Inflasi September 2026 3,28%, Inflasi Inti Hanya 2,84%

Inflasi tahunan September 2026 tercatat 3,28%, sementara inflasi inti 2,84%. Selisih itu dan jurang antardaerah yang dibaca pasar.

#inflasi #bps #makroekonomi #sukubunga #dataekonomi

Kreator Moco
6 menit baca
Memuat gambar...
Inflasi September 2026 3,28%, Inflasi Inti Hanya 2,84%

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada 1 Oktober 2026 bahwa inflasi tahunan (year-on-year, y-on-y) September 2026 sebesar 3,28%, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di level 112,31. Pada bulan yang sama, inflasi bulanan (month-to-month, m-to-m) tercatat 0,30%, sedangkan inflasi sepanjang tahun berjalan (year to date, y-to-d) 2,17%.

Angka yang lebih menarik bagi pelaku pasar ada di baris berikutnya. Inflasi inti, yaitu kenaikan harga yang lebih lekat pada permintaan dan ekspektasi daripada gejolak musiman, berada di 2,84% secara tahunan. Selisihnya dengan angka utama 0,44 poin persentase, dan selisih itu menentukan cara membaca rilis ini.

Tiga Angka yang Perlu Dibaca Berdampingan

Inflasi y-on-y membandingkan IHK September 2026 dengan September 2025. Inflasi m-to-m membandingkan dengan Agustus 2026, sedangkan y-to-d membandingkan dengan Desember 2025. Ketiganya menjawab pertanyaan yang berbeda, sehingga satu angka saja mudah menyesatkan.

Ukuran (September 2026) Inflasi umum Inflasi inti
Year-on-year 3,28% 2,84%
Month-to-month 0,30% 0,10%
Year to date 2,17% 2,07%

Sumber: BPS, rilis 1 Oktober 2026.

PDF page 1

Pada basis bulanan, jaraknya lebih lebar: 0,30% untuk inflasi umum dan 0,10% untuk inti. Artinya, sebagian besar kenaikan harga bulan September datang dari komponen di luar inti. BPS mengelompokkannya sebagai komponen harga bergejolak dan harga yang diatur pemerintah, dua kelompok yang lebih sensitif terhadap pasokan pangan dan keputusan administratif. Abstraksi rilis yang tersedia tidak merinci komoditas mana yang menjadi pendorong, jadi artikel ini tidak menebaknya. Rincian per kelompok pengeluaran ada di dokumen lengkap BPS.

Sebagai pembanding, Bank Indonesia (BI) menetapkan sasaran inflasi 2,5% dengan toleransi plus minus 1 poin untuk 2026, sehingga rentangnya 1,5% sampai 3,5%. Angka 3,28% masih di dalam rentang itu, tetapi lebih dekat ke batas atas daripada ke titik tengah.

Mengapa Inflasi Inti Dilihat Lebih Teliti oleh Bank Sentral

Harga cabai yang melonjak karena cuaca akan reda ketika panen membaik. Tekanan harga pada jasa, sewa, dan barang tahan lama cenderung bertahan lebih lama karena berkaitan dengan daya beli dan ekspektasi masyarakat. Karena itu, bank sentral umumnya memberi bobot lebih besar pada inflasi inti saat menimbang suku bunga.

Dengan inflasi inti 2,84% y-on-y dan hanya 0,10% m-to-m, tekanan permintaan yang tampak dari data ini tergolong terkendali. Itu satu pembacaan. Pembacaan lain menahan diri: satu bulan data bulanan belum membentuk tren, dan inflasi inti y-to-d 2,07% baru menggambarkan sembilan bulan pertama tahun ini.

PDF page 2

Jalur ke Pasar: SBN, Rupiah, dan Saham

Data inflasi tidak langsung memindahkan harga aset. Ia bekerja lewat ekspektasi tentang kebijakan suku bunga BI. Ada tiga jalur yang umum dibahas pelaku pasar.

Surat Berharga Negara (SBN). Imbal hasil obligasi dihitung dengan membandingkannya terhadap inflasi. Inflasi yang lebih tinggi mengikis imbal hasil riil, yakni imbal hasil nominal dikurangi inflasi. Jika inflasi bergejolak berasal dari pangan dan dinilai sementara, tekanan terhadap yield biasanya lebih terbatas. Jika inflasi inti ikut naik, investor obligasi cenderung menuntut kompensasi lebih tinggi.

Rupiah. Inflasi domestik yang terkendali mengurangi tekanan untuk menaikkan suku bunga, tetapi juga bisa membuka ruang pelonggaran. Pelonggaran dapat menyempitkan selisih imbal hasil dengan negara lain. Arah rupiah akhirnya bergantung pada faktor global yang tidak ada di rilis BPS.

Saham. Sektor perbankan dan konsumer paling sering dikaitkan dengan inflasi. Perbankan sensitif terhadap suku bunga, sementara emiten konsumer sensitif terhadap daya beli dan harga bahan baku. Dampaknya berbeda di tiap emiten, tergantung kemampuan meneruskan kenaikan biaya ke harga jual dan struktur utangnya. Rilis ini tidak memberi dasar untuk menilai satu emiten tertentu.

PDF page 3

Jurang Antardaerah yang Jarang Masuk Berita Pasar

Angka nasional 3,28% menutupi sebaran yang lebar. Berikut data BPS per wilayah untuk September 2026.

Tingkat Tertinggi Terendah
Provinsi Sulawesi Utara: 7,59% (IHK 116,58) Sumatera Selatan: 2,55% (IHK 112,21)
Kabupaten/kota Minahasa Utara: 9,05% (IHK 121,70) Timor Tengah Selatan: 1,04% (IHK 108,48)

Sumber: BPS, rilis 1 Oktober 2026.

Selisih antara provinsi tertinggi dan terendah mencapai 5,04 poin persentase. Di tingkat kabupaten/kota, jaraknya 8,01 poin persentase. Bagi investor, ini penting karena kebijakan moneter BI berlaku seragam secara nasional, sedangkan tekanan harga yang dirasakan rumah tangga sangat berbeda di setiap daerah. Emiten dengan basis penjualan terkonsentrasi di wilayah tertentu bisa menghadapi kondisi daya beli yang jauh dari rata-rata nasional.

Rilis ini juga tidak menjelaskan penyebab tingginya inflasi di Sulawesi Utara dan Minahasa Utara. Tanpa rincian komoditas, belum ada dasar untuk menyimpulkan apakah itu gangguan pasokan sementara atau tekanan yang lebih menetap.

PDF page 4

Dua Pembacaan yang Sama-sama Masuk Akal

Pembacaan pertama menilai data ini cukup nyaman. Inflasi umum berada dalam rentang sasaran BI, inflasi inti lebih rendah dari angka utama, dan kenaikan bulanan inti hanya 0,10%. Dalam pembacaan ini, bank sentral punya ruang untuk fokus pada stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan.

Pembacaan kedua melihat risiko di sisi lain. Inflasi umum 3,28% sudah mendekati batas atas sasaran 3,5%. Kenaikan bulanan 0,30% yang bila berlanjut akan mendorong angka tahunan melewati batas itu. Sebaran antardaerah yang lebar juga menandakan tekanan harga yang belum merata dan sulit ditangani satu instrumen moneter.

Yang bisa membuat pembacaan pertama keliru:

  • Inflasi inti bulanan naik dari 0,10% pada bulan-bulan berikutnya.
  • Komponen bergejolak yang mendorong September ternyata bertahan, bukan sementara.
  • Depresiasi rupiah menaikkan harga barang impor dan memengaruhi inflasi inti.

Yang bisa membuat pembacaan kedua keliru: harga pangan yang mereda pada Oktober dan November, sehingga angka tahunan kembali menjauh dari batas atas.

PDF page 5

Batas Data dan Apa yang Dipantau

Rilis BPS memberi angka, bukan penjelasan penyebab. Rincian per kelompok pengeluaran dan andil komoditas belum tersedia di abstraksi yang dipakai artikel ini, sehingga dugaan tentang pendorong utama inflasi September sengaja tidak ditulis.

Yang perlu dipantau: rilis inflasi Oktober 2026 dari BPS pada awal November, terutama inflasi inti bulanan dibandingkan 0,10% di September; pengumuman suku bunga dari Rapat Dewan Gubernur BI dan pernyataan resmi tentang inflasi; serta rincian andil komoditas dalam dokumen lengkap BPS, yang bisa diunduh dari tautan di bawah.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kebijakan Ekonomi Nasional: