PMI Manufaktur RI Kembali di Bawah 50, Ujian Pemulihan Kuartal IV

PMI manufaktur Agustus 2026 turun ke 49,8 dari 50,2. Indeks kepercayaan industri masih 52,30. Dua angka itu menguji pemulihan kuartal IV.

#pmi #manufaktur #makroekonomi #dataekonomi

Kreator Moco
12 menit baca
Memuat gambar...
PMI Manufaktur RI Kembali di Bawah 50, Ujian Pemulihan Kuartal IV

S&P Global mencatat PMI Manufaktur Indonesia Agustus 2026 di 49,8, turun dari 50,2 pada Juli. Angka yang dirilis 1 September 2026 itu menjadi bulan ketiga tahun ini di bawah ambang 50, setelah April (49,1) dan Juni (46,9).

Sehari sebelumnya, 31 Agustus 2026, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus di 52,30, masih di zona ekspansi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan tumbuh 4,52% secara tahunan pada kuartal II 2026 dan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi, sebesar 0,90 poin persentase.

Tiga angka dari tiga lembaga itu terdengar berlawanan, tetapi ketiganya bisa benar sekaligus. Alasannya menentukan cara membaca kuartal IV. PMI September rilis Kamis, 1 Oktober 2026, pukul 07.30 WIB.

Yang Bergerak di Balik Angka 49,8

Menurut S&P Global, produksi dan jumlah tenaga kerja di pabrik sama-sama turun lagi pada Agustus. Keduanya sudah turun dalam lima dari enam survei terakhir. Penurunan produksi dikaitkan dengan persaingan yang makin ketat, permintaan yang masih lemah, dan kenaikan harga barang (FXStreet Indonesia, mengutip rilis S&P Global, 1 September 2026).

Ada sisi yang membaik. Indeks pesanan baru kembali di atas 50 untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, pembelian bahan baku berhenti menurun setelah lima bulan, dan stok bahan baku naik untuk pertama kalinya dalam lima bulan, sebagian karena perusahaan menambah persediaan sebelum harga naik lagi (Periskop, 1 September 2026). Optimisme usaha untuk 12 bulan ke depan mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan.

PDF page 1

Ekonom S&P Global Market Intelligence, Maryam Baluch, menilai tekanan inflasi berkurang dan kepercayaan pelaku usaha membaik sejak titik terendah pada April. Sejak Maret, indeks berkisar di sekitar 50, dengan satu jurang pada Juni:

Bulan 2026 PMI Catatan dari rilis S&P Global
Februari 53,8 Tertinggi dalam hampir dua tahun
Maret 50,1 Tipis di atas ambang
April 49,1 Kontraksi pertama dalam sembilan bulan, kenaikan biaya input terbesar sejak April 2022
Mei 50,0 Di ambang netral
Juni 46,9 Terendah sejak Juni 2025, pesanan baru turun tercepat dalam setahun
Juli 50,2 Tertinggi sejak Februari
Agustus 49,8 Output dan tenaga kerja turun lagi

Dua detail teknis membantu membaca angka ini. PMI adalah indeks difusi: sekitar 400 perusahaan manufaktur ditanya apakah pesanan, produksi, dan variabel lain bulan ini lebih tinggi, sama, atau lebih rendah dari bulan lalu (S&P Global; Trading Economics). Angka 49,8 berarti jawaban yang menunjuk penurunan sedikit lebih banyak daripada yang menunjuk kenaikan. Angka itu tidak mengukur besar penurunan produksi.

Detail kedua ada pada bobot. PMI menghitung pesanan baru (30%), output (25%), tenaga kerja (20%), waktu pengiriman pemasok (15%), dan stok pembelian (10%). Waktu pengiriman dihitung terbalik, sehingga pengiriman yang makin lambat menaikkan indeks. Pengiriman pemasok memanjang lagi pada Agustus, jadi komponen itu menambah nilai indeks lewat jalur yang tidak menyehatkan pabrik. S&P tidak membuka nilai subindeks secara gratis, sehingga sumbangan pastinya tidak bisa dihitung dari luar.

Mengapa PMI 49,8 dan IKI 52,30 Bisa Sama-Sama Benar

Kemenperin membaca data yang berbeda. IKI Agustus 2026 turun 0,80 poin dari 53,10 pada Juli, dan 22 dari 23 subsektor industri pengolahan berekspansi. Satu-satunya yang menyusut adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki, yang sudah empat bulan berturut-turut di bawah 50 (Antara, 31 Agustus 2026). IKI kelompok pasar domestik tercatat 51,13 dan kelompok berorientasi ekspor 53,09 (Liputan6, 31 Agustus 2026).

Juru bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menyebut industri masih "wait and see", yaitu menahan pelepasan barang sambil menunggu pasar membaik. Stok di gudang pun menumpuk, dan itu terlihat pada indeks persediaan produk yang turun 3,16 poin ke 46,02 (Bisnis.com, 1 September 2026).

PDF page 2
Ukuran PMI (S&P Global) IKI (Kemenperin)
Agustus 2026 49,8 52,30
Juli 2026 50,2 53,10
Komponen Pesanan baru, output, tenaga kerja, waktu pengiriman pemasok, stok pembelian Pesanan baru, produksi, persediaan produk
Titik lemah Agustus Output dan tenaga kerja turun Alas kaki dan kulit menyusut, persediaan produk 46,02

Perbedaannya ada pada cara bertanya. IKI hanya memakai tiga variabel (Antara), sedangkan PMI menambahkan tenaga kerja dan waktu pengiriman pemasok. Tenaga kerja adalah salah satu titik lemah PMI pada Agustus dan tidak masuk hitungan IKI.

BPS memberi pembanding ketiga. Industri pengolahan tumbuh 4,52% secara tahunan pada kuartal II 2026 (DDTC, mengutip BPS, 5 Agustus 2026), dan tanpa migas tumbuh 5,32% (CNBC Indonesia, 12 Agustus 2026). Angka tahunan mengukur nilai tambah dibanding setahun lalu, sedangkan PMI hanya menanyakan arah dibanding bulan lalu. Pabrik bisa tumbuh dari tahun ke tahun dan tetap melaporkan bulan yang lebih lemah dari bulan sebelumnya.

Pengamat menafsirkannya berbeda. Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menilai IKI perlu dibaca bersama PMI dan indeks keyakinan konsumen agar gambarannya utuh (Bisnis.com, 3 Agustus 2026). Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengaitkan PMI Juni 46,9 dengan lemahnya permintaan dan produksi di industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan keramik (Bisnis.com, 5 Agustus 2026).

Tiga Tekanan yang Akan Diuji di Kuartal IV

Tekanan pertama datang dari biaya. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut perang Amerika Serikat dan Iran pecah pada akhir Februari 2026 (DDTC, 5 Agustus 2026). S&P Global mencatat kenaikan biaya input terbesar sejak April 2022 pada April, dan inflasi biaya tertinggi kedua sejak survei dimulai pada 2011 di Juni (S&P Global, 4 Mei 2026; Bisnis.com, 1 Juli 2026).

Kondisinya belum tenang. Brent ditutup di US$108,75 per barel pada 15 September 2026 (Seruji), lalu turun ke US$101,71 pada 21 September saat harapan penyelesaian diplomatik muncul (FX.co). Rupiah berada di Rp17.855 per dolar AS pada 22 September, melemah 0,78% dari akhir Agustus (Bank Indonesia, dikutip Fortune Indonesia), dan LPEM FEB UI mencatat depresiasi 6,8% sejak awal tahun (Periskop, 23 September 2026).

PDF page 3

Yusuf Rendy Manilet menjelaskan jalurnya: rupiah yang lemah menaikkan harga bahan baku impor dan menekan margin industri yang bergantung pada input impor (Bisnis.com, 5 Agustus 2026). Margin pabrik adalah jalur yang lazim dari biaya bahan baku ke laba emiten manufaktur. Rilis PMI tidak memuat data yang menunjukkan hubungan langsung ke harga saham, jadi pembaca perlu membaca laporan keuangan tiap emiten untuk melihat siapa yang tertekan.

Tekanan kedua datang dari bunga. The Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 3,75% sampai 4,00% pada 16 September 2026, kenaikan pertama sejak Juli 2023 (Kompas.com, 17 September 2026). Median proyeksi pejabatnya untuk akhir tahun naik ke 4,1%, yang berarti setidaknya satu kenaikan lagi (FX.co).

Bank Indonesia menahan BI Rate di 5,75% pada 23 September 2026, ketiga kalinya berturut-turut, demi menjaga rupiah. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli (Bisnis.com, 23 September 2026). Ekonom terbelah soal langkah berikutnya: dalam survei BIG Consensus Insights, 12 dari 14 ekonom memperkirakan BI menahan bunga dan dua memperkirakan kenaikan 25 basis poin (Bisnis.com). ANTARA melaporkan kenaikan masih mungkin terjadi pada akhir tahun atau awal 2027 bila tekanan eksternal memburuk, sementara Bisnis.com menulis BI masih melihat ruang penurunan bunga bila stabilitas terjaga.

Tekanan ketiga datang dari daya beli. Indeks Keyakinan Konsumen Agustus 2026 naik ke 118,5 dari 116,8 pada Juli (Survei Konsumen Bank Indonesia). Survei penjualan eceran BI yang sama-sama terbit awal September memprakirakan indeks penjualan riil Agustus tumbuh 0,5% secara tahunan, melambat dari 1,1% pada Juli, dan turun 0,1% secara bulanan (Antara, 10 September 2026).

Dalam survei konsumen yang sama, porsi pendapatan yang dibelanjakan naik ke 74,2% dari 72,7%, sedangkan porsi yang ditabung turun ke 15,8% dari 16,8%. Indeks pembelian barang tahan lama hanya berada di level optimistis pada kelompok pengeluaran di atas Rp3,1 juta. Sementara itu, 53.490 pekerja melaporkan PHK lewat program Jaminan Kehilangan Pekerjaan pada Januari sampai Agustus 2026 (Kemnaker, dikutip Suara.com, 25 September 2026).

Kemnaker mengingatkan angka enam bulan terakhir masih diperbarui dan belum bisa dibandingkan langsung antarperiode publikasi. Data itu belum menunjukkan berapa yang berasal dari manufaktur. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan penciptaan lapangan kerja secara keseluruhan masih lebih besar.

PDF page 4

Dua Arah Pembacaan untuk Kuartal IV

Pembacaan yang optimistis bertumpu pada arah perubahan: pesanan baru kembali naik, pembelian bahan baku berhenti turun, kepercayaan usaha di titik tertinggi tujuh bulan, dan tekanan harga mereda. Kawasan ikut menopang. PMI Manufaktur ASEAN dari S&P Global tercatat 52,3 pada Agustus (Juli: 52,8), dan PMI manufaktur China versi RatingDog 51,5 (IndexBox, September 2026). Permintaan regional masih ada, dan Indonesia tertinggal dari kawasannya. Bila pesanan bertahan di atas 50 dan biaya mereda, PMI bisa kembali ke atas 50 seperti pada Juli.

Yang bisa membuat pembacaan ini salah:

  • Kenaikan pesanan bisa berupa belanja antisipasi. Pada April pesanan baru naik tipis, tetapi Kontan mencatat penyebabnya pembelian lebih awal untuk mengantisipasi kenaikan harga dan gangguan pasokan, dan PMI tetap turun ke 49,1.
  • Pesanan ekspor belum pulih. S&P Global mencatat pesanan ekspor baru turun tajam untuk bulan kelima berturut-turut pada Juli, sementara IKI kelompok berorientasi ekspor Agustus masih 53,09. Dua sumber itu belum sejalan.
  • Biaya masih tinggi. Brent di atas US$100 dan rupiah di Rp17.855 per dolar AS menjaga biaya impor tetap mahal, dan The Fed memberi sinyal kenaikan lagi.
  • Konsumsi belum kuat. Penjualan eceran Agustus diprakirakan hanya tumbuh 0,5% secara tahunan, dan rasio tabungan rumah tangga turun.

Pembacaan pesimistis juga punya lawan. IKI masih 52,30, 22 dari 23 subsektor berekspansi, dan industri pengolahan tumbuh 4,52% pada kuartal II. Kemenperin menilai angka Agustus menunjukkan pelaku industri masih melihat prospek pasar yang cukup baik ke depan (IDXChannel, 1 September 2026).

Yang Belum Bisa Dijawab dari Data Agustus

Satu bulan di 49,8, selisih 0,2 poin dari ambang, belum cukup untuk menyatakan pemulihan gagal. Satu bulan di 50,2 pada Juli juga belum cukup untuk menyatakan pemulihan berjalan. Sejak Maret, indeks berkisar di sekitar 50 dengan satu jurang pada Juni.

PDF page 5

Belum ada data publik yang memadai untuk memisahkan kenaikan pesanan Agustus yang berasal dari permintaan akhir dari belanja antisipasi, karena S&P Global tidak membuka subindeks secara gratis. Per 28 September 2026, PMI September belum dirilis. Trading Economics memproyeksikan PMI 50,3 di akhir kuartal ini, keluaran model yang memadukan model makro dan ekspektasi analis, bukan hasil survei.

Yang perlu dipantau:

  • Kamis, 1 Oktober 2026 pukul 07.30 WIB: PMI September dari S&P Global. Baca juga kalimat tentang pesanan baru, pesanan ekspor, dan tenaga kerja di rilisnya, bukan hanya angka utamanya.
  • Hari yang sama: neraca perdagangan dan inflasi September dari BPS (CNBC Indonesia). Inflasi Agustus 3,19% menjadi pembanding, dan data ekspor menjadi bahan uji untuk IKI kelompok ekspor.
  • IKI September dari Kemenperin, yang untuk Agustus dirilis 31 Agustus. Indeks persediaan produk (46,02 pada Agustus) menunjukkan apakah penumpukan stok mereda.
  • Rupiah dan Brent sebagai penentu biaya input: Rp17.855 per dolar AS (22 September) dan US$101,71 per barel (21 September) menjadi titik acuan.
  • Rapat BI dan FOMC berikutnya, serta pembaruan data PHK Kemnaker yang masih direvisi untuk enam bulan ke belakang.

