NTP September 2026 Naik 1,49 Persen ke Level 131,11

NTP September 2026 mencapai 131,11, naik 1,49 persen. Harga yang diterima petani naik lebih cepat daripada harga yang harus mereka bayar.

#ntp #bps #makroekonomi #dataekonomi #pertanian

Kreator Moco
5 menit baca
Memuat gambar...
NTP September 2026 Naik 1,49 Persen ke Level 131,11

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Nilai Tukar Petani (NTP) September 2026 pada 1 Oktober 2026. NTP nasional tercatat 131,11, naik 1,49 persen dibanding bulan sebelumnya. Angka di atas 100 berarti harga jual hasil panen petani bergerak lebih tinggi daripada harga barang yang mereka beli.

Kenaikan 1,49 persen dalam satu bulan terbilang jelas untuk indikator yang biasanya bergerak pelan. Pertanyaannya, apa yang mendorongnya, siapa yang paling merasakan, dan apa artinya bagi pembaca yang mengikuti ekonomi makro dan pasar modal.

Cara Kerja NTP dan Dua Indeks di Baliknya

NTP adalah perbandingan antara Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). It mengukur harga yang didapat petani dari hasil produksinya. Ib mengukur harga yang harus dibayar petani, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk biaya produksi.

Jika It naik lebih cepat daripada Ib, NTP naik. Itulah yang terjadi pada September 2026. BPS mencatat It naik 1,93 persen, lebih tinggi daripada kenaikan Ib sebesar 0,44 persen. Selisih keduanya menghasilkan kenaikan NTP 1,49 persen.

PDF page 1

Sebagai catatan hitung, jika angka September dihitung mundur, NTP Agustus 2026 berada di sekitar 129,2. Angka ini hitungan penulis dari data rilis, bukan angka resmi BPS.

Angka Utama dalam Rilis BPS

Indikator September 2026 Perubahan dari bulan sebelumnya
NTP nasional 131,11 naik 1,49 persen
Indeks Harga yang Diterima Petani (It) n.a. dalam abstraksi naik 1,93 persen
Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) n.a. dalam abstraksi naik 0,44 persen
Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) 135,68 naik 1,76 persen
Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) n.a. dalam abstraksi naik 0,53 persen

Sumber: BPS, rilis 1 Oktober 2026. Level It, Ib, dan IKRT tidak tercantum dalam abstraksi yang menjadi bahan tulisan ini, sehingga hanya perubahannya yang disajikan.

NTUP lebih tinggi daripada NTP, yaitu 135,68. Indikator ini membandingkan harga yang diterima petani dengan biaya produksi dan penambahan barang modal, tanpa memasukkan kebutuhan konsumsi rumah tangga. Kenaikannya 1,76 persen, sedikit di atas NTP. Artinya, dari sisi usaha tani saja, margin harga terhadap biaya produksi membaik lebih besar daripada gambaran NTP secara keseluruhan.

Beras dan Keranjang Belanja Rumah Tangga Petani

PDF page 2

BPS juga mencatat harga beras di penggilingan. Rata-rata harga beras kualitas premium pada September 2026 sebesar Rp15.185 per kg, naik 0,81 persen dibanding bulan sebelumnya. Beras kualitas medium sebesar Rp14.018 per kg, naik 0,87 persen.

Dari sisi pengeluaran, IKRT naik 0,53 persen, dengan kenaikan tertinggi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kenaikan ini menjelaskan sebagian dari 0,44 persen kenaikan Ib. Petani menerima harga jual yang lebih tinggi, tetapi harga makanan yang mereka beli juga ikut naik.

Rilis ini tidak memuat rincian per subsektor (tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat, peternakan, perikanan) dalam abstraksi yang dipakai di sini. Karena itu belum bisa dipastikan subsektor mana yang paling menyumbang kenaikan It 1,93 persen. Untuk itu pembaca perlu membuka tabel lengkap di situs BPS.

Dua Cara Membaca Kenaikan Ini

Pembacaan pertama: daya beli perdesaan membaik. NTP yang naik berarti penghasilan relatif petani menguat terhadap biaya hidupnya. Bagi pembuat kebijakan, ini sinyal baik bagi konsumsi rumah tangga di perdesaan. Dalam kerangka pasar modal, daya beli yang terjaga di luar kota besar adalah salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar saat menilai permintaan barang konsumsi. Hubungannya tidak otomatis, karena NTP tidak mengukur pendapatan dalam rupiah.

PDF page 3

Pembacaan kedua: kenaikan harga juga berarti tekanan bagi pembeli. Harga beras di penggilingan naik, dan kelompok makanan menjadi pendorong terbesar IKRT. Harga yang menguntungkan produsen bisa menjadi beban bagi konsumen, termasuk banyak petani sendiri yang membeli beras karena tidak menanamnya. Jika kenaikan harga pangan berlanjut, tekanan pada inflasi bahan makanan menjadi perhatian pemerintah dan Bank Indonesia.

Yang bisa membuat pembacaan pertama keliru:

  • NTP adalah rata-rata nasional. Petani di subsektor atau provinsi tertentu bisa mengalami hal yang berbeda.
  • NTP mengukur perbandingan indeks harga, bukan pendapatan. Petani dengan produksi turun tetap bisa berpendapatan lebih rendah meski harga naik.
  • Kenaikan satu bulan belum tentu menjadi tren. Harga pertanian dipengaruhi musim panen dan cuaca.

Yang bisa membuat pembacaan kedua berlebihan:

  • Kenaikan harga beras di penggilingan sebesar 0,81 persen (premium) dan 0,87 persen (medium) tergolong moderat.
  • Rilis ini tidak memuat data inflasi bulanan, sehingga dampaknya pada harga di tingkat konsumen belum bisa dihitung dari sini.

Jalur ke Kebijakan dan Pasar Modal

NTP sering dipakai sebagai salah satu ukuran kesejahteraan petani dalam evaluasi kebijakan pangan dan pertanian. Rilis ini tidak menyebut kebijakan tertentu sebagai penyebab kenaikan, dan penulis tidak menarik kesimpulan itu. Hubungan antara NTP dan kebijakan harga pangan atau pengelolaan stok beras perlu dibuktikan dengan data tambahan.

PDF page 4

Untuk pelaku pasar, ada dua jalur yang bisa diperiksa sendiri. Pertama, jalur permintaan: apakah penguatan NTP tercermin pada penjualan emiten barang konsumsi yang menjangkau perdesaan, yang baru terlihat di laporan keuangan. Kedua, jalur inflasi: apakah kenaikan harga makanan terlihat pada rilis inflasi BPS, yang kemudian memengaruhi perhitungan suku bunga. Kedua jalur ini belum terbukti dari satu rilis NTP, jadi sebaiknya diperlakukan sebagai hipotesis.

Yang Perlu Dipantau

Ringkasnya, BPS mencatat NTP September 2026 sebesar 131,11 karena harga yang diterima petani naik 1,93 persen, sementara harga yang dibayar naik 0,44 persen. Batas pengetahuan saat ini: rincian subsektor dan wilayah belum dibahas di sini, dan dampak ke inflasi serta emiten belum bisa diukur dari satu rilis.

Yang perlu dipantau:

  • Rilis NTP Oktober 2026 dari BPS, untuk melihat apakah kenaikan ini bertahan atau hanya lonjakan satu bulan.
  • Rilis inflasi BPS berikutnya, khususnya komponen makanan, minuman, dan tembakau, yang menjadi pendorong IKRT.
  • Harga beras premium (Rp15.185 per kg) dan medium (Rp14.018 per kg) di penggilingan pada bulan-bulan berikutnya.
  • Tabel rinci NTP per subsektor dan provinsi di situs BPS, untuk memastikan siapa yang paling diuntungkan.

Referensi & Resources:

PDF page 5

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kebijakan Ekonomi Nasional: