Rights Issue VKTR Rp3 Triliun: Ekspansi EV atau Risiko Dilusi 25,53%?

VKTR menerbitkan 15 miliar saham baru di Rp200, jauh di bawah harga pasar. Siapa yang menyerap selisihnya, dan ke mana Rp3 triliun itu mengalir?

#vktr #rightsissue #kendaraanlistrik #idx

EmitenVKTR
Kreator Moco
11 menit baca
Memuat gambar...
Rights Issue VKTR Rp3 Triliun: Ekspansi EV atau Risiko Dilusi 25,53%?

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) mengantongi pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan pada 28 September 2026 untuk rights issue pertamanya. Emiten kendaraan listrik Grup Bakrie ini akan menerbitkan paling banyak 15 miliar saham baru di harga pelaksanaan Rp200 per saham, dengan potensi dana Rp3 triliun (keterbukaan informasi BEI 29 September 2026, dikutip Katadata dan IDN Financials).

Pada hari yang sama, saham VKTR ditutup di Rp830, naik 7,79%, menurut riset harian BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip Investor.id. Harga tebus Rp200 berarti diskon sekitar 76% dari harga pasar itu.

Angka dilusi 25,53% yang ramai dikutip hanya menjawab satu hal: seberapa besar porsi kepemilikan menyusut bila hak tebus tidak dipakai. Bagi pemegang saham ritel, ada dua pertanyaan lain yang lebih menentukan. Berapa nilai yang hilang bila hak itu dibiarkan hangus, dan siapa yang akhirnya memegang saham murah itu bila publik tidak menebus? Jawabannya ada di struktur penawaran ini.

Struktur penawaran dan jadwalnya

VKTR menetapkan rasio 35:12. Setiap pemegang 35 saham yang tercatat pada Daftar Pemegang Saham (DPS) 8 Oktober 2026 pukul 16.15 WIB memperoleh 12 HMETD (hak memesan efek terlebih dahulu), dan satu HMETD bisa ditukar dengan satu saham baru seharga Rp200 (Katadata, 29 September 2026). HMETD ini bisa ditebus, dijual di bursa selama masa perdagangannya, atau dibiarkan hangus.

Tahapan Tanggal
Pernyataan efektif OJK 28 September 2026
Cum HMETD pasar reguler dan negosiasi 6 Oktober 2026
Ex HMETD pasar reguler dan negosiasi 7 Oktober 2026
Recording date (DPS) 8 Oktober 2026, 16.15 WIB
Perdagangan dan pelaksanaan HMETD 12-16 Oktober dan 19-23 Oktober 2026

Sumber: EmitenNews dan IDN Financials, mengutip keterbukaan informasi 29 September 2026. Satu media, VIVA, menulis tanggal DPS 8 September 2026. Tanggal itu jatuh sebelum pernyataan efektif OJK, jadi tidak cocok dengan urutan jadwal; sumber lain seragam menyebut 8 Oktober.

Dari rasio dan jumlah saham baru, jumlah saham VKTR sebelum rights issue bisa dihitung, sekitar 43,75 miliar lembar (15 miliar × 35/12). Setelah rights issue penuh, totalnya 58,75 miliar. Lima belas miliar dibagi 58,75 miliar menghasilkan 25,53%, angka dilusi maksimal yang disebut manajemen.

PDF page 1

Rencana ini sempat berubah beberapa kali. Pada 10 April 2026 VKTR mengumumkan rencana 21,87 miliar saham baru dengan dilusi maksimal 33,33% (Kontan). Dua minggu kemudian jumlahnya dinaikkan jadi 25 miliar saham dengan dilusi 36,36% (Ajaib), lalu prospektus ringkas 3 Juni menyebut rasio 7:4 dan menargetkan perdagangan HMETD pada 3-7 Agustus 2026 (Ipotnews). Versi final lebih kecil, 15 miliar saham, dan jadwalnya mundur ke Oktober. Pada 22 Juli, Direktur VKTR Indah Saugi menyebut proses di OJK sudah masuk registrasi kedua (Investortrust).

Dilusi kepemilikan dan dilusi nilai adalah dua hitungan berbeda

Angka 25,53% mengukur porsi kepemilikan. Kerugian nilai bagi pemegang saham yang pasif dihitung lewat TERP (theoretical ex-rights price), yaitu harga teoretis saham setelah hak tebus dipisahkan. Rumusnya: (35 × harga pasar + 12 × Rp200) dibagi 47.

Dengan harga penutupan Rp830 per 29 September 2026, TERP-nya sekitar Rp669. Nilai teoretis satu HMETD adalah selisihnya dengan harga tebus, sekitar Rp469. Berikut ilustrasi untuk pemegang 3.500 saham (35 lot), yang nilai posisinya Rp2.905.000 sebelum ex date:

Pilihan Saham setelahnya Kas keluar/masuk Nilai teoretis total
Menebus 1.200 HMETD 4.700 keluar Rp240.000 sekitar Rp3.144.300
Menjual 1.200 HMETD 3.500 masuk sekitar Rp562.800 sekitar Rp2.904.300
Membiarkan HMETD hangus 3.500 nol sekitar Rp2.341.500

Baris terakhir yang perlu diperhatikan. Pemegang saham yang tidak menebus dan tidak menjual haknya kehilangan sekitar 19,4% nilai posisinya secara teoretis. Karena harga tebusnya jauh di bawah pasar, HMETD ini bernilai besar, dan membiarkannya hangus sama dengan memberikan nilai itu kepada pihak yang menebus.

Dua catatan untuk hitungan ini. Pertama, TERP hanya harga teoretis; harga saham dan harga HMETD di pasar sering menyimpang jauh darinya, terutama pada saham dengan volatilitas tinggi. Kedua, angka Rp830 berasal dari riset BRI Danareksa, sementara riwayat harga harian di Investing.com untuk tanggal yang sama menampilkan angka berbeda. Pembaca sebaiknya mencocokkannya dengan data resmi di idx.co.id sebelum menghitung ulang.

Dari sisi nilai buku, gambarannya justru berlawanan. Ekuitas total VKTR per 30 Juni 2026 tercatat Rp1.260 miliar (Kompas), atau sekitar Rp28,8 per saham, termasuk porsi kepentingan nonpengendali. Pada Rp830, rasio harga terhadap nilai buku (PBV) sekitar 29 kali. Bila Rp3 triliun masuk penuh, ekuitas per saham naik ke sekitar Rp72,5 sebelum biaya emisi, karena harga tebus Rp200 hampir tujuh kali nilai buku per saham lama. Pada TERP Rp669, PBV turun ke kisaran 9 kali.

PDF page 2

Siapa yang menyerap saham di Rp200

Per akhir Agustus 2026, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) memegang 24,41% saham VKTR, disusul PT Bakrie Metal Industries dengan 21,06% (IDN Financials). BNBR menyatakan tidak akan menebus HMETD-nya dan mengalihkan seluruh hak itu kepada PT Bakrie Capital Indonesia (BCI). BCI akan menebus 3,66 miliar saham senilai Rp732,13 miliar.

Sisa 11,34 miliar saham dijamin dua pembeli siaga. BCI siap menyerap paling banyak 3,08 miliar saham senilai Rp617,87 miliar, dan PT Biofuel Indo Sumatra (BIS) paling banyak 8,25 miliar saham senilai Rp1,65 triliun (Katadata). Dengan skema ini, dana Rp3 triliun dipastikan terkumpul penuh, poin yang ditekankan Direktur Utama VKTR A. Ardiansyah Bakrie dalam keterbukaan informasinya (Investortrust).

Status BIS digambarkan berbeda oleh sumber yang ada. IDN Financials menyebut BIS sebagai anak usaha BCI, sementara edisi berbahasa Inggris Investortrust menyebutnya mitra swasta. Pada Mei 2022, CNBC Indonesia melaporkan BIS masuk sebagai pemegang lebih dari 5% saham BNBR dan menyebutnya terafiliasi dengan Grup Bakrie. Hubungan pastinya perlu dicek di prospektus.

Untuk memahami taruhannya, ambil skenario ekstrem: tidak ada pemegang saham lain yang menebus, sehingga BCI dan pembeli siaga mengambil seluruh 15 miliar saham.

Pihak Porsi sebelum Porsi setelah (skenario ekstrem)
BNBR 24,41% sekitar 18,2%
BCI belum tercatat di data sekitar 11,5%
BIS belum tercatat di data sekitar 14,0%
Gabungan tiga pihak 24,41% sekitar 43,7%

Perhitungan penulis dari angka keterbukaan informasi; porsi pemegang saham lain turun proporsional.

Skenario ini bisa dibaca dari dua arah. Pembacaan pertama: kelompok pengendali menyetor uang tunai hingga Rp3 triliun di harga yang jauh di atas nilai buku, sesuatu yang tidak wajib mereka lakukan. Pembacaan kedua: kelompok yang sama menambah kepemilikan di harga yang 76% lebih murah dari harga pasar, dan porsinya membesar persis sebanyak hak yang tidak dipakai publik.

PDF page 3

Ke mana dana mengalir, dan apa yang akan terlihat di laporan keuangan

Sebanyak 66,86% dana bersih, kira-kira Rp2 triliun sebelum biaya emisi, akan disetor sebagai modal ke anak usaha PT Sarana Ekomobilitas Indonesia (SEI). SEI memakainya untuk membeli kendaraan listrik dari VKTR sepanjang 2026-2027 dalam program e-MaaS (mobility as a service), yaitu penyewaan bus dan truk listrik bagi perusahaan yang belum mau membeli armada sendiri (Detik, mengutip Mega Capital Sekuritas; IDN Financials).

Salah satu rencana awalnya adalah penyediaan sekitar 200 truk listrik untuk PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Menurut Katadata, di antara calon pelanggan yang disebut, hanya DEWA yang punya hubungan afiliasi dengan VKTR dan SEI. Kendaraan rakitan lokal (CKD) dibeli dari PT VKTR Sakti Industries berdasarkan perjanjian 30 Januari 2024, sementara kendaraan utuh (CBU) dibeli dari Sinotruk International untuk truk, BYD untuk bus 12 meter, dan Anhui Longe untuk forklift (Rancakmedia, mengutip Katadata). Sisa dana menjadi modal kerja VKTR, termasuk untuk stok bus, truk, transporter, dan forklift listrik.

Ada satu mekanisme akuntansi yang perlu dipahami di sini. SEI adalah anak usaha, dan dalam laporan keuangan konsolidasian, penjualan antarentitas dalam satu grup dihapus (dieliminasi). Artinya, pembelian kendaraan oleh SEI dari VKTR tidak otomatis menambah penjualan konsolidasian. Yang akan muncul adalah pendapatan sewa dari pelanggan SEI, yang biasanya diakui bertahap sepanjang masa kontrak.

Titik berangkatnya bisa dilihat dari laporan semester I 2026. Penjualan bersih VKTR naik 56,17% menjadi Rp646,62 miliar, tetapi Rp533,53 miliar di antaranya berasal dari perdagangan komponen suku cadang dan besi bekas, sedangkan penjualan kendaraan listrik berbasis baterai Rp114,72 miliar atau sekitar 18% (Katadata). Laba usaha melonjak dari Rp807 juta menjadi Rp16,03 miliar, sementara beban keuangan naik dari Rp5,45 miliar menjadi Rp11,88 miliar (Warta Ekonomi).

Laba bersih konsolidasian Rp10,08 miliar, naik 25%. Namun 88,79% dari laba itu mengalir ke kepentingan nonpengendali (Katadata), sehingga laba yang menjadi hak pemegang saham induk hanya Rp1,12 miliar, turun 76,18%, dengan laba per saham Rp0,03 dari sebelumnya Rp0,08 (Bloomberg Technoz). Ini relevan untuk rights issue: bila SEI tidak dimiliki penuh oleh VKTR, sebagian laba e-MaaS nanti juga bisa mengalir ke luar pemegang saham induk. Porsi kepemilikan VKTR di SEI belum tercantum di sumber berita yang tersedia.

Dua pembacaan, dan apa yang bisa membuat masing-masing keliru

PDF page 4

Tesis ekspansi. Pendanaan sudah pasti berkat pembeli siaga, ekuitas bisa naik lebih dari tiga kali lipat dari Rp1,26 triliun, dan skema sewa menjawab hambatan utama adopsi kendaraan listrik komersial, yaitu belanja modal di depan. Ada tanda permintaan: VKTR mengoperasikan 27 bus listrik di Semarang pada 24 September 2026 (Investor.id). Pada 28 Agustus 2026, VKTR, Danantara Investment Management, dan BNBR juga meneken term sheet tidak mengikat untuk pendanaan hingga Rp2 triliun dengan opsi konversi menjadi saham, dengan BNBR sebagai penanggung (IDX Channel).

Yang bisa membuat tesis ini keliru:

  • Pelanggan jangkar pertama yang disebut, DEWA, adalah pihak terafiliasi, jadi permintaan dari luar grup belum teruji pada skala 200 unit.
  • Kendaraan listrik baru menyumbang sekitar 18% penjualan semester I 2026, dan sebagian besar laba konsolidasian mengalir ke nonpengendali.
  • Beban keuangan sudah naik lebih dari dua kali lipat; bisnis sewa armada padat modal dan butuh pendanaan berkelanjutan.

Tesis risiko dilusi. Harga tebus 76% di bawah pasar membuat pemegang saham yang lengah bisa kehilangan hampir seperlima nilai posisinya, sementara pihak yang menyerap sisa saham punya kaitan dengan pengendali. Pendanaan Danantara, bila jadi dan dikonversi, berpotensi menambah jumlah saham lagi dengan harga konversi yang belum ditentukan. Situs analisis Mikirduit mencatat nilai Rp2 triliun itu setara sekitar 158% ekuitas VKTR, dan menilai margin bisnis kendaraan listriknya masih tipis dibanding valuasinya.

Yang bisa membuat tesis ini keliru:

  • Pemegang saham yang menebus atau menjual HMETD tidak kehilangan nilai secara teoretis; dilusi nilai hanya menimpa yang diam.
  • Harga Rp200 hampir tujuh kali nilai buku per saham, sehingga ekuitas per saham justru naik setelah aksi ini.
  • Uji tuntas Danantara, bila berlanjut ke dokumen definitif, menjadi pemeriksaan pihak luar atas rencana bisnis VKTR.

Yang menentukan setelah 23 Oktober

Rp3 triliun hampir pasti terkumpul; yang belum pasti adalah siapa pemegang saham terbesar sesudahnya dan apakah uang itu berubah menjadi pendapatan sewa dari pelanggan di luar grup. Selisih antara harga tebus dan harga pasar yang lebar membuat keputusan atas HMETD, entah ditebus, dijual, atau dibiarkan, punya konsekuensi nilai yang nyata bagi tiap pemegang saham.

Beberapa hal belum bisa dinilai dari data publik yang ada saat ini: porsi kepemilikan VKTR di SEI, tenor dan tarif kontrak sewa dengan DEWA, serta syarat konversi pendanaan Danantara.

PDF page 5

Yang perlu dipantau: tanggal cum 6 Oktober dan recording date 8 Oktober 2026; harga HMETD dibanding TERP selama 12-23 Oktober; laporan hasil pelaksanaan rights issue yang menunjukkan berapa saham diserap BCI dan BIS; laporan keuangan kuartal III 2026, khususnya pendapatan sewa dan porsi laba nonpengendali; serta kabar dokumen definitif dengan Danantara.


Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Kebijakan Ekonomi Nasional: