Laba Industri Tiongkok Agustus Melambat, Alarm bagi Komoditas RI?

Laba industri Tiongkok Agustus tumbuh 4,2%, terendah sepanjang 2026, sementara laba elektronik melonjak 110% sejak Januari. Apa artinya bagi ekspor RI?

#tiongkok #dataekonomi #komoditas #eksporindonesia #makroekonomi

Kreator Moco
6 menit baca
Memuat gambar...
Laba Industri Tiongkok Agustus Melambat, Alarm bagi Komoditas RI?

Laba perusahaan industri Tiongkok tumbuh 4,2% pada Agustus 2026 dibanding setahun sebelumnya, turun dari 11,2% pada Juli, menurut Badan Statistik Nasional Tiongkok (NBS) yang dirilis Senin, 28 September 2026. Itu pertumbuhan bulanan terlemah tahun ini. Jajak pendapat Bloomberg yang dikutip Sweden Herald memperkirakan kenaikan rata-rata 8%.

Namun secara kumulatif, laba Januari-Agustus masih naik 15,7% menjadi 5,27 triliun yuan (Xinhua, 28 September 2026). Dua angka itu tampak bertolak belakang, dan selisihnya menyimpan cerita tentang siapa yang sebenarnya menikmati pemulihan laba di Tiongkok.

Bagi Indonesia, Tiongkok adalah pasar ekspor terbesar. Pertanyaannya: apakah perlambatan ini pertanda melemahnya permintaan bahan baku dari RI?

Angka Agustus: melambat empat bulan berturut-turut

CNBC (28 September 2026) mencatat pertumbuhan laba yang kini melambat empat bulan berturut-turut sejak puncaknya 24,7% pada April. Angka Agustus juga yang terendah sejak November 2025, ketika laba turun dua digit. Untuk seluruh 2025, laba industri hanya naik 0,6%, kenaikan pertama setelah tiga tahun berturut-turut turun.

PDF page 1

Data NBS mencakup perusahaan industri dengan pendapatan usaha utama tahunan minimal 20 juta yuan. Jadi angka ini menggambarkan perusahaan menengah ke atas, tidak mewakili seluruh usaha kecil.

Ada dua penjelasan resmi yang berbeda. Xinhua melaporkan bahwa statistikawan NBS Yu Weining mengaitkan laba yang relatif cepat tumbuh dengan produksi industri yang terus naik dan harga produk industri yang meluas naik. Indeks harga produsen (PPI) Agustus naik 3,8% dari tahun lalu, sementara output industri Januari-Agustus naik 5,3%. Di sisi lain, Plataforma Media (28 September 2026) menulis bahwa Yu menyebut perlambatan Agustus sebagai efek "basis tinggi" dari Agustus 2025. TradingEconomics memang mencatat laba industri Agustus 2025 naik 20,4%, angka pembanding yang tinggi.

Laba naik, tapi dari satu pintu

Rincian NBS menunjukkan konsentrasi yang tajam. Laba industri elektronik melonjak 110% pada Januari-Agustus dan menyumbang 62% dari seluruh pertumbuhan laba (Xinhua, 28 September 2026). Laba manufaktur teknologi tinggi naik 54,7%. Menurut CNBC, pendorongnya adalah ledakan permintaan cip dan peralatan komputasi untuk kecerdasan buatan.

Sektor yang bergantung pada belanja rumah tangga berjalan ke arah lain. Laba industri otomotif turun 16% pada Agustus (CNBC), sedangkan industri minuman dan teh olahan turun 34,7% pada Januari-Agustus (laporan US News, 27 September 2026). Sektor listrik, panas, gas, dan air juga turun 12% ke 536,3 miliar yuan (Xinhua).

PDF page 2

Laba sektor bahan baku justru naik 47,3% pada Januari-Agustus, dan pertambangan naik 35,1% ke 766,15 miliar yuan. Xinhua mengaitkannya dengan harga minyak mentah dan logam nonferro internasional yang lebih tinggi, yang membuat pengilangan minyak Tiongkok kembali untung.

Sisi dalam negeri: konsumen dan properti masih tertahan

Data aktivitas Agustus yang dirilis 15 September 2026 menegaskan ketimpangan itu. Penjualan ritel hanya naik 0,4% (konsensus jajak Reuters 0,8%), investasi aset tetap perkotaan Januari-Agustus turun 7,2%, dan output industri naik 5,2% (CNBC, 15 September 2026). Investasi pengembangan properti turun 19,9% pada periode yang sama (The Edge Consultancy).

Investinglive melaporkan PMI manufaktur resmi mengalami kontraksi pada Juli dan Agustus, dan biaya energi yang terus naik menekan margin pabrik padat energi. Dalam pembacaan sebagian ekonom yang dikutip di sana, Beijing kemungkinan akan lebih condong ke stimulus. Ini pandangan mereka, bukan keputusan yang sudah diumumkan.

Jalur ke komoditas RI: siapa yang paling dekat dengan pabrik dan properti

PDF page 3

Ekspor Indonesia ke Tiongkok terkonsentrasi pada bahan industri dan konstruksi, bukan pada barang elektronik. Data BPS yang tersedia mencakup Januari-Juli 2026, sehingga dampak Agustus belum terlihat di angka ekspor RI.

Indikator ekspor RI ke Tiongkok Nilai Periode Sumber
Ekspor nonmigas total US$40,62 miliar, naik 18,01% Jan-Jul 2026 BPS via Media Indonesia
Besi dan baja US$10,6 miliar (26,18% dari total) Jan-Jul 2026 BPS via Bloomberg Technoz
Nikel dan turunannya US$6,1 miliar Jan-Jul 2026 BPS via Bloomberg Technoz
Bahan bakar mineral US$5,85 miliar Jan-Jul 2026 BPS via Bloomberg Technoz

Secara nasional, ekspor batu bara Januari-Juli 2026 naik 4,75%, minyak sawit mentah (CPO) dan turunannya naik 5,49%, dan besi baja naik 2,77% (BPS via Media Indonesia). Kemendag mencatat ekspor nikel dan turunannya (HS 75) naik 62,27% pada Januari-Juni 2026 menjadi US$6,54 miliar, sedangkan besi dan baja turun 0,16% dalam periode yang sama.

Mekanismenya bisa dibaca dari komposisi laba tadi. Pertumbuhan laba Tiongkok datang terutama dari elektronik, yang tidak banyak menyerap batu bara atau baja Indonesia sebagai input utamanya. Sementara itu, properti dan konstruksi, penyerap baja yang besar secara historis, masih menyusut 19,9%. Batu bara Indonesia juga tidak hanya bergantung pada Tiongkok. Pada 2024, India membeli 108,07 juta ton dan Tiongkok 93,16 juta ton (BPS via Inilah).

Dua pembacaan yang sama-sama masuk akal

Pembacaan yang menekankan risiko: laba yang bertumpu pada satu sektor rapuh terhadap perubahan siklus teknologi, dan permintaan domestik yang lemah membatasi konsumsi bahan baku untuk baja dan energi. Jika stimulus terlambat atau kecil, ekspor RI yang bergantung pada sektor konstruksi Tiongkok bisa melambat.

PDF page 4

Pembacaan yang lebih tenang: perlambatan Agustus sebagian berasal dari basis tinggi tahun lalu, laba kumulatif masih dua digit, PPI positif setelah hampir tiga tahun deflasi pabrik (CNBC), dan ekspor nikel RI ke Tiongkok justru sedang naik tajam.

Yang bisa membuat kedua pembacaan salah: satu bulan data tidak cukup untuk menyimpulkan tren, dan korelasi antara laba industri Tiongkok dengan volume impor bahan baku tidak selalu searah. Belum ada data publik yang memadai untuk memastikan seberapa besar laba elektronik memengaruhi impor bahan baku dari Indonesia.

Apakah ini alarm? Jawabannya belum tentu

Data Agustus tidak cukup untuk menyebutnya alarm bagi komoditas RI, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa pemulihan laba Tiongkok tidak merata. Pemulihan itu digerakkan elektronik, sementara sektor yang menjadi pembeli utama bahan mentah Indonesia, yaitu properti dan konstruksi, masih tertekan.

Yang perlu dipantau: data ekspor BPS periode Januari-Agustus 2026, khususnya besi baja dan batu bara ke Tiongkok; laba industri Tiongkok Januari-September dari NBS; PMI manufaktur resmi NBS untuk September; serta ada tidaknya paket stimulus konsumsi dan properti dari Beijing.

PDF page 5

Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kebijakan Ekonomi Nasional: