Risiko Suku Bunga pada Reksa Dana Obligasi dan SBN: Cara Bacanya

BI Rate naik 100 bps sejak Mei 2026 dan harga obligasi ikut tertekan. Reksa dana obligasi dan SBN ritel merasakannya dengan cara yang berbeda.

#edukasiinvestasi #reksadana #obligasi #sbn #sukubunga

Kreator Moco
9 menit baca
Memuat gambar...
Risiko Suku Bunga pada Reksa Dana Obligasi dan SBN: Cara Bacanya

Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat 6,990% pada 1 September 2026 (Investing.com). Bareksa melaporkan angkanya naik ke 7,196% dalam ulasan 29 September 2026. Selisihnya sekitar 21 basis poin (bps), dan 1 bps sama dengan 0,01 poin persentase. Angka sekecil itu terdengar sepele, tetapi bagi pemegang reksa dana obligasi artinya harga surat utang di dalam portofolio ikut bergeser turun.

Latarnya cukup jelas. Menurut Insider Indonesia (28 September 2026), Bank Indonesia menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 bps sejak Mei sampai Juli 2026. Pada 23 September 2026 BI menahan BI Rate di 5,75% untuk ketiga kalinya berturut-turut (CNN Indonesia). Di Amerika Serikat, Fed Funds Rate naik ke 3,75 sampai 4,00% pada September 2026, menurut keterangan BI yang dikutip CNN Indonesia pada hari yang sama.

Reksa dana obligasi dan SBN ritel sama-sama berisi surat utang, tetapi cara keduanya merasakan kenaikan suku bunga tidak sama. Tulisan ini menjelaskan mekanismenya, memperlihatkan data yang bisa dicek, dan menyebut apa yang belum diketahui.

Mengapa Harga Obligasi Turun Saat Suku Bunga Naik

Obligasi membayar kupon tetap. Misalkan sebuah obligasi lama membayar kupon 6,5% per tahun, lalu pemerintah menerbitkan obligasi baru yang imbal hasilnya 7,2%. Tidak ada pembeli yang mau membayar harga penuh untuk kupon 6,5% ketika kupon 7,2% tersedia. Agar laku di pasar sekunder, obligasi lama harus dijual dengan harga lebih rendah sampai imbal hasil efektif bagi pembeli barunya mendekati 7,2%.

Itulah sebabnya yield (imbal hasil yang diterima pembeli bila membeli di harga pasar dan memegang sampai jatuh tempo) dan harga bergerak berlawanan, seperti jungkat-jungkit. Bareksa dalam ulasan 29 September 2026 menyebut hal yang sama: yield SBN naik berarti harga obligasi turun.

PDF page 1

Penurunan harga ini berubah menjadi kerugian nyata hanya bila obligasi dijual sebelum jatuh tempo. Pemegang yang menunggu sampai jatuh tempo tetap menerima kupon dan pokok sesuai janji penerbit. Karena itu, risiko suku bunga paling terasa pada produk yang dinilai ulang setiap hari, dan reksa dana adalah contohnya.

Durasi: Ukuran Kepekaan yang Sering Terlewat

Dua reksa dana obligasi bisa sama-sama berisi surat utang pemerintah, tetapi tidak sama peka terhadap suku bunga. Pembedanya adalah durasi, ukuran rata-rata waktu pengembalian arus kas obligasi, dinyatakan dalam tahun. Sebagai pendekatan kasar, perubahan harga kurang lebih sama dengan durasi dikalikan perubahan yield, dengan arah berlawanan.

Tabel di bawah adalah ilustrasi hitungan dengan pendekatan itu. Angkanya bukan data produk tertentu.

Durasi portofolio Yield naik 0,21 poin Yield naik 1 poin
2 tahun harga turun sekitar 0,4% harga turun sekitar 2%
5 tahun harga turun sekitar 1,05% harga turun sekitar 5%
8 tahun harga turun sekitar 1,7% harga turun sekitar 8%

Pendekatan ini mengabaikan efek lengkung (konveksitas), sehingga untuk pergerakan besar hasilnya meleset. Kegunaannya sederhana: membandingkan kepekaan dua produk sebelum membeli. Durasi biasanya tercantum di fund fact sheet atau bisa ditanyakan ke manajer investasi.

Ada penyeimbang. Kupon yang terus berjalan memberi pemasukan yang menutup sebagian penurunan harga. Bila yield naik pelan, pemegang obligasi bisa mengumpulkan kupon yang lebih tinggi untuk reinvestasi. Bila naiknya cepat, penurunan harga lebih dulu terasa.

PDF page 2

Seperti Apa Risikonya di Reksa Dana Obligasi

Bareksa mencatat, per 25 Mei 2026, rata-rata kinerja sejak awal tahun (year to date, YTD) 65 produk reksa dana pendapatan tetap di platformnya adalah minus 0,73%. Hanya 23 dari 65 produk yang positif. Dalam laporan yang sama, 48 reksa dana pasar uang mencetak rata-rata plus 1,49% dan semuanya positif. Bareksa mengaitkan perbedaan itu dengan kenaikan BI Rate yang menekan obligasi.

Data lain memperlihatkan sebaran hasil yang lebar, bahkan di dalam kelas aset yang sama.

Produk atau ukuran Hasil Periode atau tanggal Sumber
Rata-rata 65 reksa dana pendapatan tetap -0,73% YTD per 25 Mei 2026 Bareksa, 26 Mei 2026
BRI Brawijaya Abadi Pendapatan Tetap -2,93% YTD data Juli 2026 Bareksa, 31 Agustus 2026
BRI Brawijaya Abadi Pendapatan Tetap 10,97% (3 tahun), 22,28% (5 tahun) data Juli 2026 Bareksa, 31 Agustus 2026
Danamas Stabil 6,43% (1 tahun) per 23 Juli 2026 Bareksa, 29 Juli 2026
Indeks Reksa Dana Pendapatan Tetap Bareksa 2,47% (1 tahun) per 23 Juli 2026 Bareksa, 29 Juli 2026

BRI Brawijaya Abadi Pendapatan Tetap menempatkan 98,15% dananya di obligasi pemerintah per Juli 2026, menurut fund fact sheet yang dikutip Bareksa. Portofolio setebal itu membuat pergerakan yield terlihat jelas di nilai aktiva bersih (NAB). Danamas Stabil, yang oleh Bareksa digambarkan berbasis obligasi korporasi, mencatat hasil satu tahun jauh di atas indeks. Data yang tersedia tidak cukup untuk memastikan sebabnya. Komposisi emiten, durasi, dan biaya adalah penjelas yang lazim, tetapi itu dugaan, bukan temuan.

Dua catatan untuk membaca tabel ini. Pertama, Bareksa adalah platform distribusi reksa dana, jadi angkanya sebaiknya diperiksa silang dengan fund fact sheet resmi manajer investasi. Kedua, hasil masa lalu tidak menunjukkan hasil ke depan, dan periode pengukuran yang berbeda tidak bisa dibandingkan langsung.

SBN Ritel: Risiko yang Sama, Cara Merasakannya Berbeda

PDF page 3

SBN ritel dibeli langsung dari pemerintah lewat mitra distribusi, bukan lewat manajer investasi. Contoh yang sedang dibuka adalah Savings Bond Ritel seri SBR015, dengan masa penawaran 28 September sampai 22 Oktober 2026 (DJPPR Kementerian Keuangan, lewat Bareksa dan Kontan).

Keterangan SBR015T2 SBR015T4
Tenor 2 tahun 4 tahun
Kupon awal (minimal) 6,75% per tahun 6,85% per tahun
Pembayaran kupon Bulanan, tanggal 10 Bulanan, tanggal 10

Kupon SBR bersifat mengambang dengan batas bawah (floating with floor). Menurut Sumbarbisnis (28 September 2026), kupon disesuaikan setiap tiga bulan mengikuti BI Rate. Kupon bisa naik bila BI Rate naik, tetapi tidak turun di bawah angka minimal. Pokok dan kuponnya dijamin undang-undang (Finansialinsight, 1 Oktober 2026).

Struktur ini mengubah wujud risiko suku bunganya. Pemegang SBR tidak melihat harga turun-naik di aplikasi, dan kupon mengikuti kenaikan BI Rate. Risiko yang tersisa ada dua. Pertama, risiko biaya peluang: bila yield pasar naik jauh di atas kupon yang terkunci pada saat pembelian, pemegang menerima lebih rendah daripada yang tersedia di tempat lain. Kedua, risiko likuiditas. SBR pada umumnya tidak diperdagangkan di pasar sekunder, berbeda dengan ORI dan SR yang bisa dijual. Jalan keluar sebelum jatuh tempo adalah fasilitas early redemption yang jadwalnya terbatas. Untuk SBR015T4, Sumbarbisnis mencatat jendelanya jatuh pada 30 Oktober sampai 6 November 2028. Ketentuan lengkap sebaiknya dibaca di memorandum informasi resmi DJPPR.

Dua Pembacaan atas Arah Suku Bunga

Tidak ada yang tahu pasti ke mana yield bergerak, dan para pengamat berbeda pendapat.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai belum ada alasan domestik yang kuat bagi BI untuk menaikkan suku bunga lagi pada September, menurut Suara.com (28 September 2026). Insider Indonesia (28 September 2026) menggambarkan keputusan menahan suku bunga itu sebagai jeda taktis, bukan akhir siklus pengetatan. Dalam laporan RDG September 2026, ANTARA juga menautkan berita berjudul BI-Rate diprediksi tetap di September, tetapi berpeluang naik akhir tahun. Bareksa (25 September 2026) mencatat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober menguat, sementara yield obligasi AS tenor 10 tahun sudah 5,235% pada 29 September, tertinggi dalam 19 tahun.

PDF page 4

Sisi lainnya ada pada permintaan domestik. Bareksa (25 September 2026) mencatat yield SBN 10 tahun bertahan sekitar 7% karena arus masuk investor asing Rp2,4 triliun sepanjang September. Mandiri Sekuritas, dalam Bond Market Outlook 3 September 2026 yang dilaporkan Stabilitas.id, memproyeksikan yield 10 tahun melandai ke kisaran 6,8% sampai 7,0% pada akhir 2026. Lembaga itu juga menilai kisaran 7,5% sampai 7,7% sebagai titik masuk menarik bagi investor jangka panjang. Proyeksi tersebut dibuat sebelum yield menyentuh 7,196%, dan itu pandangan satu sekuritas, bukan konsensus.

Risikonya berjalan dua arah. Bila yield turun, harga obligasi naik dan NAB reksa dana ikut terdorong. Bila yield terus naik, tekanan pada harga berlanjut dan pemegang reksa dana menanggung fluktuasi lebih lama. Rupiah yang diperdagangkan di Rp17.970 per dolar AS pada 29 September 2026 (Bareksa) menambah satu variabel lagi, karena tekanan kurs ikut memengaruhi sikap BI.

Batas Pengetahuan dan Hal yang Perlu Dipantau

Kenaikan suku bunga menekan harga obligasi, dan besarnya tekanan ditentukan terutama oleh durasi portofolio. Reksa dana menampakkan tekanan itu setiap hari lewat NAB, sedangkan SBN ritel yang dipegang sampai jatuh tempo menggantinya dengan risiko likuiditas dan biaya peluang.

Beberapa hal belum bisa dijawab dari data yang ada. Durasi tiap reksa dana yang disebut di atas tidak tersedia di sumber yang dikutip. Arah BI Rate dan The Fed sampai akhir tahun masih diperdebatkan. Data kinerja reksa dana berasal dari satu platform distribusi dengan tanggal pengukuran yang berbeda-beda.

Yang perlu dipantau:

PDF page 5
  • Keputusan Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya (jadwal di situs Bank Indonesia) dan apakah BI Rate bergerak dari 5,75%.
  • Keputusan The Fed pada Oktober 2026 dan reaksi yield obligasi AS 10 tahun yang sudah berada di kisaran 5,2%.
  • Hasil penjualan SBR015 yang ditetapkan 26 Oktober 2026, dengan setelmen 28 Oktober 2026.
  • Di fund fact sheet reksa dana obligasi yang dipegang atau dipertimbangkan: durasi, yield to maturity, porsi obligasi pemerintah dan korporasi, serta rasio biaya.

Referensi & Resources:

Kreator Moco

Penulis

Lanjut menelusuri Edukasi & Literasi: