Risalah The Fed: Mayoritas Pejabat Lihat Kenaikan Bunga Lagi

Seluruh 19 pejabat The Fed mendukung kenaikan ke 3,75%-4%, dan sebagian besar melihat kenaikan lagi sebelum akhir tahun. Apa dampaknya ke rupiah?

#thefed #sukubunga #rupiah #bankindonesia #makro

Kreator Moco
6 menit baca
Memuat gambar...
Risalah The Fed: Mayoritas Pejabat Lihat Kenaikan Bunga Lagi

Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 15-16 September 2026, yang dirilis di Washington pada Rabu, 7 Oktober 2026, menunjukkan seluruh 19 pejabat Federal Reserve (The Fed) mendukung keputusan menaikkan suku bunga acuan. Kenaikannya 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%, yang pertama sejak Juli 2023 (Bloomberg Technoz).

Kalimat yang paling banyak dibaca pelaku pasar ada di bagian lain risalah: sebagian besar peserta rapat menilai kenaikan lagi kemungkinan tepat dilakukan sebelum akhir tahun. Di Jakarta, Bank Indonesia (BI) sudah menahan BI Rate di 5,75% pada 23 September 2026, saat rupiah berada di Rp17.855 per dolar AS. Artikel ini membaca apa yang tertulis dalam risalah, jalurnya ke pasar Indonesia, dan di mana para ekonom berbeda pendapat.

Beberapa istilah dulu. Risalah adalah catatan jalannya diskusi rapat yang dipublikasikan beberapa pekan setelah keputusan. Basis poin adalah satuan 0,01%, jadi 25 basis poin sama dengan 0,25 poin persentase. Federal funds rate adalah suku bunga acuan The Fed yang menjadi patokan bunga dolar AS.

Isi Risalah: Dukungan Penuh dan Sinyal Kenaikan Berikutnya

PDF page 1

Menurut laporan Bloomberg Technoz, banyak pejabat menilai kenaikan bunga diperlukan untuk mengantisipasi risiko tekanan inflasi yang makin kuat. Kelompok pejabat lain berpendapat bunga yang lebih tinggi dibutuhkan berdasarkan prospek ekonomi mereka sendiri, yang memperlihatkan kekhawatiran lebih besar terhadap inflasi tinggi.

Para pemilih FOMC mengambil keputusan September secara bulat. Kenaikan itu datang saat perekonomian AS menunjukkan tanda-tanda menguat kembali. Risalah memakai kata "kemungkinan" untuk kenaikan berikutnya, jadi isinya penilaian peserta rapat, bukan keputusan.

Ada batas yang perlu dinyatakan. Laporan yang menjadi rujukan tidak merinci berapa peserta yang dimaksud dengan "sebagian besar", dan tidak menyebut angka inflasi AS yang menjadi dasar kekhawatiran itu. Pembaca yang ingin teks lengkapnya bisa membuka situs resmi The Fed (federalreserve.gov), termasuk kalender rapat FOMC berikutnya.

Jalur Bunga AS ke Rupiah dan Pasar Modal Indonesia

PDF page 2

Mekanismenya dimulai dari selisih imbal hasil. Bila bunga dolar naik, aset berdenominasi dolar jadi lebih menarik, dan sebagian dana investor global bisa keluar dari pasar negara berkembang. Arus keluar menekan rupiah, dan rupiah yang lemah menaikkan beban emiten yang punya utang atau bahan baku dalam dolar. Ini jalur umum, bukan pengukuran atas kasus September 2026.

Data terdekat yang tersedia menunjukkan tekanan yang nyata namun belum seragam:

Tanggal Data Sumber
22 September 2026 Rupiah Rp17.855 per dolar AS, melemah 0,78% dari akhir Agustus BI, dikutip Fortune Indonesia
Hingga 21 September 2026 Investasi portofolio asing triwulan III net masuk 400 juta dolar AS BI, dikutip Fortune Indonesia
Juli 2026 Neraca dagang surplus 121,9 juta dolar AS, dari defisit 450,5 juta dolar AS di Juni LPEM FEB UI, dikutip Republika

Dana asing masih tercatat masuk sepanjang triwulan III, walau rupiah melemah. Artinya, tekanan pada kurs tidak otomatis berarti arus modal keluar. Korelasi antara keputusan The Fed dan pergerakan rupiah juga tidak berjalan lurus, karena kurs dipengaruhi pula oleh neraca dagang, ekspektasi inflasi, dan faktor geopolitik.

Respons Bank Indonesia dan Perbedaan Pandangan Ekonom

PDF page 3

Rapat Dewan Gubernur BI pada 22-23 September 2026 mempertahankan BI Rate di 5,75%, Deposit Facility di 4,75%, dan Lending Facility di 6,50%. Menurut ulasan Ajaib, ini keputusan tahan keempat berturut-turut. Gubernur BI Destry Damayanti mengaitkan keputusan itu dengan strategi stabilisasi nilai tukar di tengah tekanan eksternal, dengan sasaran inflasi 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027. BI juga menyebut penguatan insentif untuk menarik aliran modal asing.

Sebelumnya, menurut Gotrade News, BI menaikkan BI Rate secara kumulatif 100 basis poin pada Mei sampai Juni 2026. Ekonom berbeda pendapat tentang langkah berikutnya:

  • Josua Pardede dari Bank Permata, dikutip Bisnis.com, memperkirakan BI menahan bunga. Ia menilai BI sudah mengetatkan lebih awal, dan kenaikan lagi berisiko menjadi pengetatan berlebihan.
  • Seorang ekonom lain yang dikutip Bisnis.com pada hari yang sama menilai kenaikan 25 basis poin langkah rasional, mengingat tekanan pada rupiah dan inflasi dalam sebulan terakhir.
  • LPEM FEB UI menyarankan BI menahan di 5,75% pada September, dengan kenaikan lanjutan tetap menjadi opsi akhir tahun bila kondisi eksternal memburuk.
  • Menurut ANTARA yang dikutip Gotrade News, Faisal Rachman dari PermataBank memperkirakan BI Rate naik ke 6,00% pada akhir 2026, sedangkan Irman Faiz dari Bank Danamon mempertahankan proyeksi hingga 6,25%.

Perbedaan itu wajar. Semuanya membaca data yang sama, tetapi menimbang berbeda antara biaya kredit sektor riil dan risiko pelemahan rupiah.

Risiko Dua Arah: Apa yang Bisa Membuat Pembacaan Ini Salah

PDF page 4

Tesisnya: sinyal kenaikan lagi dari The Fed menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, dan membuat ruang BI untuk melonggarkan bunga makin sempit.

Yang bisa membuat pembacaan ini salah:

  • Risalah menggambarkan penilaian peserta, dan data ekonomi AS berikutnya bisa mengubahnya sebelum rapat Desember.
  • Arus portofolio asing triwulan III masih net masuk dan neraca dagang Juli kembali surplus, dua hal yang meredam tekanan kurs.
  • BI punya instrumen selain bunga, seperti insentif untuk menarik modal asing dan pendalaman pasar valas, sehingga kurs tidak sepenuhnya bergantung pada BI Rate.

Skenario sebaliknya juga harus dihitung. Bila The Fed menaikkan lagi dan rupiah terus melemah, BI bisa terdorong menaikkan bunga. Ekonom yang dikutip Bisnis.com mengingatkan bahwa langkah itu menambah beban sektor riil. Sementara proyeksi rupiah di sekitar Rp17.963 per dolar AS pada akhir 2026, yang dikutip Gotrade News, hanyalah satu perkiraan dan bergantung pada asumsi penyusunnya.

Yang Perlu Dipantau

PDF page 5

Ringkasnya, tiga fakta menjadi dasar tulisan ini: dukungan penuh 19 pejabat atas kenaikan ke 3,75%-4%, penilaian sebagian besar peserta bahwa kenaikan lagi mungkin tepat sebelum akhir tahun, dan keputusan BI menahan 5,75% saat rupiah di Rp17.855. Belum ada data publik yang memadai di bahan ini untuk menilai seberapa jauh kenaikan The Fed sudah tercermin di harga aset Indonesia.

Yang perlu dipantau: kalender rapat FOMC berikutnya di federalreserve.gov, jadwal bulanan Rapat Dewan Gubernur BI di bi.go.id, rilis inflasi bulanan Badan Pusat Statistik (bps.go.id), serta data aliran portofolio asing dan kurs rupiah dari BI. Angka rujukan awalnya: rupiah Rp17.855 dan net masuk portofolio asing 400 juta dolar AS per 22 dan 21 September 2026.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kebijakan Ekonomi Nasional: