp17.950,0 pada Jumat.
Level ini belum menyentuh rekor. Rupiah pernah menembus Rp18.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 4 Juni 2026, sempat menyentuh Rp18.065 secara intraday, sebelum berangsur pulih sepanjang musim panas. Jarak antara posisi sekarang dan rekor itu tinggal ratusan poin, dan pemicunya datang dari arah yang mirip: kebijakan suku bunga di Washington.
Dalam waktu kurang dari dua pekan terakhir, tiga sumber data besar muncul nyaris beriringan. The Fed menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023. Data manufaktur China menunjukkan pemulihan tipis meski masih terkontraksi. Bank Indonesia memilih menahan suku bunga acuan di tengah dua tekanan itu. Ketiganya yang akan menentukan apakah Rp18.000 kembali terlihat dalam waktu dekat.
The Fed Mengejutkan Pasar dengan Kenaikan Pertama Sejak 2023
Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada Rabu, 16 September 2026 waktu Washington, atau dini hari Kamis, 17 September 2026 WIB. Keputusan ini diambil secara bulat oleh 12 anggota komite dan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak 2023, mengakhiri periode pemangkasan dan penahanan yang berlangsung sejak akhir 2024.
Dalam pernyataannya, FOMC menyebut inflasi AS masih tinggi. Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah dan efek tarif impor terhadap harga barang menjadi dua faktor yang mendorong keputusan ini. Rapat ini juga menjadi rapat pertama yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh, yang menggantikan Jerome Powell sejak Mei 2026.
Kenaikan ini sebenarnya sudah diperkirakan pasar, dengan probabilitas yang sempat melewati 90% menurut CME FedWatch sebelum rapat berlangsung. Proyeksi ke depan yang disertakan dalam dot plot justru yang lebih memengaruhi pasar valuta asing setelah pengumuman. Dari 18 pejabat yang mengajukan proyeksi suku bunga (Ketua Warsh memilih tidak mengajukan proyeksinya), 16 di antaranya melihat ruang untuk setidaknya satu kenaikan lagi tahun ini, membawa suku bunga dana federal ke kisaran median 4,1% pada akhir 2026. The Fed juga menaikkan proyeksi inflasi PCE 2026 menjadi 3,7% dan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS menjadi 2,3%.
Bagi rupiah, sinyal masih akan naik lagi inilah yang menekan. Selisih suku bunga antara AS dan Indonesia menyempit setiap kali The Fed bergerak, sementara Bank Indonesia berhati-hati menaikkan bunga lebih jauh karena pertumbuhan domestik masih perlu dijaga. FOMC berikutnya dijadwalkan 27-28 Oktober dan 8-9 Desember 2026, keduanya menyertakan proyeksi ekonomi baru.
Sinyal Bercabang dari Pabrik-Pabrik China
Di sisi lain Pasifik, data resmi Biro Statistik Nasional China (NBS) mencatat Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur naik ke 49,8 pada Agustus 2026, naik 0,6 poin dari Juli. Angka ini masih di bawah ambang 50 yang memisahkan ekspansi dari kontraksi, menandai bulan kedua berturut-turut sektor manufaktur China berada di zona kontraksi. PMI non-manufaktur stagnan di 49,0.
Detail di balik angka headline itu lebih menarik bagi Indonesia. Sub-indeks produksi naik ke 50,4 dan pesanan baru ke 50,6, keduanya kembali ke zona ekspansi. Sub-indeks pesanan ekspor baru juga kembali di atas 50, setelah sebelumnya tertekan. Satu sub-indeks yang masih lemah adalah ketenagakerjaan, di 48,7.
China adalah pasar ekspor nonmigas terbesar Indonesia, menyerap lebih dari seperempat total ekspor nonmigas RI sepanjang 2026, didominasi besi dan baja, nikel dan turunannya, serta bahan bakar mineral, menurut data BPS. Karena itu, pesanan ekspor China yang membaik bisa menahan penurunan lebih lanjut permintaan komoditas dari Indonesia, meski headline PMI yang masih di bawah 50 menunjukkan pemulihan itu belum kokoh.
Bank Indonesia Memilih Bertahan Setelah Mengetatkan Lebih Dulu
Di tengah dua tekanan itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026 memutuskan menahan BI Rate di 5,75%, suku bunga Deposit Facility di 4,75%, dan Lending Facility di 6,50%. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan keputusan ini konsisten dengan strategi menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung sasaran inflasi 2,5%±1% pada 2026 dan 2027.
Keputusan menahan suku bunga ini punya konteks yang perlu dilihat lebih jauh. BI sudah menaikkan BI Rate secara bertahap sejak Mei 2026, termasuk kenaikan 50 basis poin yang lebih besar dari perkiraan pasar, membawa suku bunga acuan ke 5,75% pada Juni 2026, tepat sebelum rupiah menembus Rp18.000 untuk pertama kalinya. Pemerintah menambahkan instrumen lain: Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 mewajibkan penempatan 100% devisa hasil ekspor sumber daya alam di dalam negeri sejak 1 Juni 2026, dan BI memangkas batas pembelian dolar tanpa dokumen pendukung menjadi 25.000 dolar AS per orang per bulan sejak 2 Juni 2026.
Beberapa data mendukung sikap menahan kali ini. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli, tapi masih berada dalam rentang sasaran. Cadangan devisa akhir Agustus 2026 mencapai 146,5 miliar dolar AS, setara 5,3 sampai 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional tiga bulan impor. Investasi portofolio asing hingga 21 September 2026 mencatat net inflow sekitar 0,4 miliar dolar AS.
Neraca dagang menjadi titik yang lebih rapuh. BPS mencatat surplus tipis 0,13 miliar dolar AS pada Juli 2026, jauh di bawah rata-rata surplus bulanan tahun-tahun sebelumnya, dengan surplus kumulatif Januari-Juli 2026 sebesar 3,70 miliar dolar AS. Josua, ekonom yang dikutip Bisnis.com pada 22 September 2026, menilai transmisi kenaikan suku bunga sebelumnya sudah mulai berjalan lebih baik, sehingga kenaikan tambahan berisiko menjadi pengetatan berlebihan bagi sektor riil.
Ringkasan indikator utama pekan ini:
| Indikator | Nilai | Periode | Sumber |
|---|---|---|---|
| Fed Funds Rate | 3,75%-4,00% | 16-17 September 2026 | The Fed |
| BI Rate | 5,75% (ditahan) | 22-23 September 2026 | Bank Indonesia |
| Inflasi RI (YoY) | 3,19% | Agustus 2026 | BPS |
| Cadangan devisa RI | US$146,5 miliar | Akhir Agustus 2026 | Bank Indonesia |
| PMI Manufaktur China (NBS) | 49,8 | Agustus 2026 | NBS China |
| Neraca dagang RI | Surplus US$0,13 miliar | Juli 2026 | BPS |
| Rupiah (JISDOR) | Rp17.917/US$ | 25 September 2026 | Bank Indonesia |
Dua Arah yang Menentukan Nasib Rupiah ke Depan
Ada pembacaan yang mendukung pelemahan rupiah berlanjut menuju Rp18.000. Dot plot The Fed yang hawkish berarti selisih suku bunga AS-Indonesia berpotensi menyempit lagi di Oktober atau Desember, sementara BI tampak enggan mengejar dengan kenaikan lanjutan. Harga minyak yang masih tertekan ketegangan geopolitik menambah beban pada neraca migas, dan surplus dagang yang menipis di Juli menyisakan sedikit bantalan dolar dari sisi ekspor.
Yang bisa membuat pembacaan itu meleset:
- Cadangan devisa 146,5 miliar dolar AS jauh di atas standar kecukupan, dan aliran modal asing hingga akhir September masih net inflow, bukan net outflow seperti krisis mata uang pada umumnya.
- Sub-indeks pesanan ekspor baru China yang kembali ke zona ekspansi bisa menopang permintaan komoditas dari Indonesia, mengingat China menyerap porsi terbesar ekspor nonmigas RI.
- Aturan DHE SDA yang mewajibkan penempatan penuh devisa ekspor sumber daya alam di dalam negeri masih berlaku, secara struktural menambah pasokan dolar di pasar domestik dibanding sebelum aturan itu ada.
- Inflasi domestik masih berada dalam rentang sasaran BI, memberi ruang bagi bank sentral untuk menahan tanpa harus memilih antara stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi.
Dua pembacaan ini sama-sama punya dasar data. Yang membedakannya adalah data mana yang muncul lebih dulu dan lebih meyakinkan: hasil FOMC berikutnya, atau bukti bahwa instrumen stabilisasi BI cukup untuk menahan tekanan sampai saat itu.
Yang Perlu Dipantau Setelah Pekan Data Ini
Beberapa titik data akan menentukan arah cerita ini dalam sebulan ke depan:
- Hasil FOMC 27-28 Oktober 2026: apakah The Fed benar-benar menaikkan suku bunga lagi seperti disiratkan dot plot September, atau menahan sambil menunggu data inflasi lebih lanjut.
- RDG Bank Indonesia 20-21 Oktober 2026, yang mencakup evaluasi triwulanan dan proyeksi tahunan, termasuk kemungkinan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 yang saat ini dipatok BI di kisaran 4,9%-5,7%.
- Rilis neraca dagang Agustus 2026 oleh BPS, biasanya awal Oktober, untuk melihat apakah surplus tipis Juli berlanjut menyempit atau melebar kembali.
- PMI manufaktur resmi China untuk September 2026, untuk mengonfirmasi apakah rebound sub-indeks pesanan ekspor Agustus punya kelanjutan atau berbalik.
- Realisasi dampak aturan DHE SDA terhadap pasokan dolar domestik, yang akan lebih terlihat pada data cadangan devisa dan neraca transaksi berjalan kuartal III 2026.
Yang perlu dipantau: hasil FOMC 27-28 Oktober 2026, RDG BI 20-21 Oktober 2026, rilis neraca dagang Agustus 2026, dan PMI resmi manufaktur China untuk September 2026.
Jarak rupiah dari rekor Juni tinggal ratusan poin, dan arahnya bergantung pada bagaimana data dari Washington, Beijing, dan Jakarta saling menimpa dalam beberapa minggu ke depan.
Referensi & Resources:
- Bisnis.com - Bank Indonesia Tahan BI Rate 5,75% di Era Suku Bunga Tinggi
- Kompas - The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin, Jadi 3,75-4 Persen
- Trading Economics - The Fed Naikkan Suku Bunga untuk Pertama Kali Sejak 2023
- National Bureau of Statistics of China - Purchasing Managers' Index for August 2026
- Antara - BPS: Neraca Dagang RI hingga Juli 2026 Surplus 3,70 Miliar Dolar AS
- Kompas - Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar AS, Terlemah Sepanjang Sejarah