Referensi & Resources:

  • S&P Global, Indonesia Manufacturing PMI, rilis Juli 2026 (3 Agustus 2026): pmi.spglobal.com
  • S&P Global, Indonesia Manufacturing PMI, rilis April 2026 (4 Mei 2026): pmi.spglobal.com
  • S&P Global, ASEAN Manufacturing PMI (metodologi indeks difusi): pmi.spglobal.com
  • Trading Economics, Indonesia Manufacturing PMI (ringkasan rilis S&P Global, proyeksi 50,3): tradingeconomics.com
  • Trading Economics, PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026 (53,8): id.tradingeconomics.com
  • FXStreet Indonesia, PMI Manufaktur S&P Global Indonesia Agustus 2026 (1 September 2026): fxstreet-id.com
  • Periskop, PMI Manufaktur RI Turun ke 49,8 (1 September 2026): periskop.id
  • IDXChannel, PMI Manufaktur Agustus 2026 Turun ke 49,8, Kemenperin Ungkap Penyebabnya (1 September 2026): idxchannel.com
  • Kontan, PMI April 2026 Turun ke 49,1 (4 Mei 2026): nasional.kontan.co.id
  • Kontan, PMI Manufaktur Juni 2026 46,9 (1 Juli 2026): nasional.kontan.co.id
  • Bisnis.com, PMI Manufaktur RI Turun ke 46,9 pada Juni 2026 (1 Juli 2026): ekonomi.bisnis.com
  • Antara, Kemenperin catat Indeks Kepercayaan Industri Agustus ekspansi di 52,30 (31 Agustus 2026): antaranews.com
  • Liputan6, Indeks Kepercayaan Industri Turun, Kemenperin: Masih Ekspansi (31 Agustus 2026): liputan6.com
  • Bisnis.com, IKI Agustus 2026 Melambat, Pelaku Industri Masih Wait and See (1 September 2026): ekonomi.bisnis.com
  • DDTC, BPS: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II/2026 Capai 5,29% (5 Agustus 2026): news.ddtc.co.id
  • CNBC Indonesia, Membedah Fakta Pertumbuhan Ekonomi RI di Kuartal II-2026 (12 Agustus 2026): cnbcindonesia.com
  • Bisnis.com, Brief Insight: PMI Kembali Ekspansi, Kenapa Pemulihan Manufaktur RI Belum Solid (3 Agustus 2026): ekonomi.bisnis.com
  • Bisnis.com, Ekonom Core Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Tak Sampai 5% (5 Agustus 2026): ekonomi.bisnis.com
  • Seruji, The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps (Brent 15 September 2026): seruji.co.id
  • FX.co, Pasar meragukan kelanjutan kenaikan suku bunga The Fed (Brent 21 September 2026): fx.co
  • Kompas.com, The Fed Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin, Jadi 3,75-4 Persen (17 September 2026): money.kompas.com
  • Bisnis.com, Alasan Bank Indonesia Tahan BI Rate September 2026 di 5,75% (23 September 2026): finansial.bisnis.com
  • Bisnis.com, Bank Indonesia Tahan BI Rate 5,75% di Era Suku Bunga Tinggi (survei BIG Consensus Insights, 23 September 2026): finansial.bisnis.com
  • Bisnis.com, BI Rate Ditahan, Stabilitas Rupiah Jadi Prioritas (24 September 2026): finansial.bisnis.com
  • Fortune Indonesia, BI-Rate Tetap 5,75 Persen pada September 2026 (rupiah 22 September 2026): fortuneidn.com
  • ANTARA, BI-Rate diprediksi tetap di RDG September, berpeluang naik akhir tahun: antaranews.com
  • Periskop, BI Diprediksi Tahan Suku Bunga 5,75% (LPEM FEB UI, 23 September 2026): periskop.id
  • Bank Indonesia, Survei Konsumen Agustus 2026: bi.go.id
  • ANTARA, BI prakirakan kinerja penjualan eceran pada Agustus 2026 tetap tumbuh (10 September 2026): antaranews.com
  • Suara.com, PHK Tembus 53.490 Orang hingga Agustus 2026, Airlangga: Lapangan Kerja Masih Lebih Besar (25 September 2026): suara.com
  • Satudata Kemnaker, data PHK melalui sistem JKP: satudata.kemnaker.go.id
  • IndexBox, Asia Manufacturing PMI August 2026 (ASEAN 52,3 dan China 51,5): indexbox.io
  • CNBC Indonesia, Pasar RI Siaga! Data Ekonomi Raksasa Rilis Pekan Depan (25 September 2026): cnbcindonesia.com

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kebijakan Ekonomi Nasional: